Refleksi yang Mendalam


Sudah lama saya tidak menulis hal-hal yang sifatnya renungan, mungkin terakhir kali semenjak saya berada di Kampung Inggris dulu. Memang, sebuah renungan mendalam tidaklah bisa didapat secara terus-menerus melainkan hanya bisa keluar di saat-saat yang tak menentu setelah biasanya meluangkan waktu khusus untuk berkontemplasi. 

Ada beberapa hal yang ingin saya katakan di sini, tetapi pada umumnya mungkin lebih berupa kekecewaan saya terhadap manusia, termasuk kepada sebagian umat muslim. 

Yang pertama ialah tentang nilai-nilai keluhuran. Saya belakangan mulai menyadari bahwa kecerdasan, kebijaksanaan, dan kesadaran (awareness/consiousness) merupakan tiga hal yang berbeda. Saya sungguh mengamati bahwa Indonesia tidak kekurangan orang yang cerdas. Tetapi ternyata yang cerdas belum tentu bijaksana, apalagi memiliki level kesadaran spiritual yang baik. Maka saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Haidar Bagir bahwa Rocky Gerung itu belum seorang filsuf meskipun pintar/cerdas, karena bagaimana mungkin ia bisa disebut filsuf kalau kata-kata yang keluar dari mulutnya sering kasar dan bersifat sarkasme (dungu, dll). 

Saya juga mengamati orang-orang pintar, baik itu yang tak saya kenal (belum pernah ditemui secara langsung) maupun yang saya kenal. Di antara mereka ada yang kuliah di kampus-kampus favorit, mengambil S2 di luar negeri, mendapat beasiswa bergengsi, atau bekerja di perusahaan besar. Tetapi saya masih sulit menemukan di antara mereka yang memiliki sikap kebijaksanaan maupun kesadaran spiritual. 

Sebagai contoh sederhana, meskipun tidak ada kewajiban apa pun selain tuntutan moril, seharusnya orang yang pintar bisa menjadi teladan atau bisa berbagi sesuatu yang bermanfaat. Sayangnya yang saya lihat mereka malah lebih sering mem-posting (di media sosialnya) sesuatu yang kurang berfaedah, bahkan cenderung konsumeristik dan hedonis. Termasuk di antaranya dari kalangan para artis yang mana kebanyakan dari adalah orang-orang cerdas (sudah sangat biasa di antara mereka yang kuliah di luar negeri) tetapi sering memberi contoh negatif kepada masyarakat. 

Ini tidak akan terjadi jika kecerdasan yang mereka miliki diiringi dengan kepemilikan kesadaran spiritual, bahwa manusia memiliki misi luhur yang harus dilaksanakan di dunia ini (menebarkan kebermanfaatan, keadilan, keselamatan, kedamaian, cinta kasih, dll, dalam rangka pengabdiannya kepada Tuhan), kecuali kalau mereka menganut paham liberalisme, menjadikan diri sebagi pusat (centre) segala hal. 

Atau orang-orang yang telah diberi kesempatan untuk mendapatkan beasiswa (untungnya saya seumur hidup baru mendapat satu atau dua kali saja dengan nomimal yang juga tidak besar), baik untuk kuliah di dalam maupun luar negeri. Saya yakin, di saat seleksi wawancara mereka sudah sangat merasa yakin sembari memberi janji-janji futuristik bahwa dengan memperoleh beasiswa tersebut maka akan mempermudah mereka membantu mengangkat derajat bangsa. 

Tetapi apa yang terjadi, setelah lulus kuliah, mereka sibuk untuk mengurus karirnya sendiri. Tidak memiliki dampak sosial skala besar atau mungkin dia lupa dengan janjinya dahulu. Meskipun ada juga yang tergerak nuraninya, merasa memiliki beban/tanggung-jawab moril karena telah diberi kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya, maka ia melakukan suatu usaha-usaha pencerdasan anak bangsa. 

Oleh karena itu, saya sering bertanya-tanya, lantas apa bedanya saya—yang tidak mendapat beasiswa—dengan mereka, kalau toh ternyata tidak ada yang istimewa dari para penerima beasiswa, setidaknya dari segi “pemberi kebermanfaatan” kepada masyarakat umum. 

Jadi saya sempat merenung, tidak diterimanya saya saat mengajukan beasiswa mungkin selain karena saya adalah orang bodoh (karena tentu hanya orang pintar saja yang bisa memperolehnya), tidak memiliki jiwa kepemimpinan, atau ilmu yang akan saya geluti tidak terlalu dibutuhkan oleh negara, melainkan juga karena satu hal yang belakangan saya coba untuk berbaik sangka kepada Tuhan, ialah supaya saya tidak memiliki beban moril yang sangat besar yang perlu saya pertanggung jawabkan baik di dunia maupun akhirat. Apalagi saya tetap bisa berkarya atau memberi kebermanfaatan kepada sesama, meskipun masih sangat-sangat sederhana. 

Maka dari dari sejujurnya saya sangat merindukan orang-orang yang bukan cerdas melainkan juga memiliki kebijaksanaan hidup dan kedasaran spiritual yang baik. 

Yang kedua ialah persoalan agama, politik, dan literasi. Dan yang ketiga adalah mengenai aktivis kampus yang mati kutu di dunia real pasca lulus kuliah. Keduanya akan saya paparkan di bagian kedua tulisan ini.  

sumber gambar: plukme.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar