Mengapa Saya Membela Meiliana?

Salahkah saya membela Meiliana? Seorang perempuan yang mendapat vonis 18 bulan penjara karena mengeluh dan meminta suara azan dikecilkan. Mungkin bagi sebagian orang saya salah, karena saya adalah muslim sedangkan Meiliana adalah (maaf) China Buddhis. Bagi mereka seharusnya solidaritas dan persaudaraan Islam saya membuat saya tak membela Meiliana. Benarkah begitu?

Maaf, selama ini saya diajarkan QS. Al Maidah : 8. Bahwa agama saya mengajarkan keadilan dalam menilai sesuatu. Janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil. Begitu kata Tuhan saya, kepada yang kita benci saja kita dituntut untuk tetap objektif, apalagi kepada yang kita tak benci? Saya tak benci dengan Meiliana. Kalau toh dia berbeda agama kata agamaku lakum dinukum wa liyadin. Soal agama ya itu silahkan diurus masing-masing.

Pernah suatu ketika ayat Alquran turun membela orang Yahudi yang difitnah mencuri baju besi oleh sahabat Nabi. Waktu itu Nabi pun sempat terkecoh dan membela sahabatnya, namun Allah Maha Tahu dan turunlah QS. 4:105-112. Asbabun Nuzul ayat itu menarik. Seorang muslim bernama Thu'mah bin Ubairiq dari Bani Dhafar mencuri baju perang pamannya, setelah ketahuan ia balik menuduh orang Yahudi yang mencurinya. Orang Yahudi yang tertuduh itu bernama Zaid bin as-Samin, karena tidak terima dituduh, ia mengadu kepada Nabi Muhammad saw.
Mengetahui respon orang Yahudi itu, saudara-saudara Thu'mah dari Bani Dhafar datang ke Nabi Muhammad untuk membela Thu'mah. Zaid bin as Samin hanya sendiri, agamanya Yahudi lagi, berhadapan dengan gerombolan orang-orang muslim dari Bani Dhafar di hadapan Nabi Muhammad saw. Hampir saja Nabi Muhammad saw. condong membela Thu'mah, dikarenakan Thu'mah seorang muslim, juga saudara-saudaranya yang bnyak itu, tapi ayat Alquran turun untuk membela Zaid bin Samin karena memang beliau tidak bersalah.

Turunlah ayat 107 : Dan janganlah engkau berbahas untuk membela orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri. Yang dimaksud orang yang mengkhianati diri mereka sendiri adalah Thu'mah. Lalu dalam ayat 112 Allah swt. berfirman: Dan sesiapa yang melakukan sesuatu kesalahan atau sesuatu dosa, kemudian ia menuduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah memikul kesalahan berbuat dusta, dan melakukan dosa yang amat nyata. Lagi-lagi ayat ini ditujukan kepada Thu'mah.

Tapi kan Meiliana menistakan agama? Loh kata siapa? Kalau benar Meiliana menistakan agama Islam saya tak akan membelanya. Tapi dia tidak menistakan agama. Loh tapi dia kan didakwa begitu? Ya yang mendakwa itu yang salah. Menurut sumber terpercaya sebenarnya masyarakat tidak akan melaporkan Meiliana. Namun ada pihak yang ngotot bahwa Meiliana ini menistakan agama. Mereka adalah FUI dan HTI, saya berada berlawanan dengan mereka walau kita seagama.

Meiliana mengatakan tolong volume azannya dikecilkan. Coba perhatikan, Meiliana terganggu oleh volumenya, bukan oleh azannya. Bayangkan anda sedang sakit di rumah sakit, tengah malam, lalu ada orang menyetel lagu shalawat dengan volume full. Kemudian anda bilang bahwa tidak boleh menyetel lagu shalawat malam-malam begini. Apakah anda menistakan shalawat? Tentu tidak. Lain halnya jika Meiliana mengatakan bahwa azan itu asalnya dari setan misalnya. Nah mungkin bisa masuk penistaan agama.

Tapi masalahnya Meiliana telah membuat orang tersinggung dan terprovokasi? Malah sampai merusak Vihara. Meiliana itu provokator. Ok memang sebagian orang pasti tersinggung bahkan terpancing emosi. Tapi apakah harus sampai merusak? Apakah harus sampai juga dituntut ke jalur hukum? Itu ajaran siapa? Nabi saja saat ada orang Badui kencing di mesjid menahan diri untuk memarahinya, walaupun para sahabat sudah siap untuk mengangkat pedang. Kenapa? Karena Nabi tahu bahwa orang Badui ini mereka belum tahu ilmunya. Sekarang kita ikut sunnahnya siapa? Kalau sedikit-sedikit bakar, sedikit-sedikit pentung.

Hati boleh panas, namun otak harus tetap dingin. Persoalan kemasyarakatan seperti ini bisa selesai oleh mediasi, enaknya Meiliana minta maaf dan umat Islam memaafkan. Seperti beberapa waktu ke belakang ada ustaz yang bilang kalau Aisyah itu gaul dan bilang bahwa Muhammad pernah sesat. Kan bisa selesai dengan permohonan maaf. Kenapa kasus Tanjung Balai tidak bisa begitu. Apakah karena ada provokator yang tidak mau kita damai? Wallahu a'lam bish shawwab.

sumber gambar: idntimes.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar