Tangis Kurir dan Tawa Rampok

Beberapa hari terakhir, beserta sekian banyak seliweran kabar di media massa baik cetak maupun yang dalam jaringan, bagi saya makin memantapkan sebuah adagium yang memang sudah lama bertengger di benak. Katanya hidup ini  hanya sandiwara. Presiden bersandiwara di pembukaan Asian Games, hingga tudingan bahwa presiden juga bersandiwara di penutupan Asian Games.

Kian hari agaknya kita makin bingung mana yang sandiwara mana yang sungguhan. Seorang pejabat memamerkan kelelahannya lewat unggahan di media sosial, di sana wajahnya nampak lelah dan tertidur. Jelas itu juga sandiwara. Dia tertidur dan diunggahannya itu ia berbicara sebagai dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tertidur dan disaat yang bersamaan mengunggah gambar dirinya yang tertidur? Jelas semuanya sudah ia atur dalam skenario. Tapi ya memang apa salahnya sandiwara?

Kita melayat rekan yang baru saja ditinggal koleganya, jelas kita bersandiwara menunjukkan kesedihan, meski kita tahu bahwa kematian adalah takdir. Tak elok jika kemudian kita katakan pada yang bersangkutan agar tak perlu bersedih bahwa kematian adalah takdir. Secara moril pasti  kita  menunjukkan bahasa tubuh ikut bersedih bahkan secara eksplisit mungkin kita sampaikan turut belasungkawa. Apakah sandiwara  itu salah?

Koruptor yang  tertangkap KPK lalu bersandiwara memakai kopiah memangnya salah? Ya terserah dia juga. Kepala-kepala dia, yang ia bungkus dengan atribut keagamaan juga bukan kepala siapa-siapa, masa iya kita mau larang. Meski jelas kita  juga  tahu bahwa sandiwara yang mereka perankan sangat payah. Berharap orang percaya bahwa mereka orang baik dengan hanya bermodal tutup kepala.

Memang sebaiknya kita bersandiwara, tapi bersandiwaralah secara sungguh-sungguh. Kita tahu bahwa kinerja KPK sudah sesuai dengan Khiththahnya, tapi kita juga tahu bahwa KPK belum bisa disebut berhasil.

Koruptor itu sebagian besar berasal dari kalangan pejabat, sisanya adalah orang-orang yang berkepentingan yang kemudian harus berhadapan dengan para pejabat tersebut. Barang jualannya bermasalah hingga kemudian butuh pelicin agar tetap laku dibeli pemerintah. Dari sana muncul sogok menyogok, suap menyuapi.

Kita juga sama-sama tahu menjadi pejabat butuh modal besar. Bisa ratusan juta bahkan miliyaran kocek yang harus dirogoh dari saku para calon pengguna rompi oranye itu. Modal besar untuk keuntungan yang lebih besar, begitu kata para pebisnis. Kalau kita hitung-hitung gajinya sebagai pejabat itu tak cukup untuk membalikan modal kampanye mereka. Maka logika pura-pura mana yang mau kita gunakan untuk membenarkan profesi politikus?

Saya khawatir jangan-jangan memang korupsi sudah mereka rencanakan jauh-jauh hari bahkan sebelum mereka mantap jadi bagian  dari kompetisi kibul mengibuli rakyat itu. Bahkan yang lebih saya khawatirkan, jangan-jangan memang tujuan menjadi bagian dari roda pemerintahan adalah korupsinya, bukan kerjanya. Maka ada benarnya kata seorang  budayawan: KPK baru bisa disebut berhasil kalau profesi menjadi anggota dewan sepi peminat.

Kasus terakhir di kota Malang membuat  kita geleng-geleng kepala. 41 anggota DPRD-nya tertangkap KPK, kasus suap APBD. Uang 700 juta dibagi-bagi, masing-masing  ada yang dapat 12 juta ada yang dapat 50 juta. Itu untuk satu tahun anggaran, apa jaminannya kalau ditahun-tahun sebelumnya tidak terjadi praktik yang sama? Apa jaminannya kalau di kota lain tidak terjadi kontestasi pura-pura menjijikkan yang sama seperti di Kota Malang itu? Tidak mustahil kalau kasus Malang itu hanya fenomena puncak gunung es.

Sekarang DPRD-nya lumpuh karena hanya menyisakan empat orang di kursi dewan. berarti pemerintahannya  juga bisa disebut pincang, karena dalam teori Trias Politica yang kita anut sebagai teori pembagian kekuasaan, tak bisa berjalan baik karena satu rodanya mogok.

Dilalah, sandiwaranya belum usai, 20 dari 41 orang yang kena ciduk KPK ternyata terdaftar untuk maju lagi jadi kontestan anggota dewan periode berikutnya. Tidak adakah skenario lain yang lebih rapih? Haruskah sekarang pembodohan dan  pembohongan publik itu dikemas dengan  transparan? Apakah masyarakat akan diajarkan untuk menjadi bajingan secara terang-terangan?

Yang saya makin bingung, kok ada yang malah tersenyum dan melambai saat disorot kamera? Setidaknya sandiwaralah sedikit! munculkan wajah murung, tunjukkan bahasa tubuh menyesal. Bukan berlagak seperti orang habis dapat emas Asian Games. Nanti rakyat tak pandai bersandiwara lagi.

Beruntung kemarin saya melihat isyarat bahwa bangsa ini masih ada yang punya rasa malu. Seorang bapak berkaos polo merah dengan kerah hitam. Peci putih hitam menangis begitu menyesalnya, air matanya meleleh dari hati yang remuk redam akibat godam penyesalan meluluhlantahkan keangkuhannya. Tidak ada pembelaan, si bapak menangis, ia tertangkap menjadi kurir narkoba, katanya tergiur bayaran karena anaknya butuh uang. Padahal kalau dibandingkan, upahnya mengantarkan barang  haram itu ke pembeli jelas masih kalah jauh dari apa yang dikorupsi Setnov dan kawan-kawannya. Sedang si bapak menunjukkan  rasa malu, di tempat dan waktu yang berbeda, Setnov tersenyum lebar di kamar palsunya saat disorot kamera.


Orangtua kita mengajarkan untuk tertunduk malu saat kita ketahuan menyontek di sekolah, bukan tersenyum lebar saat disetrap di depan kelas. Bahkan kalau perlu kita dibuat  menangis, meski kita sudah tahu bahwa nilai ulangan pada akhirnya acapkali di katrol guru.

Kita tahu hidup adalah sandiwara, setidaknya lakukanlah dengan sungguh-sungguh sandiwara itu.

sumber gambar: sindonews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar