Silat yang Menyilatkan


Kabar gembira datang dari para atlet cabang olahraga pencak silat dalam perhelatan akbar Asian Games 2018 beberapa waktu lalu. Betapa tidak, mereka berhasil memanen enam medali emas, suatu pencapaian besar yang bukan hanya menggantikan posisi urutan ketiga yang sebelumnya diduduki oleh Iran, melainkan juga membanggakan seluruh masyarakat Indonesia, tak terkecuali Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PB Ikatan Pencak Silat Indonesia, Prabowo Subianto, dua bakal calon presiden yang akan bertarung pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Tetapi tidak ada momentum yang paling menarik seluruh perhatian masyarakat Indonesia, bahkan dunia, selain tindakan Hanifan Yudani—penyumbang medali emas terakhir pada cabang pencak silat—yang secara tiba-tiba memeluk kedua tokoh nasional tersebut sembari membawa bendera Indonesia di punggungnya. Sontak tindakannya mendapat pujian dari berbagai pihak, terlebih di saat sengitnya perselisihan, baik di kalangan elit maupun grassroots terkait kontestasi politik yang merepresentasikan keberpihakannya pada Jokowi maupun Prabowo, di negeri Indonesia.

Maka wajar jika hampir semua headline koran di Indonesia, termasuk Harian Umum Pikiran Rakyat (30/8/2018), memperbincangkan kejadian ini. Bahkan selang satu hari kemudian Ridwan Kamil membagikan ulang foto-foto kreatif, di akun Instagram pribadinya, dari para netizen yang meniru ulah Hanifan tersebut. Dari sini akhirnya muncul interpretasi bahwa apa yang dilakukan oleh Hanifan sebenarnya merupakan pengaktualan suara nurani rakyat yang menghendaki persatuan bangsa, suatu keadaan yang belakangan ini mulai diragukan keberadaannya. 

Apa yang telah dilakukan oleh Hanifan seakan hendak mengembalikan makna sesungguhnya dari kata silat tersebut, yakni mempersatukan. Donn F Draeger dalam bukunya yang berjudul Weapons and Fighting arts of Indonesia mengungkapkan bahwa kata ini pertama kali digunakan pada tahun 1948 untuk menyatukan berbagai aliran seni bela diri nasional yang berkembang di Indonesia. Silat pun sebenarnya merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Arab yakni shilah yang berarti ikatan, tali, atau hubungan. Quraish Shihab mencoba untuk menelusuri sampai ke akarnya dan menemukan bahwa kata ini berasal dari kata washl yang bermakna menyambung dan menghimpun.

Layaknya jembatan yang menyatukan dua buah jalan, makna-makna yang disebut di atas mensyaratkan adanya dua buah objek yang dipertautkan, yang jika tidak dilakukan maka dua objek tersebut akan terputus atau terlepas. Shihab pun mengungkapkan bahwa hanya yang berputus dan terseraklah yang dituju oleh pemaknaan kata shilat tersebut. Senada dengan pengertian ini, meskipun telah disambung dengan kata rahmi—menjadi silaturahmi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti silat tetap memiliki substansi menyatukan, menghubungkan, dan mempertalikan.

Masyarakat Indonesia, khususnya yang masih terjebak pada fanatisme primordial sehingga menyebabkan kebencian kepada pihak yang berbeda, sebagaimana santer terjadi di media sosial, sudah sepatutnya belajar dari seorang Hanifan, atlet pencak silat yang selain berprestasi dalam ajang internasional tetapi juga “menyilatkan” dua belah pihak (Jokowi dan Prabowo) beserta para pendukungnya yang belakangan ini mulai tak mengindahkan nilai-nilai persatuan.

Uniknya, saat ditanya pihak media Hanifan mengungkapkan bahwa tindakannya tersebut dilakukan secara spontan. Jika ini benar, berarti kita dapat menafsirkan kalau kespontanitasan tersebut menandakan fitrah manusia yang memang lebih menyukai persatuan, persahabatan, atau persaudaraan, dan bukan perselisihan atau perpecahan.

sumber gambar: tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar