Menarasikan Ulang Sejarah Perang


Sejarah Islam adalah sejarah perang, hal ini tercatat dengan rapi dalam referensi standar sejarah Islam. Misalnya dalam kitab kecil berjudul Khulashah Nurul Yaqin, digambarkan bahwa setelah hijrah ke Madinah, hal pokok yang dilakukan umat Islam adalah berperang. Tercatat Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Tabuk dan perang lainnya menjadi materi pelajaran yang wajib diajarkan kepada anak-anak kita. Pasca meninggalnya Nabi kita masih disuguhi dengan berbagai peperangan, diantaranya perang terhadap golongan murtad, Perang Yamamah, Perang Jamal, Perang Shiffin, dan perang dalam rangka penaklukan wilayah-wilayah baru.

Narasi-narasi tersebut sangat akrab dalam telinga kita dan diajarkan semenjak dini oleh masyarakat muslim. Tak aneh bila dalam karnaval kemerdekaan di Kota Probolinggo, siswa-siswi TK Kartika menggunakan kostum perempuan bercadar dengan membawa senapan. Hal ini memancing kontroversi di tengah masyarakat baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Banyak netizen yang mengecam kostum karnaval tersebut karena mengajarkan radikalisme bahkan terorisme di kalangan anak usia dini. Mendikbud dengan segera mengunjungi TK tersebut untuk meminta klarifikasi, melakukan pembinaan dan memberikan sumbangan sebesar 25 juta rupiah.

Pihak TK mengklarifikasi bahwa kostum karnaval tersebut tidak dimaksudkan untuk mengajarkan radikalisme dan terorisme. Mereka beralasan bahwa kostum tersebut menyesuaikan dengan tema yang mereka usung yakni meneladani sejarah Rasulullah SAW.

Pihak TK juga menyayangkan yang menyebarkan video tersebut karena tidak merekam secara utuh. Padahal di belakang anak-anak bercadar, ada juga kumpulan anak-anak bergamis dan membawa bendera merah putih. Mendikbud menerima klarifikasi pihak TK, pihak kepolisian berencana mengusut orang yang merekam dan menyebarkan video. Sikap Mendikbud dan Kepolisian membuat sebagian netizen geram karena dianggap mendukung radikalisme.

Dari polemik di atas, setidaknya kita tahu bahwa dalam masyarakat kita, yang dinamakan perjuangan Rasulullah SAW adalah peperangan. Opini tersebut diperkuat oleh banyaknya ayat-ayat tentang jihad, di mana jihad dimaknai sebagai perang. Hal ini semakin memperkuat opini saya bahwa sejarah Islam adalah sejarah perang.

Padahal jika kita telaah lebih jauh, peperangan hanyalah sedikit bagian dalam sejarah Islam. Bambang Q Anees seorang akademisi dari UIN Bandung, menemukan bahwa dalam masa 10 tahun Nabi di Madinah, hanya sekitar 80 hari terjadi peperangan. Artinya sangat sedikit sekali sebenarnya waktu berperang yang dilakukan Nabi dibanding masa hidup beliau di Madinah. Lantas sisanya digunakan untuk apa?

Jika kita telaah Alquran dan Hadits, maka kita akan tahu bahwa di Madinah Nabi Muhammad menghabiskan waktunya untuk berdakwah dan mengajarkan ilmu. Wahyu yang senantiasa turun segera Nabi ajarkan dan sebarkan kepada umatnya. Beberapa sahabat beliau menulis dan intensif menghafal wahyu-wahyu tersebut. Saat Nabi tiada berkembanglah tradisi tulis dalam rangka menjaga otentisitas wahyu guna menguatkan tradisi lisan.

Inilah esensi dari perjuangan Rasulullah SAW yang banyak kita lupakan karena kitab-kitab sejarah yang kurang komprehensif. Kita perlu menarasikan ulang sejarah perang dengan sejarah pengetahuan. Sehingga ke depan tema perjuangan Rasulullah SAW tidak diisi dengan sekumpulan anak usia dini membawa senjata, namun kostum yang digunakan adalah dokter, ilmuwan, guru dll.

Anak-anak usia dini adalah pembelajar yang ulung, mereka sangat cepat menangkap dan meniru dari sekelilingnya. Hendaknya mereka disuguhkan dengan hal-hal yang relevan dengan persoalan bangsa hari ini.

Jika Rasulullah SAW hidup di tengah-tengah kita hari ini, maka yang akan beliau perjuangkan adalah membangun integritas bangsa, mengingat sikap korup bangsa kita yang sudah akut. Yang akan beliau kampanyekan adalah soal persatuan, mengingat banyak yang ingin bangsa kita terpecah belah. Yang akan beliau suarakan adalah soal keadilan sosial, mengingat masih adanya kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Karena itu kostum cadar dengan membawa senapan menjadi tidak relevan di masa kini.

sumber gambar: malangtimes.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar