Menebar Perpustakaan di Indonesia Timur


Markus Makur
Organisasi Taman Bacaan Pelangi (TBP) baru-baru ini membuka sebuah taman bacaan ramah anak di Sekolah Dasar Katolik Nangapanda, desa Ndora Rea 1, Flores, Nusa Tenggara Timur, Rabu lalu. Ini adalah perpustakaan ke-100 yang dibuka oleh TBP di Indonesia Timur, pada tahun ke-8 eksistensinya. “Ini merupakan momen yang sangat menyentuh sekaligus bersejarah bagi Taman Bacaan Pelangi.” Ucap pendirinya, Nila Tanzir saat menceritakan kepada The Jakarta Post saat kegiatan berlangsung. 

Ini merupakan siklus ketiga dari rangkaian projek yang didanai oleh Organisasi Room to Read, yang bertujuan untuk meningkatkan literasi dan kesetaraan gender di dunia pendidikan. Berkaitan dengan hal ini, Taman Bacaan Pelangi telah mendirikan 20 perpustakaan di Ende, di samping 18 buah perpustakaan yang dibangun pada siklus sebelumnya. 

Sekarang, terdapat beberapa perpustakaan di Ende, Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur. Rencana selanjutnya akan dibangun pula di Flores Timur, Lembata, Sikka, Nagekeo, dan Ngada. 

Bupati Ende Marsel Petu, yang diwakili oleh asisten pertamanya Cornelis Wara, mengatakan bahwa merupakan suatu kehormatan bisa bekerjasama dengan Taman Bacaan Pelangi untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak. “Membaca merupakan keterampilan dasar untuk hidup. Mari gunakan dan jaga perpusatakaan semampu kita sehingga anak-anak dapat meraih hasil yang terbaik.” ucapnya. 

Petrus Guido No, Kepala Dinas Pendidikan dan Budaya Ende, mengatakan bahwa dukungan Taman Bacaan Pelangi termasuk perbaikan fisik perpustakaan sekolah, perabotan perpustakaan, memberikan buku-buku anak, serta pelatihan bagi kepala sekolah, guru, dan pustakawan.
“Kami menghargai fokus Taman Bacaan Pelangi terhadap anak-anak Ende. Perpustakaan ini akan sangat membantu kualitas pendidikan di Ende. Kami juga mendukung anjuran Taman Bacaan Pelangi dalam hal memasukkan jam kunjungan perpustakaan ke dalam kurikulum sekolah. Ini adalah permulaan yang besar untuk membangun kebiasaan membaca.” ucapnya. 

Martha Mariati, Kepala Sekolah Dasar Katolik Nangapanda 1, mengatakan bahwa perpustakaan ramah anak adalah suatu hal yang baru di Ende. Para guru, bersama dengan kepala sekolah dan pustakawan, diberi lokakarya khusus dalam kegiatan pengorganisasian perpustakaan dan membaca yang ditujukan untuk meningkatkan ketertarikan membaca anak. 

Dia mengatakan bahwa sekolah menghadapi sejumlah persoalan dalam mengurus perpustakaannya. Sebagai contoh, pustakawan tidak dibekali dengan pengetahuan yang memadai dan pada saat yang sama orang tua siswa dan sekolah juga memiliki keterbatasan finansial. 

“Tantangan utama kami ialah bagaimana terus-menerus memelihara perpustakaan demi anak-anak, termasuk untuk anak-anak generasi mendatang. Nila Tanzil telah mempercayai kami dan kami perlu menjaga kepercayaannya tersebut.” ucapnya.

Nila berharap TBP akan menjadi model perpustakaan bagi sekolah lain di Indonesia bagian timur. “Guru terlatih dapat membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada guru yang sekolahnya belum memiliki perpustakaan ramah anak.” tuturnya. Kemudian, organisasi ini akan terus menjadi mitra sekolah untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar.

TBP didirikan pada tahun 2009 di Roe, Kabupaten Komodo, Manggarai Barat. Tujuannya ialah untuk mendirikan perpustakaan ramah anak di daerah-daerah yang sulit tersentuh dan terjangkau di Indonesia. Sampai saat ini, TBP telah membagikan buku hingga 200.000 buah kepada lebih dari 26.000 anak di 17 pulau di Indonesia Timur, seperti Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. 

Maria L. Y. Ana Dema, Kepala Sekolah SDN 14 Ende, berkata kepada Jakarta Post di hari Jumat bahwa kebanyakan warga di Flores hanya terbiasa dengan dua pekerjaan, yaitu guru dan petani. Perpustakaan sekolah sebelumnya telah ditutup karena tidak ada pustakawan.

Dengan dibukanya TBP di sekolah pada Februari, Maria mengatakan bahwa ia melihat adanya peningkatan kunjungan rutin siswa ke perpustakaan untuk membaca. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dimungkinkan bagi pustakawan dan pegawai TBP untuk terus-menerus memantau dan menemani para siswa. 

Erwina Musa, pustakawan di SDN 14 Ende, mengatakan bahwa dengan perpustakaan yang baru siswa akan menghabiskan waktu istirahatnya untuk membaca buku di perpustakaan, meskipun setiap kelas telah dialokasikan waktu kunjungan setiap minggunya. “Para siswa juga telah mulai meminjam buku. Buku cerita Rahwana dan Hanoman [dari legenda Ramayana] merupakan buku favorit mereka.” tambahnya.  

sumber gambar: tamanbacaanpelangi.com

* diterjemahkan oleh M Jiva Agung W dari artikel berjudul Library movement opens 100th bibliotheca in eastern regions, Harian Jakarta Post edisi 20 September 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar