Ramadani Saputra & Callistasia Anggun Wijaya
Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, lebih sibuk dari hari Selasa siang biasanya karena sedang ada simulasi penyambutan delegasi Asian Para Games 2018. 75 orang pengguna kursi roda yang didampingi dengan penjaganya terlihat memasuki ruang keberangkatan terminal, berbaris untuk melakukan check-in sebelum berlanjut ke bagian imigrasi. Kemacetan terjadi di saat peralihan dari konter imigrasi menuju kursi tunggu karena delegasi mengantre menggunakan lift yang hanya bisa mengakomodasi dua pengguna kursi roda. 
 
Simulasi ini dilakukan oleh Panitia Penyelenggara Asian Para Games (INAPGOC) dan operator bandara milik negara Angkasa Pura II menjelang Asian Gemas ke-3 yang akan berlangsung dari 6 Oktober hingga 13 di Jakarta. Dalam simulasi tersebut, penyelenggara berfokus memberi transportasi yang memadai bagi para pengguna kursi roda. Mereka yang berperan sebagai delegasi adalah staf lapangan bandara, yang akan dikerahkan selama acara berlangsung. 

Diperkirakan ada 2838 atlet dari 42 negara, termasuk juara bertahan Cina, Korea (tim gabungan Korea Utara dan Selatan), dan Suriah, akan ikut serta dalam kegiatan multisport ini. Delegasi Bahrain dijadwal akan tiba pada hari Sabtu, ucap penyelenggara, dan mereka siap untuk menyambut delegasi lainnya menjelang kick off 6 Oktober mendatang. 

Mendekati waktu kegiatan, penyelenggara telah mencari metode terbaik dalam memberi fasilitas dan pelayanan bagi para delegasi—sejak hari kedatangan hingga kepulangan. Tugas hari Selasa ini merupakan upaya yang kelima yang dilakukan oleh penyelenggara dalam rangka menciptakan suasana yang menyenangkan di perhelatan Asian Para Games. “Beberapa atlet perlu diklasifikasikan [sebelum permainan] dan prosesnya akan dimulai pada hari Senin, jadi kami mengira akan sibuk mulai dari hari Senin.” ucap ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari.   

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, yang mengawasi persiapan-persiapan di bandara, termasuk kesiapan fasilitas pendukung seperti unit kesehatan, mengatakan bahwa bandara sudah siap untuk minggu yang besar. “Kami masih perlu bersiaga, khususnya di hari-hari sibuk ketika [misalnya] enam pesawat tiba dalam waktu yang bersamaan yang mana setiap pesawat mengangkut 20 orang pengguna kursi roda.” ucapnya sebelum simulasi hari Selasa, menambahkan bahwa Menteri Perhubungan akan memberi pelayanan 100 bis bagi para atlet di waktu kompetisi. Budi mengatakan bandara akan membuat jalur khusus dengan memberi akses yang cepat dan muda bagi delegasi Asian Para Games ketika memasuki dan keluar dari Indonesia. 

Penyelenggara juga akan menyediakan enam kendaraan spesial untuk mengakomodasi para pengguna kursi roda yang disebut dengan ambulift. Akan ada 1100 atlet pengguna kursi roda di kompetisi Para Games ini. 

Di luar bandara, penyelenggara juga berkomitmen memberikan para atlet sebuah kendaraan yang nyaman bagi kampung atlet di Kemayoran, Jakarta Pusat, ke tempat-tempat penyebaran bus ramah cacat—kursi-kursi yang akan disesuaikan untuk kenyamanan para atlet. Bekerjasama dengan operator bus kota Transjakarta, menteri perhubungan, menteri perhubungan sosial, menteri pertahanan, dan INAPGOC telah menyiapkan 480 bis untuk melayani para atlet.  Ada 230 bus lantai-rendah yang masing-masing akan mengakomodasi dua sampai empat pengguna kursi roda. Kursi-kursi yang ada di bis akan dipindahkan untuk menyediakan tempat bagi 10 kursi roda. 

Bus khusus akan memiliki batas kecepatan 60 kilometer per jam untuk memberi rasa aman bagi para atlet. Waktu perjalanan rata-rata untuk bus yang melakukan perjalanan dengan kecepatan 45 km per jam dari kampung atlet di Kemayoran ke kompleks olahraga Gelora Bung Karno di Jakarta Pusat adalah 36 menit selama simulasi lalu lintas hari Selasa. Tetapi ada regulasi yang berbeda yang diterapkan bagi bis yang melayani rute tertentu, seperti dari kampung atlet menuju POP-KI Sport Hall di Cibubur, Jakarta Timur, dan dari kampung atlet ke Sentul, Jawa Barat.

*diterjemahkan oleh M Jiva Agung W dari artikel berjudul Extra arrangement for wheelchair users, dari Harian The Jakarta Post edisi 26 September 2018

sumber gambar: asianparalympic.org
Beberapa hari belakangan secara berturut-turut seluruh media, baik cetak maupun online, membahas seputar CPNS dengan segala pernak-perniknya, termasuk soal keberatan beberapa pihak atas persyaratan batas umur.

Sikap media ini bisa dikatakan merupakan miniatur atau representasi dari apa yang terjadi di masyarakat yang sedang ramai memperbincangkan atau mempersiapkan diri untuk mendaftar CPNS. Bahkan di salah satu grup WhatsApp penulis, yang notabene anggotanya adalah para lulusan kependidikan, mendadak heboh dan dipenuhi dengan informasi maupun pertanyaan seputar CPNS.

Dari fakta ini agaknya kita dapat menaksir bahwa posisi PNS masih menjadi primadona di hati masyarakat Indonesia, termasuk bagi para guru honorer. Sebagian alasannya, selain karena jumlah honor yang lumayan, mereka juga akan mendapat berbagai macam dana tambahan, dan tentu saja adanya harapan besar terhadap tunjangan di hari tua (pesangon).

Dari sini pula terkesan bahwa, baik secara implisit maupun eksplisit, mereka belum mendapatkan kesejahteraan dari pekerjaan yang saat ini mereka lakukan.

Betapa tidak, sampai hari ini pun para guru honorer, dengan tuntutan kewajiban kerja yang serupa dengan guru tetap/PNS, belum bisa memperoleh haknya secara memadai. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Asep Rudi (“PR”, 23Agustus 2018) guru honorer hanya dibayar dengan sebanyak jumlah jam mengajar selama satu minggu efektif, sedangkan tiga minggu berikutnya merupakan pengabdian, alias tidak dihitung.

Tak perlu jauh-jauh, sebelum mengajar di tempat yang sekarang, penulis pernah mendapat honor yang jauh di bawah kebutuhan primer untuk satu orang. Pun demikian pengalaman yang dialami oleh teman-teman penulis yang sampai di tahun ini masih mendapat honor di bawah nominal satu juta. Jelas, sangat tidak sebanding dengan energi dan pikiran yang telah dikerahkan, baik sebelum maupun saat menjadi guru.

Jika keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, maka tujuan pendidikan, sesuatu yang ujung tombaknya keberhasilannya dipegang oleh peran para guru, hanya akan menjadi mimpi di siang bolong.

Oleh karena itu, setidaknya ada beberapa kiat yang perlu diperhatikan agar persoalan yang berlarut-larut ini dapat terentaskan. Pertama, harus ada upaya yang masif dan terstruktur untuk bisa memberi penyadaran, baik terhadap pemerintah maupun institusi/masyarakat, perihal pentingnya memuliakan seorang guru. Meskipun jasa-jasanya tak akan pernah bisa terbalaskan, tetapi uang bensin dan uang makan adalah sesuatu yang sangat mungkin untuk dibayar.

Mengenai hal ini kita dapat belajar dari beberapa negara yang begitu memuliakan guru, sebagaimana yang diungkapkan oleh Gelar Riksa di dalam esainya yang berjudul Menakar Kembali Kata Guru, bahwa Finlandia dan Islandia merupakan salah dua negara yang memuliakan profesi guru, posisinya sejajar dengan profesi dokter dan teknisi di Indonesia. Penyematan Finlandia sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia tentu saja salah satu dampak dari penghormatan mereka kepada guru.

Kedua, bukan hanya pemerintah melainkan juga pihak swasta (yayasan kependidikan) di mana para guru mengabdi wajib memberikan upah yang manusiawi sehingga mereka bisa bekerja secara optimal. Mereka harus mempertimbangkan jenjang karir dan keberlangsungan hidup keluarganya, termasuk masa depannya, sebab yang terjadi di lapangan masih banyak sekolah swasta yang melanggar peraturan dengan tetap menggantungkan (tidak memberi kepastian) status guru honorernya meski ia sudah mengabdi selama tiga tahun lamanya. Dengan kata lain, tidak diangkat sebagai pegawai tetap.

* tulisan ini telah dimuat di Harian Umum Radar Bekasi edisi 27 September 2018

sumber gambar: suarakalbar.fajar.co.id

CPNS vs Kesejahteraan Guru

by on September 26, 2018
Beberapa hari belakangan secara berturut-turut seluruh media, baik cetak maupun online, membahas seputar CPNS dengan segala pernak-pernikn...

Markus Makur
Organisasi Taman Bacaan Pelangi (TBP) baru-baru ini membuka sebuah taman bacaan ramah anak di Sekolah Dasar Katolik Nangapanda, desa Ndora Rea 1, Flores, Nusa Tenggara Timur, Rabu lalu. Ini adalah perpustakaan ke-100 yang dibuka oleh TBP di Indonesia Timur, pada tahun ke-8 eksistensinya. “Ini merupakan momen yang sangat menyentuh sekaligus bersejarah bagi Taman Bacaan Pelangi.” Ucap pendirinya, Nila Tanzir saat menceritakan kepada The Jakarta Post saat kegiatan berlangsung. 

Ini merupakan siklus ketiga dari rangkaian projek yang didanai oleh Organisasi Room to Read, yang bertujuan untuk meningkatkan literasi dan kesetaraan gender di dunia pendidikan. Berkaitan dengan hal ini, Taman Bacaan Pelangi telah mendirikan 20 perpustakaan di Ende, di samping 18 buah perpustakaan yang dibangun pada siklus sebelumnya. 

Sekarang, terdapat beberapa perpustakaan di Ende, Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur. Rencana selanjutnya akan dibangun pula di Flores Timur, Lembata, Sikka, Nagekeo, dan Ngada. 

Bupati Ende Marsel Petu, yang diwakili oleh asisten pertamanya Cornelis Wara, mengatakan bahwa merupakan suatu kehormatan bisa bekerjasama dengan Taman Bacaan Pelangi untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak. “Membaca merupakan keterampilan dasar untuk hidup. Mari gunakan dan jaga perpusatakaan semampu kita sehingga anak-anak dapat meraih hasil yang terbaik.” ucapnya. 

Petrus Guido No, Kepala Dinas Pendidikan dan Budaya Ende, mengatakan bahwa dukungan Taman Bacaan Pelangi termasuk perbaikan fisik perpustakaan sekolah, perabotan perpustakaan, memberikan buku-buku anak, serta pelatihan bagi kepala sekolah, guru, dan pustakawan.
“Kami menghargai fokus Taman Bacaan Pelangi terhadap anak-anak Ende. Perpustakaan ini akan sangat membantu kualitas pendidikan di Ende. Kami juga mendukung anjuran Taman Bacaan Pelangi dalam hal memasukkan jam kunjungan perpustakaan ke dalam kurikulum sekolah. Ini adalah permulaan yang besar untuk membangun kebiasaan membaca.” ucapnya. 

Martha Mariati, Kepala Sekolah Dasar Katolik Nangapanda 1, mengatakan bahwa perpustakaan ramah anak adalah suatu hal yang baru di Ende. Para guru, bersama dengan kepala sekolah dan pustakawan, diberi lokakarya khusus dalam kegiatan pengorganisasian perpustakaan dan membaca yang ditujukan untuk meningkatkan ketertarikan membaca anak. 

Dia mengatakan bahwa sekolah menghadapi sejumlah persoalan dalam mengurus perpustakaannya. Sebagai contoh, pustakawan tidak dibekali dengan pengetahuan yang memadai dan pada saat yang sama orang tua siswa dan sekolah juga memiliki keterbatasan finansial. 

“Tantangan utama kami ialah bagaimana terus-menerus memelihara perpustakaan demi anak-anak, termasuk untuk anak-anak generasi mendatang. Nila Tanzil telah mempercayai kami dan kami perlu menjaga kepercayaannya tersebut.” ucapnya.

Nila berharap TBP akan menjadi model perpustakaan bagi sekolah lain di Indonesia bagian timur. “Guru terlatih dapat membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada guru yang sekolahnya belum memiliki perpustakaan ramah anak.” tuturnya. Kemudian, organisasi ini akan terus menjadi mitra sekolah untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar.

TBP didirikan pada tahun 2009 di Roe, Kabupaten Komodo, Manggarai Barat. Tujuannya ialah untuk mendirikan perpustakaan ramah anak di daerah-daerah yang sulit tersentuh dan terjangkau di Indonesia. Sampai saat ini, TBP telah membagikan buku hingga 200.000 buah kepada lebih dari 26.000 anak di 17 pulau di Indonesia Timur, seperti Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. 

Maria L. Y. Ana Dema, Kepala Sekolah SDN 14 Ende, berkata kepada Jakarta Post di hari Jumat bahwa kebanyakan warga di Flores hanya terbiasa dengan dua pekerjaan, yaitu guru dan petani. Perpustakaan sekolah sebelumnya telah ditutup karena tidak ada pustakawan.

Dengan dibukanya TBP di sekolah pada Februari, Maria mengatakan bahwa ia melihat adanya peningkatan kunjungan rutin siswa ke perpustakaan untuk membaca. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa dimungkinkan bagi pustakawan dan pegawai TBP untuk terus-menerus memantau dan menemani para siswa. 

Erwina Musa, pustakawan di SDN 14 Ende, mengatakan bahwa dengan perpustakaan yang baru siswa akan menghabiskan waktu istirahatnya untuk membaca buku di perpustakaan, meskipun setiap kelas telah dialokasikan waktu kunjungan setiap minggunya. “Para siswa juga telah mulai meminjam buku. Buku cerita Rahwana dan Hanoman [dari legenda Ramayana] merupakan buku favorit mereka.” tambahnya.  

sumber gambar: tamanbacaanpelangi.com

* diterjemahkan oleh M Jiva Agung W dari artikel berjudul Library movement opens 100th bibliotheca in eastern regions, Harian Jakarta Post edisi 20 September 2018

Sebagian orang mengira bahwa pendidikan identik dengan sekolah. Pandangan tersebut tidaklah sepenuhnya salah, namun hanya kurang menyeluruh saja. Sekolah memang merupakan lembaga resmi/formal dalam hal pendidikan, akan tetapi bukan hanya sekolah yang menjalankan pendidikan. Keluarga bahkan masyarakat secara luas juga merupakan kelompok yang secara formal maupun informal terdapat pendidikan di dalamnya. Maka dari itu, rasanya terlalu sempit jika memaknai pendidikan hanya di sekolah saja.

Para ahli pendidikan kini juga banyak yang berpandangan demikian. Mereka menganggap bahwa justru pendidikan itu adalah “kehidupan” ini secara luas dan sepanjang hayat, mereka menyebutnya long life education. Berbagai pengalaman, pengetahuan dan lingkungan yang ada di sekitar kita dan mempengaruhi kita, itu adalah bagian dari pendidikan yang kita dapatkan.

Bahkan lebih dari itu, Rasulullah saw sebenarnya telah mengemukakan konsep pendidikan sepanjang hayat ini dalam hadisnya utlubul ilma minal mahdi ila lahdi (carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat). Rasulullah saw juga menyebutkan pentingnya pendidikan keluarga terutama ibu lewat hadisnya al umm madrasatul ula (ibu adalah tempat pendidikan yang pertama/utama). Dengan demikian pendidikan baik itu dari keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar haruslah bersinergi sehingga tujuan pendidikan yang mulia pun tercapai.

Meskipun demikian, tak jarang kita temukan justru terjadi ketidakpaduan antara stakeholder pendidikan tersebut. Khususnya dalam tulisan ini penulis ingin membahas antara pendidikan di rumah dan di sekolah. Idealnya adalah pendidikan orang tua di rumah dan pendidikan guru di sekolah bersinergi dan bekerja sama. Namun karena beberapa alasan dan kendala, menyebabkan hal tersebut kurang terjalin dengan baik.

Pendidikan di sekolah pada umumnya sudah berjalan dengan baik, karena sekolah memang ujung tombak pendidikan secara formal. Berbagai pemahaman nilai, karakter, pengetahuan, keterampilan, bahkan keteladanan pastinya diajarkan dengan sebaik mungkin. Akan tetapi, ketika beberapa siswa kembali pada lingkungan keluarga masing-masing justru malah terjadi sebaliknya. Apa yang telah diajarkan dan ditanamkan di sekolah, tidak dijalankan bahkan bertentangan ketika di lingkungan keluarga.

Misalkan, di sekolah siswa diajarkan untuk makan makanan sehat dan bergizi, namun ternyata di rumah ibu lebih sering memberikan makanan yang kurang sehat, makanan instan, fast food dan sejenisnya. Di sekolah siswa diajarkan untuk menjauhi rokok, namun ia sendiri sering melihat justru ayahnya sendiri merokok. Di sekolah siswa diajarkan agar salat tepat waktu dan berjamaah, namun justru orang tuanya jarang melakukan.

Di sekolah siswa diajarkan buang sampah pada tempatnya, hidup jujur, semangat belajar, menjaga lisan, mengatur waktu, menjauhi hal yang haram, rajin membaca buku, rajin mengaji alquran dan lain sebagainya. Jika rumah sebagai tempat tinggal siswa tak mengembangkannya atau bahkan justru berkebalikan dari apa yang telah diajarkan, maka tidak akan berkembanglah pendidikan yang ia dapatkan di sekolah.

Maka dari itu sangat diperlukan upaya kerjasama antara pendidikan sekolah dengan pendidikan di rumah. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, jalin hubungan yang baik antara sekolah dan orang tua/wali siswa. Hal ini bisa dilakukan dengan keterbukaan sekolah mengenai rencana pembelajaran, materi pembelajaran bahkan kegiatan pembelajaran jika perlu. Adanya pertemuan khusus orangtua/wali (parents meeting)  juga baik dilakukan.

Kedua, tingkatkan perhatian orang tua terhadap apa yang akan, sedang dan telah siswa pelajari di sekolah. Orangtua bisa melakukan feed back mengenai apa yang dipelajari. Hal ini juga baik untuk semakin mendekatkan hubungan anak dan orangtua. Orangtua bisa melakukannya di sela-sela waktu sore sepulang sekolah, malam ketika keluarga berkumpul, atau bisa juga pagi hari sambil sarapan bahkan ketika waktu libur. Tahap ini diperlukan dalam pembelajaran ilmu pengetahuan/kognitif dan keterampilan yang diajarkan di sekolah.

Ketiga, tingkatkan komitmen orang tua mengenai apa yang dipelajari siswa. Pada tahap ini orang tua tidak hanya mendiskusikan apa yang telah dipelajari siswa, namun sudah beranjak pada tahap mengembangkan, mengamalkan dan menjadi teladan bagi anak. Pada tahap ini sangat dibutuhkan terutama berkaitan dengan pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah. Sebagai contoh, jika siswa diajarkan untuk saling menyayangi sesama. Maka orangtua berusaha membentuk lingkungan yang saling menyayangi di rumah bahkan memberikan teladan dan feed back yang baik.

Demikianlah memang diperlukan upaya lebih untuk mewujudkan perpaduan pendidikan di rumah dan sekolah ini. Terkhusus bagi orangtua/wali siswa, diperlukan pengorbanan materi, tenaga, hingga waktu yang lebih. Namun percayalah, jika semua ini didasarkan karena keikhlasan dan kecintaan hati, pasti akan terasa ringan dan mudah untuk melakukannya. Bagaimanapun guru dan orangtua jangan lupa untuk selalu mengapresiasi positif setiap proses pembelajaran anak. Semoga dengan tekad yang kuat, tujuan pendidikan pun tercapai dan muncullah generasi manusia yang unggul dalam keimanan, kecerdasan dan prilaku yang baik.

sumber gambar: harnas.co