Aneka Bendera Tauhid dan Perpecahan Umat


Peringatan Hari Santri Nasional seharusnya menjadi ajang pemersatu santri khususnya umat Islam di Indonesia. Namun hal itu rasanya tidak terjadi di tahun ini, apalagi setelah aksi pembakaran bendera tauhid yang dulunya sering dipakai Hizbut Tahrir (HT). Aksi pembakaran terjadi di Garut dan dilakukan oleh Banser dari ormas Nahdatul Ulama (NU). tentu saja hal tersebut menuai banyak reaksi dari berbagai kalangan terutama umat Muslim.

Dikutip dari berita CNN, juru bicara Front Pembela Islam (FPI) mengecam tindakan itu dan menyebutnya sebagai tindakan tak beradab. Sementara itu ketua GP Anshar yang dikutip berita VIVA membenarkan aksi tersebut dengan alasan untuk memurnikan kalimat tauhid dari simbol organisasi terlarang yaitu HTI. tidak sedikit juga ada beberapa pihak yang sudah melaporkan aksi ini pada kepolisian Garut. Bahkan gubernur Jawa Barat pun dalam akun Facebooknya menyatakan sangat menyesalkan kejadian ini.

Kejadian tersebut terjadi karena perbedaan pandangan khususnya mengenai kalimat tauhid yang telah dibakar. Memang HT selalu menggunakan bendera tersebut dalam setiap aksinya. HT beralasan bahwa ada hadis yang menyatakan bendera Rasul saw berwarna hitam dan putih bertulis syahadat. Sebagian orang tidak sepakat dengan hal ini dan menganggap kurang bijak karena memang bentuk/font tulisan syahadat itu belum tentu seperti HT sekarang ini. Apalagi dahulu di zaman Nabi saw belum terdapat perkembangan tanda baca dan kaligrafi seperti di zaman setelahnya.

Di pihak lain khususnya NU, menganggap bahwa pembakaran bendera ditujukan pada simbol HT, namun rasanya kurang bijak karena bagaimana pun memang ada tulisan syahadat di dalamnya. Umat muslim sebaiknya hati-hati dalam menggunakannya. Di sisi lain memang inilah risiko yang mesti diterima karena menjadikan simbol agama sebagai simbol golongan tertentu. Sebagaimana kita ketahui, tidak sedikit sekelompok orang, organisasi, negara bahkan kelompok ekstream pun menggunakan simbol keagamaan tauhid

GP Anshar membenarkan aksi pembakaran bendera tauhid ini dan menganalogikannya seperti dibolehkannya membakar Alquran yang sudah rusak sebagaimana yang pernah juga dilakukan di zaman Khulafa Rasyidin. Lebih lanjut GP Anshar bermaksud untuk mensucikan kalimat tauhid yang sudah dirusak oleh HT. Meskipun benar demikian, namun Aksi ini sangatlah kurang bijak jika dilihat dari mudharat yang terjadi setelahnya, yaitu perseteruan di antara umat Muslim. Kejadian ini ternyata malah membuat bertambahnya rasa benci dan sinis beberapa golongan khususnya HT dan NU serta simpatisannya. Aksi ini juga semakin menunjukan perpecahan umat muslim khususnya di Indonesia. Sungguh memalukan rasanya.

Alangkah lebih baik jika hari santri dijadikan momentum untuk mempersatukan umat muslim. Sangat disayangkan aksi semacam ini malah semakin memperuncing kebencian. Jika terus seperti ini, maka umat Muslim juga yang dirugikan. Sebaiknya kita mulai membuka diri dan berbaik sangka pada sesama Muslim lainnya meskipun mereka berada pada golongan atau pendapat yang berbeda. Selain itu kurangilah rasa fanatik golongan, jangan sampai kita terlalu berlebihan membela golongan sendiri sampai-sampai melupakan persatuan umat. Jika masing-masing umat muslim sudah demikian, maka insya Allah persatuan dan kedamaian umat akan tercapai.



sumber: merdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar