Belajar Agama (Koq) yang Siap Saji

Rahmatullah Al-Barawi
Saat ini kita telah memasuki era digital yang sangat massif. Semua hal dapat diketahui dan dipelajari melalui media sosial, termasuk belajar agama. Bahkan, muncul anekdot jika orang dulu belajar agama berpuluh tahun, berpeluh kesah tak kenal lelah, berkelana dari satu kota ke kota lain, maka saat ini tidak butuh waktu lama, cukup googling, maka semua permasalahan, al-dunya wa ma fiha, dunia seisinya ada semua dalam genggaman kita.

Kadang suka kesel juga ketika membuka komentar-komentar netizen ‘yang maha benar’ di media sosial dengan membawa dalil-dalil agama. Padahal belajar agama juga baru kemarin, itu pun dari mbah google.

Belajar al-Qur`an pun menjadi lebih mudah, al-Qur`an digital sudah tersedia dengan berbagai fitur. Ada yang dilengkapi dengan suara murattal dari berbagai syaikh ternama, ada yang dilengkapi dengan penjelasan tajwid warna, ada yang dilengkapi dengan terjemahan, bahkan tafsirnya. Sungguh, jika pun kemudahan tersebut dapat memberikan dampak positif dalam beragama, tetapi, di sisi lain, ada problem besar dalam keberagamaan kita saat ini.

Problemnya adalah kecenderungan generasi milenial dengan segala sesuatu yang instan, cepat, dan siap saji. Ketika berbicara tentang al-Qur`an, yang terjadi adalah bagaimana agar cepat lancar membaca dan menghafalkannya. Survei penulis pribadi, ketika berkunjung ke toko buku, maka rak buku agama akan banyak dipenuhi dengan tips atau cara cepat membaca, menghafal bahkan menerjemahkan al-Qur`an dalam waktu beberapa jam.

Bukan berarti hal itu tidak boleh, tetapi, perlu pemahaman yang komprehensif sebelumnya, misalnya sebelum belajar hal tersebut, pelajari sejarah al-Qur`an terlebih dahulu, bagaimana al-Qur`an turun, ditulis, dan dicetak hingga saat ini kita terima.

Memang ribet, tetapi itu penting untuk dilakukan. Sayangnya, banyak orang yang meninggalkan hal tersebut. Ibarat makanan, kita maunya makanan instan, tanpa mau mengetahui bagaimana cara pembuatannya, pengolahannya, pengemasannya, hingga layak untuk disantap.

Sikap semacam ini membuat kita tidak mau lagi belajar tentang sejarah, sejarah al-Qur`an, sejarah hukum Islam, dll. Padahal ada proses yang panjang sebelum sampai seperti yang kita terima saat ini. Ironinya, hal semacam ini juga tidak banyak dibahas dalam kajian dan ceramah dari para pendakwah.

Sebenarnya dengan memahami sejarah akan membantu kita untuk melihat realitas keberagaman dan mengetahui bahwa ajaran Islam selalu berdialog dengan zamannya, misalnya sejarah penulisan al-Qur`an. Jangan salah, al-Qur`an yang kita genggam di android saat ini merupakan hasil proses sejarah yang panjang sejak zaman Nabi Muhammad Saw.

Fisik al-Qur`an yang ada saat ini tentu tidak kita jumpai di zaman Nabi. Sebab, pertama, di zaman Nabi al-Qur`an masih dalam proses pewahyuan. Kedua, teknologi dan media saat itu terbatas, ditulis di pelepah kurma, kulit unta, dll. Ketiga, belum dikenal penulisan tanda baca, harokat, dan titik. (Lebih lanjut, dapat baca kitab Difa’ Dhidd Hujumat al-Istisyraq, karya Dr. Abdus Shabur Syahin yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Saat al-Qur`an Butuh Pembelaan atau buku Hamam Faizin dalam bukunya Sejarah Pencetakan al-Qur`an.)

Lantas pertanyaannya, mengapa ada perubahan fisik mushaf al-Qur`an dari masa ke masa? Jawabannya adalah karena adanya kebutuhan masyarakat. Masyarakat butuh membaca al-Qur`an dengan tajwid yang benar, maka dibuatlah al-Qur`an tajwid dengan media warna. Sehingga ada guyonan, ketika seorang mahasiswa ditanya, “Mengapa bacaan ini dibaca iqlab?” Jawabnya “Ya karena tulisannya warna biru”. Ini adalah implikasi dari pembelajaran agama yang serba instan, sehingga kehilangan substansi yang sebenarnya.

Seandainya kita mau membuka kembali lembaran sejarah, maka kita akan melihat dinamisasi ajaran Islam dengan perkembangan zaman. Islam dapat hadir dan diterima, karena substansinya dapat berdialog, shalih likulli zaman wa makan. So, dengan memahami sejarah, kita akan beragama dengan semangat substansi, tidak sekedar melihat agama dari kulit luarnya yang cepat saji.

sumber gambar: yaq.in

Tidak ada komentar:

Posting Komentar