Menyayangkan Pernyataan Evie Effendi

Sella Rachmawati
Beberapa hari yang lalu kembali ramai terdengar seorang ustaz yang sedang digandrungi pemuda Indonesia mengatakan kalimat dalam ceramahnya yang kurang bijak, beliau adalah Evie Effendi. Isi ceramahnya mengatakan bahwa dia beruntung telah hijrah, karena pada dasarnya manusia itu bodoh dan sesat, termasuk Muhammad. Dan orang yang merayakan maulid berarti dia sedang merayakan kesesatan Nabi Muhammad.

Sontak hal tersebut menimbulkan kegelisahan dan kekecewaan dari para umat Muslim di Indonesia. Terlebih Ust. Evie menukil surah aḍ-Ḍuhā ayat ke 7 yang ia sendiri menafsirkan bahwa manusia itu awalnya sesat lalu Allah memberi hidayah.

Penulis yang notabene melakukan maulid dikirimi video tersebut dari salah seorang teman yang juga melaksanakan maulid. Ketika penulis melihat isi keseluruhan ceramah tersebut, tentu penulis pun merasa kecewa dengan pernyataan Ust. Evie.

Padahal, ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa “setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, maka orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi” diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Dari hadis tersebut jelas bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah apalagi Nabi Muhammad. Hal mustahil jika Nabi Muhammad pernah sesat.

Kemudian terkait surah aḍ-Ḍuhā ayat ke 7 penulis penasaran apakah benar tafsir dan asbabun nuzul-nya mengarah ke sana. Dalam Tafsir Fi Zalalil Quran yang dikarang oleh Sayyid Qutb disebutkan bahwa surah aḍ-Ḍuhā turun karena wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad pada saat itu terputus, menyebabkan para kaum musyrikin mencemooh Nabi Muhammad saw., dan mulai bertanya-tanya. Sehingga Nabi Muhammad saw., mulai resah dan bingung. Untuk itu, Allah menurunkan surah ini untuk kembali menenangkan Nabi Muhammad saw., dari kebingungan dan kegelisahan yang menimpanya. Maka dikatakan dalam surah tersebut “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung. Lalu Dia memberikan petunjuk.” (Qs. aḍ-Ḍuhā/93:7).

Selaras dengan itu Prof. Quraish Shihab ulama tafsir Indonesia mengatakan bahwa mengenai kata Ḍalal dalam ayat tersebut tidak diartikan sesat tetapi bingung atau cemas karena waktu itu wahyu sempat terputus beberapa lama, sementara umat banyak bertanya tentang hal-hal. Kemudian Nabi Muhammad menjadi bingung dan cemas. Lalu turunlah surah aḍ-Ḍuhā ini.

Pernyataan Ust. Evie yang mungkin dianggap mengecewakan lagi adalah perihal maulid yang menurutnya berarti itu merayakan kesesatan Muhammad. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa masyarakat muslim di Indonesia banyak berbeda pendapat di tatanan fiqih. Termasuk perbedaan cara pandang atas perayaan kelahiran Nabi Muhammad saw. Sebenarnya perbedaan pendapat ini sudah ada sejak zaman sahabat Rasul, yang harus kita tekankan adalah rasa menghargai dan menghormati satu sama lain. Tidak merasa paling benar, tidak membid’ahkan, apalagi sampai mengkafirkan satu sama lain.

Ust. Evie dan tentunya kita semua agaknya harus bisa memilah-milih kata dalam setiap pembicaraan, melihat audience yang mendengarkan, berpikir apakah yang akan disampaikan bisa menyakiti hati seseorang atau tidak, dan yang harus diingat bahwa seorang ustaẓ adalah orang yang menjadi guru, panutan, yang mencontohkan tindak-tanduknya dihadapan orang yang belajar kepadanya.

Penulis paham betul ustaẓ juga manusia, tapi alangkah bijaknya jika hal-hal yang disebutkan tadi menjadi pertimbangan agar tidak terjadi lagi hal seperti ini.

Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua dalam semangat menebar kebaikan. Semoga kita senantiasa diberi hidayah dan perlindungan dari Allah. Wallahu’alam.

sumber gambar: knginfo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar