Pembelajaran Qurban di Sekolah


Umumnya praktik penyembelihan hewan kurban hanya dilakukan di masjid dan cuma melibatkan orang-orang dewasa. Kalaupun ada yang melaksanakannya di sekolah, itu pun dengan cara memanfaatkan pegawainya, termasuk para guru. Tidak ada siswa yang turut serta di kegiatan tersebut. Maka wajar jika ketidaksadaran akan pentingnya praktik ini bisa menghambat proses regenerasi yang dampaknya akan membuat mereka tidak mempunyai pemahaman dan pengalaman yang baik perihal seluk-beluk ibadah kurban.

Padahal sekolah seharusnya dapat memberikan bekal yang kaya kepada para siswanya sehingga mereka siap terjun ke dunia nyata (masyarakat). Terlebih, kurikulum 2013 edisi revisi begitu menekankan pembelajaran yang aktual/faktual, konseptual, prinsipil, prosedural, dan metakogntif. Oleh karena itu, penyembelihan hewan kurban perlu digalakkan di sekolah sebagai salah satu program akbarnya yang perlu melibatkan seluruh elemen sekolah termasuk para siswanya.

Meskipun secara eksplisit terkesan eksklusif karena sekadar berhubungan dengan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) saja, tetapi jika sekolah memilik daya kreatif yang tinggi maka mereka akan menemukan terobosan bahwa praktik penyembelihan ini bisa juga didekati oleh beberapa materi pelajaran lainnya. Inilah yang biasa disebut dengan pembelajaran integratif.

Bukan hanya guru PAI, tetapi mulai dari guru mata pelajaran Biologi, Bahasa Indonesia, PKn, Ekonomi, hingga Bahasa Inggris dapat berkontribusi untuk memberikan tugas kepada siswanya sesuai dengan penekanan dan objek ilmunya masing-masing.

Untuk mempermudah, para siswa dapat dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan peran dan tugasnya masing-masing. Sebagai gambaran, guru PAI bisa menugaskan siswanya untuk mencari landasan teori berkurban, mulai dari dalil, pengertian, hukum, syarat hewan yang dikurbankan, tata cara penyembelihan, hingga hikmah yang dapat dipetik.

Selanjutnya, ada kelompok yang mendapat tugas melakukan observasi lapangan hingga membuat laporannya. Jelas, tugas ini berhubungan erat dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Kelompok yang ketiga ialah para praktisi yang dapat dipecah lagi menjadi beberapa bagian seperti penyembelihan, pengulitan, perecahan, pencucian, packing, hingga pembuatan makanan seperti sate atau gulai. Kelompok ini dapat belajar secara langsung mengenai organ-organ hewan ternak (Biologi) dan massa hewan beserta perhitungannya (Fisika). Mereka pun dapat belajar prosedur text mengenai tata cara pembuatan sate dan gulai (Bahasa Inggris). Tidak hanya itu, pembelajaran mengenai ekonomi mikro dan semangat kewarganegaraan pun kental sekali terlihat dalam praktik ini.

Begitu banyak manfaat yang akan mereka dapatkan dari kegiatan kurban ini. Pertama, siswa memperoleh pengalaman yang berharga, yakni turut aktif dalam kegiatan positif sosial kemasyarakatan. Sifat-sifat yang kurang baik seperti cuek atau apatis tereduksi, sebaliknya karakter berani membuka diri, peduli dan empati terhadap sesama tertanam di dalam jiwa mereka.

Kedua, akan terbentuk karakter gotong-royong dan religius, suatu hal berharga yang sangat diharapkan terbentuk dalam diri siswa. Gotong-royong atau kerjasama harus tercipta, sebab tak mungkin ada manusia yang bisa hidup dan menyelesaikan persoalannya sendiri. Adapun religius adalah cerminan penghayatan keagamaan seseorang yang bukan saja perlu tertancap erat dalam hati melainkan harus juga teraktualkan dalam kehidupan sosial.

Ketiga, efektivitas dan efisiensi pembelajaran karena siswa tidak hanya disuguhi oleh begitu banyak teori melainkan mereka langsung diajak untuk mempraktikannya. 

sumber gambar: karawangtoday.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar