Moderasi Islam


Merebaknya aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama Islam tentu telah mencoreng ajaran hakikinya yang tiada lain ialah rahmatan lil alamin yang mana salah satu karakteristik unggulannya ialah sikapnya yang selalu berada di titik moderasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memaknainya sebagai sebuah kecenderungan untuk senantiasa berada di titik tengah di antara dua buah kutub ekstrem.

Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al-Qur’an Jilid II mengungkapkan bahwa eksistensi umat Islam dalam posisi moderat akan membawa mereka tidak hanyut seperti yang dialami oleh para penganut materialisme dan tidak pula terlena di alam ruhani seperti penganut “spiritualisme” yang keberadaannya seringkali tidak lagi berpijak di bumi, melainkan memadukan keduanya ke dalam segala aspek kehidupan sebagaimana yang diilhami dari firman Allah, Carilah melalui apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tapi jangan melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi (QS. Al-Qashash [28]: 77).

Islam menganjurkan pemeluknya untuk meraih materi duniawi, tetapi dengan orientasi ilahiah. Senada dengan itu, Islam sama sekali tidak menghalangi manusia untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, seperti makan, minum, hubungan badan, tetapi dalam melakoninya diharapkan ditata dengan nilai-nilai spiritual. Begitu pun dengan dimensi lainnya, Islam tidak hanya sanggup memuaskan rasio, tetapi juga jiwa dan rasa. Ketika berdoa atau salat, etika terbaik ialah di antara mengeraskan suara dan memelankannya (QS. Al-isra’ [17]: 110).

Bukan tanpa alasan, anjuran untuk selalu bersikap moderasi ini dikarenakan adanya sebuah tugas yang diemban oleh umat Islam untuk dapat menjadi syahid, yakni saksi—sebab posisi moderat bisa membuatnya menyaksikan siapa pun dari arah mana pun—sekaligus disaksikan—oleh umat lain— sebagai role model (QS. Al-Baqarah [2]: 143). Sebagai bentuk konsekuensi logisnya, perlu teraktualkan sifat adil di dalam diri mereka. Bukankah seorang wasit—dalam sebuah pertandingan, yang memiliki kesamaan padanan kata dengan wasath (moderat), harus berlaku adil dan tidak memihak kepada siapa pun? Alquran mengingatkan, Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil (QS. Al-Maidah [5]: 8). Lebih lanjut Shihab menyatakan bahwa sikap moderat mengundang umat Islam untuk berinteraksi, berdialektika, dan bersikap open minded dengan semua hal (agama, budaya, peradaban, perkembangan global, dll).

Aspek ajaran Islam yang serba moderat ini mengandung unsur rabbaniyah dan insaniyah. Yang pertama memiliki maksud bahwa ajarannya benar-benar berasal dari Allah, Tuhan pemelihara alam, bukan dari manusia. Sedangkan yang kedua mengandung arti bahwa tuntunan tersebut ditujukan kepada manusia, oleh karena itu bimbingannya akan melulu selaras dengan fitrah manusia.

Terakhir, kembali merujuk surat Al-Baqarah ayat 143, tersirat dalam kata li takunu (menggunakan kata kerja fi’il mudhari) bahwa ajaran Islam yang moderat akan senantiasa bertarung dengan aneka isme—yang muncul setiap waktu—tetapi pada akhirnya ummatan wasathan (golongan moderat) inilah yang dijadikan rujukan atau saksi tentang kebenaran dan kekeliruan pandangan atau isme-isme tersebut. Wallahu a’lam. []

sumber gambar: geotimes.co.id 

1 komentar: