Memadukan Pendidikan Keluarga dan Sekolah


Sebagian orang mengira bahwa pendidikan identik dengan sekolah. Pandangan tersebut tidaklah sepenuhnya salah, namun hanya kurang menyeluruh saja. Sekolah memang merupakan lembaga resmi/formal dalam hal pendidikan, akan tetapi bukan hanya sekolah yang menjalankan pendidikan. Keluarga bahkan masyarakat secara luas juga merupakan kelompok yang secara formal maupun informal terdapat pendidikan di dalamnya. Maka dari itu, rasanya terlalu sempit jika memaknai pendidikan hanya di sekolah saja.

Para ahli pendidikan kini juga banyak yang berpandangan demikian. Mereka menganggap bahwa justru pendidikan itu adalah “kehidupan” ini secara luas dan sepanjang hayat, mereka menyebutnya long life education. Berbagai pengalaman, pengetahuan dan lingkungan yang ada di sekitar kita dan mempengaruhi kita, itu adalah bagian dari pendidikan yang kita dapatkan.

Bahkan lebih dari itu, Rasulullah saw sebenarnya telah mengemukakan konsep pendidikan sepanjang hayat ini dalam hadisnya utlubul ilma minal mahdi ila lahdi (carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat). Rasulullah saw juga menyebutkan pentingnya pendidikan keluarga terutama ibu lewat hadisnya al umm madrasatul ula (ibu adalah tempat pendidikan yang pertama/utama). Dengan demikian pendidikan baik itu dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar haruslah bersinergi sehingga tujuan pendidikan yang mulia pun tercapai.

Meskipun demikian, tak jarang kita temukan justru terjadi ketidakpaduan antara stakeholder pendidikan tersebut. Khususnya dalam tulisan ini penulis ingin membahas antara pendidikan di rumah dan di sekolah. Idealnya adalah pendidikan orang tua di rumah dan pendidikan guru di sekolah bersinergi dan bekerja sama. Namun karena beberapa alasan dan kendala, menyebabkan hal tersebut kurang terjalin dengan baik.

Pendidikan di sekolah pada umumnya sudah berjalan dengan baik, karena sekolah memang ujung tombak pendidikan secara formal. Berbagai pemahaman nilai, karakter, pengetahuan, keterampilan, bahkan keteladanan pastinya diajarkan dengan sebaik mungkin. Akan tetapi, ketika beberapa siswa kembali pada lingkungan keluarga masing-masing justru malah terjadi sebaliknya. Apa yang telah diajarkan dan ditanamkan di sekolah, tidak dijalankan bahkan bertentangan ketika di lingkungan keluarga.

Misalkan, di sekolah siswa diajarkan untuk makan makanan sehat dan bergizi, namun ternyata di rumah ibu lebih sering memberikan makanan yang kurang sehat, makanan instan, fast food dan sejenisnya. Di sekolah siswa diajarkan untuk menjauhi rokok, namun ia sendiri sering melihat justru ayahnya sendiri merokok. Di sekolah siswa diajarkan agar salat tepat waktu dan berjamaah, namun justru orang tuanya jarang melakukan.

Di sekolah siswa diajarkan buang sampah pada tempatnya, hidup jujur, semangat belajar, menjaga lisan, mengatur waktu, menjauhi hal yang haram, rajin membaca buku, rajin mengaji alquran dan lain sebagainya. Jika rumah sebagai tempat tinggal siswa tak mengembangkannya atau bahkan justru berkebalikan dari apa yang telah diajarkan, maka tidak akan berkembanglah pendidikan yang ia dapatkan di sekolah.

Maka dari itu sangat diperlukan upaya kerjasama antara pendidikan sekolah dengan pendidikan di rumah. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, jalin hubungan yang baik antara sekolah dan orang tua/wali siswa. Hal ini bisa dilakukan dengan keterbukaan sekolah mengenai rencana pembelajaran, materi pembelajaran bahkan kegiatan pembelajaran jika perlu. Adanya pertemuan khusus orangtua/wali (parents meeting)  juga baik dilakukan.

Kedua, tingkatkan perhatian orang tua terhadap apa yang akan, sedang dan telah siswa pelajari di sekolah. Orangtua bisa melakukan feed back mengenai apa yang dipelajari. Hal ini juga baik untuk semakin mendekatkan hubungan anak dan orangtua. Orangtua bisa melakukannya di sela-sela waktu sore sepulang sekolah, malam ketika keluarga berkumpul, atau bisa juga pagi hari sambil sarapan bahkan ketika waktu libur. Tahap ini diperlukan dalam pembelajaran ilmu pengetahuan/kognitif dan keterampilan yang diajarkan di sekolah.

Ketiga, tingkatkan komitmen orang tua mengenai apa yang dipelajari siswa. Pada tahap ini orang tua tidak hanya mendiskusikan apa yang telah dipelajari siswa, namun sudah beranjak pada tahap mengembangkan, mengamalkan dan menjadi teladan bagi anak. Pada tahap ini sangat dibutuhkan terutama berkaitan dengan pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah. Sebagai contoh, jika siswa diajarkan untuk saling menyayangi sesama. Maka orangtua berusaha membentuk lingkungan yang saling menyayangi di rumah bahkan memberikan teladan dan feed back yang baik.

Demikianlah memang diperlukan upaya lebih untuk mewujudkan perpaduan pendidikan di rumah dan sekolah ini. Terkhusus bagi orangtua/wali siswa, diperlukan pengorbanan materi, tenaga, hingga waktu yang lebih. Namun percayalah, jika semua ini didasarkan karena keikhlasan dan kecintaan hati, pasti akan terasa ringan dan mudah untuk melakukannya. Bagaimanapun guru dan orangtua jangan lupa untuk selalu mengapresiasi positif setiap proses pembelajaran anak. Semoga dengan tekad yang kuat, tujuan pendidikan pun tercapai dan muncullah generasi manusia yang unggul dalam keimanan, kecerdasan dan prilaku yang baik.

sumber gambar: harnas.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar