Yang Terlupakan Ketika Idul Adha

Hari Raya Idul Adha menjadi salah satu bukti agama Islam sebagai rahmatan lil alamin. Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya sebatas ritual saja pada Allah Swt, tetapi lebih dari itu ibadah juga harus berdampak lebih baik pada dirinya dan orang di sekitarnya.

Melalui ibadah kurban, orang kaya belajar untuk berbagi sehingga nikmat dan kebahagiaan pun menyebar pada semua kalangan masyarakat. Dengan demikian diharapkan tumbuh dalam masyarakat semangat berbagi, gotong royong, empati, dan mengikis kesenjangan sosial dan kesenjangan ekonomi.

Kurban itu sendiri bermakna mendekatkan diri pada Allah Swt, seolah ia mengajarkan bahwa jika kita ingin lebih dekat pada Allah Swt, maka kita juga harus dekat pada sesama. Yaitu dengan jalan melepaskan kecintaan kita pada selain-Nya, salah satunya pada harta untuk dibagikan pada orang lain.

Jika kurban dilaksanakan dengan ikhlas dan dipahami dengan baik maka akan menumbuhkan jiwa yang semakin dekat pada Allah Swt dan semakin baik dalam ber-akhlak dengan orang lain.

Dari segi sosial tentu sudah banyak pengaruh positif yang kita rasakan dari ibadah kurban ini, di antaranya yaitu saling berbagi dan mengikis kesenjangan ekonomi. Meskipun demikian tidak sedikit orang di luar sana yang justru menganggap sinis ibadah kurban ini. Mereka menganggap kurban sebagai budaya primitif, sadis, pembantaian hewan, dan lain sebagainya. Berbagai tuduhan ini datang karena belum paham atau salah paham mengenai syariat Islam.

 Bahkan di beberapa daerah ibadah kurban terasa sulit karena banyak kecaman. Misalnya saja di India, dimana kita tahu bahwa mayoritas masyarakatnya sangat memuliakan sapi. Di sinilah umat muslim belajar untuk sabar dan toleransi.

Ada keunikan tersendiri dalam ibadah kurban ini. Bayangkan saja, kurban sudah dilakukan dari semenjak 14 abad yang lalu di mana setiap tahunnya jutaan sapi, domba, dan unta disembelih secara bersamaan, namun belum pernah terjadi kepunahan hewan tersebut. Bahkan kelangkaan saja belum pernah. Setiap tahunnya jumlah hewan-hewan itu selalu ada dan cukup. Hal ini menjadi bukti kebenaran syariat. Allah Swt yang memerintahkan kurban tentu Allah Swt juga yang sudah menyiapkan berbagai keperluannya.

Kurban sebagai perwujudan agama Islam yang rahmatan lil alamin perlu kita pelajari dan pahami kembali. Karena tak jarang justru perilaku beberapa oknum malah mencoreng ibadah kurban ini. Kita terkadang lupa bahwa kurban sebagai rahmatan lil alamin semestinya tidak hanya dirasakan oleh manusia saja, namun harus dirasakan oleh seluruh makhluk salah satunya yaitu hewan terlebih hewan yang akan dikurbankan.

Banyak hadis shahih yang mengajarkan bagaimana adab dalam menyembelih. Di antaranya menyenangkan hewan, mempercepat penyembelihan, dan tidak memperlihatkan proses penyembelihan pada hewan lain. Hal inilah yang mesti kita renungkan kembali. Tidak sedikit di masyarakat kita yang lupa bahwa kasih sayang pada binatang ini telah diajarkan oleh Rasulullah saw.

Tak jarang kita lihat kurangnya perhatian yang baik pada hewan dalam pelaksanaan ibadah kurban. Ada yang hewan kurbannya diseret dan diikat dengan kasar, dijemur. Bahkan pernah saya lihat ketika sapi hendak dirobohkan, tali yang yang mengikat kepalanya tiba-tiba bergeser melintang ke arah mata sapi. Tentunya hal ini membuat sapi kesakitan, namun justru panitia kurban malah membiarkannya dan melanjutkan proses perobohan dan penyembelihan.

Hal yang sama juga saya lihat dalam proses penyembelihan hewan di Arab Saudi ketika pembayaran Dam (denda haji) dan ibadah kurban yang justru kurang memperhatikan adab dalam menyembelih. Di antaranya yaitu menyeret dan memperlihatkan proses penyembelihan dihadapan binatang lain.

Semoga dengan tulisan ini kita bisa lebih memahami ibadah kurban dan agama Islam yang rahmatan lil alamin. Rahmatnya tidak hanya untuk manusia namun untuk seluruh alam semesta termasuk binatang.

sumber gambar: gambar.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar