Mengutuhkan Sikap Membantu yang Lemah

Fendy Chovi
Malam itu saya menonton TV dan menyaksikan breaking news terkait Gempa di Lombok. Gempa 7 Sr itu begitu meluluhlantakkan sebagian bangunan rumah dan membuat warga panik.

Melihat saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Hati dan jiwa kita terenyuh dan aksi solidaritas penggalangan dana dan bantuan pun digelar. Rasa empati dan rasa persaudaraan dilakukan oleh orang-orang di berbagai daerah untuk meringankan beban orang-orang yang kesusahan.

Nah, semangat Idul Adha kali ini setidaknya, mengingatkan kita bagaimana Nabi Ibrahim rela menyerahkan harta yang selama ini disayangi dan dicintainya, yaitu "buah hati" nya, yang bernama "Ismail" demi menuruti perintah Allah Swt. Perintah Allah untuk menyembeli sang putra itu sungguh ujian berat bagi Ibrahim.

Namun, Ibrahim menjalankan perintah itu dan Allah pun mengganti Ismail dengan domba sebagai bukti ketulusan ibrahim.

Ibrahim, nabi yang sekaligus leluhur semua agama samawi ini mengajarkan kita makna ketulusan dan pengorbanan demi mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan berserah diri sepenuh hati dan pengabdian.

Mampukah kita meneladani Ibrahim?

Menyerahkan sebagian harta atau apa saja yang kita miliki untuk meringankan kesulitan dan penderitaan orang lain, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt?

Mendekatkan diri kepada Allah harus dimakna pendekatan vertical dan horisontal. Kita mendekat kepada Tuhan dengan kewajiban dan perintah beribadah dan membantu orang lain yang kesusahan. Pesan-pesan kemuliaan dituturkan di berbagai literatur agama, tentang pentingnya menyayangi dan meringankan beban orang-orang yang lemah.

Setidaknya, ingatan kita tentang hari raya Idul Adha, yaitu, ketulusan serta kesalehan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, menjadi cerita menarik tentang penyerahan diri Ibrahim, untuk melepaskan rasa keterikatakan hanya untuk meraih ridha Allah swt. Bentuk keterikatan dan rasa kepemilikan itu, dibelah dengan adanya perintah menyembeli sang putra,hingga allah mengganti dengan domba.

Cerita itu, setidaknya mampu menginspirasi kita jika setiap pengorbanan dan rasa tulus untuk mengabdi kepada sang pencipta, akan diganti sesuatu yang lebih baik dan lebih menyempurnakan kehidupan kita dalam bermasyarakat.

Begitu juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita perlu semangat solidaritas saling membantu dan tolong menolong demi tujuan-tujuan mengutuhkan aksi meringankan saudara-saudara kita lainnya.

Idul Adha mengajarkan kita kesediaan untuk berqurban secara ikhlas. Menyerahkan segala pemberian Allah untuk mengabdi kepada-Nya dan membantu hamba-Nya. Mengabdi kepada Allah harus dimulai dengan semangat menolong dan mengabdi kepada saudara seiman maupun yang berbeda keyakinan yang butuh uluran tangan.

Solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat, harus dimulai dalam kehidupan sehari-hari. Mengutuhkan rasa berkorban demi membantu anggota masyarakat yang terjerat kesulitan. Bukankah dengan kesulitan itu, kita berbuat kemuliaan yang kelak akan memuliakan orang lain juga. Sudahkah Anda melakukannya?

sumber gambar: phinisi.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar