Menyoal Istilah Ulama



Dunia perpolitikan kita memang selalu diliputi oleh kehebohan dan kekontroversian, apalagi jika telah dihubung-hubungkan dengan agama. Kali ini datang dari seorang seorang politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid, yang menempelkan gelar ulama kepada Sandiaga Salahuddin Uno. Sontak saja pernyataan ini menimbulkan keriuhan, utamanya di media sosial. Akhirnya pro dan kontro tak bisa dihindarkan. 

Kubu pro, yang tentu saja memiliki kecenderungan keberpihakan kepada partai politik pengusung Prabowo-Uno, sangat setuju dengan Wahid. Menurut mereka Sandiaga Uno memang pantas untuk disebut sebagai ulama karena predikat tersebut tidak harus melulu disematkan kepada kalangan yang mendalami ilmu agama—Islam. Dan demi meyakinkan masyarakat, Wahid pun mengutarakan bahwa pendapatnya tersebut memang selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Alquran surat Asy-Syu’ara ayat 197 dan Al-Fatir ayat 28. Menurutnya dua ayat ini tidak mengindikasikan bahwa redaksi ulama hanya teruntuk orang yang ahli ilmu keagamaan, alih-alih subjek yang disebut dari kedua surat tersebut ialah para sejarawan dan saintis (ahli ilmu alam). 

Merasa tersudutkan, kubu kontra akhirnya mencoba mencari-cari pembenarannya sendiri. Adalah Husein Muhammad, kiai asal Cirebon yang juga alumni Universitas Al-Azhar Kairo, didesak untuk memberikan “perlawanan” atas pernyataan Wahid. Karena mendapat banyak desakan, ia pun kemudian membuat tulisan singkat perihal pengertian ulama. Di akun Facebook pribadinya, ia mengungkapkan bahwa ulama terambil dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari alim yang secara literal berarti orang-orang berilmu. Betapapun, Alquran memberikan banyak sinonimitas terhadap kata tersebut, di antaranya ulul ilmi (yang mempunyai ilmu), ulul albab (yang mempunyai hati/pengetahuan inti), ulil abshar (yang mempunyai pengetahuan), ulin nuha (yang mempunyai akal sehat), dan ahlul dzikir (yang selalu mengingat Tuhan). 

Dalam penjabarannya, setelah mengutip sebuah hadis perihal ulama ialah para pewaris nabi dan predikat-predikat penghormatan untuknya, kiai feminis ini kemudian menukil kitab Nashaih al-Diniyyah karya Habib Abdullah Al-Haddad mengenai indikator karakter ulama, seperti memiliki pembawaan yang tenang, tidak sombong, tidak berambisi pada kemegahan dan kemewahan, lembut hatinya, suka bersedekah, tidak suka menumpuk-numpuk harta, dan lain sebagainya. Untuk memperkuat, dia pun mengutip perkataan Imam Al-Ghazali bahwa seseorang yang pantas disebut ulama apabila makanan, pakaian, tempat tinggal, dan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan duniawinya sederhana, tidak bermewah-mewahan dan juga tidak berlebihan dalam kenikmatan. Meskipun hanya terasa secara implisit, tetapi kita dapat merasakan bahwa indikator-indikator ini terkesan digunakan untuk melawan kubu pro. Setidaknya karena karakter-karakter tersebut sulit terlihat pada sosok Uno yang terkenal akan kekayaannya.        

Tanpa perlu memihak kepada siapa pun, kita dapat memiliki pemahaman akan ulama secara lebih netral dan objektif dari apa yang dipaparkan oleh Quraish Shihab. Dalam beberapa karyanya, termasuk Tafsir Al-Misbah dan Membumikan Alquran, Shihab condong menyematkan gelar ulama kepada seseorang yang berusaha semaksimal mungkin untuk berlomba dalam kebaikan guna mengatasi problem masyarakat dengan memaparkan makna yang terkandung dalam wahyu (kitab suci) yang juga diintegrasikan dengan pengetahuan-pengetahuan ilmiah. Semua itu dilakukan dalam rangka terciptanya rasa khasyah (takut), ketundukan, dan kepasrahan secara totalitas pada Tuhan.  

sumber gambar: beritaheboh.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar