Perbedaan Filsafat Islam dan Barat Modern

Akhmad Fauzi

Berbicara tentang pengertian filsafat, Hatta berpendapat lebih baik tidak dibicarakan lebih dulu. Nanti, bila seseorang telah banyak membaca atau mempelajarinya, maka ia akan mengetahui pengertian filsafat sesuai sudut pandangnya. Kebanyakan para ahli lain pun mengamini hal itu. Namun, ada juga yang ingin mencoba memberi gambarannya secara singkat.

Menurut mereka filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia. Kata teresebut merupakan gabungan dari kata philo yang berarti cinta, dan shopia yang berarti kebijakan. Jadi secara singkat, filsafat berarti cinta kebijakan atau cinta kebijaksanaan. Konon filsafat merupakan induk dari semua ilmu pengetahuan. Semua kemajuan peradaban dunia terjadi karena orang-orang berfilsafat, tak terkecuali dengan Islam.

Islam mengalami kemajuan peradaban pada masa Dinasti Abbasiyah karena filsafat menjamur bak buih di lautan. Banyak filosof muslim pada saat itu. Semua itu karena peran Khalifah berkuasa yang cinta terhadap ilmu. Salah satu bentuknya adalah penerjemahan buku-buku Yunani kuno mengenai filsafat.

Namun, setelah melesat jauh ke atas, peradaban Islam perlahan menukik tajam ke bawah. Menurut sebagian pendapat, hal tersebut dimulai sejak masa Al-Ghazali. Setelah Al-Ghazali menulis buku “Tahafut al-Falasifah”, dunia filsafat Islam mengalami kemunduran. Namun di tengah kemunduran tersebut, ada suatu wilayah Islam yang tetap melestarikan filsafat sehingga tetap eksis sampai saat ini, yaitu Persia.

Begitu pun dengan peradaban Eropa yang berhasil keluar dari masa kegelapan karena filsafatnya. Meskipun melahirkan banyak aliran filsafat, kehidupan Barat modern umumnya berlandaskan pada filfasafat empirisme, atau setidaknya positivisme (penggabungan rasionalisme dan empirisme). Yang belakangan disebut telah menjadi fondasi dari defisini ilmu modern dengan mengatakan bahwa yang ilmiah ialah sesuatu yang rasional dan empiris.

Dari kedua peradaban di atas, kita akan menemukan perbedaan yang mendasar mengenai keduanya, yakni dalam hal epistemologi dan ontologi. Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memporoleh pengetahuan. Sedangkan ontologi membicarakan mengenai objek-objek yang dipikirkan.

Dari segi epistemologi, filsafat Islam menggunakan rasio, empiris, dan intuisi sebagai sumber pengetahuannya. Berbeda dengan filsafat Barat modern yang hanya menggunakan pengalaman indra saja sebagai sumber pengetahuannya (rasio jarang dijadikan sumber).

Perbedaan tersebut yang menyebabkan filsafat Barat modern tidak memercayai hal-hal yang bersifat intuitif karena dianggapnya terlalu subjektif. Menurut mereka kebenaran haruslah rasional dan empiris. Sedangkan filsafat Islam memercayai hal tersebut. Filsafat Islam memercayai bahwa hal-hal yang didapatkan dari intuisi dapat dipakai sebagai sumber pengetahuan.

Perbedaan epistemologi juga yang menyebabkan keduanya (filsafat Islam dan filsafat Barat) mengalami perbedaan dari segi ontologi. Objek yang dikaji oleh filsafat Barat hanyalah sesuatu yang terlihat oleh indra dan pernah teralami saja. Itu karena filsafat barat tidak memercayai intuisi sebagai sumber mencari kebenaran juga karena tidak memercayai adanya hal-hal gaib seperti setan, malaikat, atau Tuhan.

Berbeda dengan filsafat Islam. Objek yang dikaji dalam filsafat Islam adalah sesuatu yang terlihat dan tidak terlihat (gaib) oleh indra. Islam memercayai bahwa intuisi bisa digunakan dalam mencari kebenaran. Bahkan, intuisi dianggap tingkatan tertinggi dalam mencari kebenaran.

Di dalam khazanah Islam terdapat tiga tipe manusia mulia. Yang pertama ialah para filsuf. Mereka yang lebih mengedepankan rasio (burhany) dalam mencari kebenaran. Salah satu tokohnya yaitu Ibnu Sina.

Yang kedua adalah para sufi. Istilah sufi lebih digunakan dalam Islam untuk mereka yang lebih mengedepankan intuisi dalam mencari kebenaran. Salah satu tokohnya yaitu Imam al-Ghazali.

Yang terakhir adalah para teosofer, ialah orang yang sangat kaya pengalaman spiritualnya tetapi juga dapat mengaktualisasikannya ke dalam cara-cara yang demonstratif (rasional). Inilah yang paling termulia. Salah satu tokohnya yaitu Mulla Sadra.

sumber gambar: strategy2050.kz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar