Hormati Kalimat Tauhid

Sella Rachmawati

Lagi, menjadi viral di kalangan umat Islam mengenai kalimat tauhid yang tercantum dalam bendera organisasi Islam yang telah dicabut badan hukumnya, siapa lagi kalau bukan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Jadi begini, beberapa hari ini di berbagai media sosial ramai kejadian yang kurang baik terkait etika memperlakukan kalimat tauhid. Beberapa akun Islam memposting berita yang membuat sebagian umat muslim meradang, yaitu kalimat tauhid yang ada di bendera HTI terinjak-injak, disimpan di tanah atau di lantai. Hal ini mengakibatkan timbulnya rasa kecewa di antara mereka.

Betapa tidak, kalimat tauhid (lāilāha illallāh) merupakan suatu kalimat yang begitu sakral dan mengandung nilai inti ajaran Islam. Untuk sedikit memberi penjelasan mengenai makan tauhid, dalam kitab Safinatun Najah yang ditulis oleh Syeikh Salim bin Sumair menyebutkan bahwa setidaknya ada empat makna yang terkandung dalam kalimat luhur tersebut. Pertama, miftahul jannah, berarti menimbukan kebahagiaan, membuka pintu surga. Kedua, kalimat tauhid, mengesakan Allah. Ketiga, kalimat ikhlas, ikhlas beribadah kepada Allah. Dan terakhir ialah kalimat najjah, yang berarti mengharapkan rida Allah.

Kita bisa melihat di poin ketiga. Sederhananya, kita harus percaya dan yakin bahwa Allah itu esa, tiada sekutu baginya. Diperjelas lagi oleh Prof. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Islam yang Saya Anut disebutkan bahwa Allah itu esa dalam zat, sifat dan perbuatan-Nya. Hal ini menuntut kita untuk beribadah dan patuh hanya kepada-Nya.

Lāilāha illallāh, tidak ada Tuhan selain Allah. Sayangnya kalimat tersebut dewasa ini terkadang hanya dijadikan simbol-simbol saja di berbagai tempat seperti bendera, pakaian, topi, dsb, yang kadang tidak sampai mengakar ke dalam jiwa dan hati seseorang. Dampaknya malah berbahaya, mengakibatkan kesombongan. Padahal esensi dari kalimat tauhid adalah untuk mengingatkan kita bahwa Allah itu esa dan hanya Allah saja yang pantas bersombong.

Kalimat tauhid adalah kalimat yang suci. Tempatnya di dalam jiwa, pikiran dan hati kita, aplikasinya ditunjukan dalam ibadah, baik yang berupa ritual maupun muamalah. Etikanya, janganlah sampai kalimat tauhid menjadi senjata untuk berpolitik, apalagi digunakan sebagai simbol untuk menyerang sesama Muslim, dan menjadikan dirinya beranggapan paling Islam.

Selain itu, kita perlu menghormati kalimat tauhid dengan tidak menginjaknya, menyimpannya di tempat yang kotor dan rendah agar tidak terkena najis. Yang paling penting, tanamkan dan simpan kalimat tauhid di dalam hati dan jiwa bukan di benda-benda fisik agar kesuciannya langgeng tidak terkotori oleh keangkuhan kita sebagai manusia.

Semoga kita senantiasa terlindungi dari berbagai macam fitnah dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Amin. Wallahu’alam.

sumber gambar: voa-islam.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar