Memberantas Bullying di Sekolah


Dunia pendidikan kembali menjadi sorotan nasional. Pasalnya, beberapa waktu lalu kasus bullying atau perundungan kembali terjadi—untuk kesekian kalinya—di sekolah. Kejadian yang terjadi di salah satu SD di Kota Bandung itu terekam video yang kemudian menjadi viral di berbagai media sosial.

Dalam video tersebut terlihat bahwa ada salah seorang siswa yang dijejali kaus kaki oleh temannya saat hendak makan di waktu istirahat. Karena tidak terima dengan perlakuan tersebut, akhirnya perkelahian tak terelakkan. Meskipun kasus ini telah mendapat penanganan dengan mengundang berbagai pihak termasuk seorang psikolog, tetapi sepertinya dunia pendidikan khususnya sekolah belum benar-benar serius menangani persoalan ini sehingga wajar jika dapat terjadi berulang kali.  

Tanpa penganalisisan secara komprehensif dan radikal, maka persoalan perundungan hanya akan datang dan pergi secara abstrak yang tentunya sangat merugikan si korban, menurunkan kepercayaan dan harga dirinya. Tak jarang mereka kemudian cenderung menyendiri dan selalu merasa depresi. Bahkan di level tertinggi ada yang sampai memilih untuk bunuh diri.  

Oleh karena itu pihak sekolah, khususnya para guru, perlu cerdas dan cekatan dalam melihat akar dari gejala-gejala tindakan perundungan ini. Hal tersebut dapat diketahui melalui penyebab-penyebabnya, seperti, pertama adanya perasaan tidak suka dari si pelaku terhadap korban, baik karena korban lebih pintar maupun memiliki kelemahan (fisik atau mental).

Kedua, si pelaku merasa memiliki kuasa yang besar (superior) untuk memengaruhi teman-temannya yang lain agar dapat mengaktualkan tindakan buruknya. Yang terakhir disebut biasanya didasari oleh keinginan untuk memeroleh pengakuan eksistensi diri (popularitas), suatu kondisi psikologis yang umumnya muncul di masa-masa perkembangan psiko-kepribadian anak usia sekolah dasar dan remaja.

Benih-benih di atas sebenarnya dapat segera diredam jika sekolah maupun guru memiliki semacam program atau kesepakatan yang sifatnya preventif, sebab pencegahan lebih baik daripada pengobatan.

Langkah pencegahan pertama sekaligus paling utama ialah dengan membentuk persetujuan dari semua pihak keluarga besar sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, pegawai, orang tua siswa, hingga warga lingkungan sekitar sekolah, untuk berperan dalam membuat iklim serta budaya yang positif, termasuk di dalamnya ialah penguatan ruhani dan rasa empati.

Dalam proses penerapannya, selain membutuhkan konsistensi dan ketegasan aturan, juga harus ada pihak yang memantau jalannya pembentukkan budaya positif ini, khususnya dalam mengamati perkembangan karakteristik siswa yang senantiasa berubah-ubah. Dan posisi ini bisa diisi dari kalangan guru.

Pencegahan kedua ialah dengan memberikan pencerdasan, penguatan, rasa percaya diri kepada seluruh siswa agar dapat membela dirinya saat mendapat perlakuan perundungan, misalnya berani untuk mengadukan perbuatan tersebut kepada guru maupun orang tuanya meski berada dalam ancaman sembari di sisi lain pihak sekolah perlu membabat habis budaya-budaya senioritas yang telah kadung dianggap lazim.

Adapun jika kejadian perundungan telah terlanjur terjadi, maka pihak sekolah pun sebenarnya harus telah memiliki prosedur-prosedur yang jelas untuk dapat melakukan penanganan bersifat kuratif agar dapat mencapai hasil yang diharapkan.

Dengan melakukan standar ganda, yakni berupa upaya pencegahan sekaligus penanganan, maka tindak bahkan budaya perundungan di sekolah dapat diberantas. Semoga. 

sumber gambar: merdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar