Memerdekakan Siswa


Indonesia boleh berbangga karena hendak memasuki usia kemerdekaan yang ke-73. Tetapi patut direnungi pula bahwa matangnya usia ternyata masih belum bisa menciptakan kultur yang benar-benar merdeka, termasuk di dunia pendidikan formal. Pernak-pernik feodalisme masih bisa kita temukan di mana-mana, sehingga tujuan pendidikan nasional yang isinya pun senada dengan spirit tujuan penciptaan manusia dalam agama Islam (melahirkan insan kamil) seringkali terhambat.

Di antara bentuk penghambat kemerdekaan ialah pengekangan secara rigid yang dilakukan oleh orang dewasa. Ina Liem, seorang aktivis pendidikan yang juga merupakan penulis buku berjudul Kreatif Memilih Jurusan, menyayangkan stigma yang masih tumbuh di masyarakat yang menganggap bahwa siswa IPA lebih superior dibanding siswa IPS. Para orang tua siswa suka memaksa anaknya untuk memilih jurusan IPA karena dianggap lebih profitable di dunia karir. Sama halnya dengan sebagian guru/sekolah yang bahkan mempersulit siswanya masuk ke IPS karena nilainya yang mencukupi untuk masuk jurusan IPA.  

Dalam kasus yang lain, alih-alih mendorong daya ekploratif dan analitis-kritis, masih banyak guru yang, baik secara ekplisit maupun implisit, mematikan daya ekploratif dan inovatif siswa dengan pemaksaan pada satu buah pandangan tunggal. Di pelajaran Pendidikan Agama Islam tentang fikih misalnya, seorang guru hanya menjunjung tinggi pendapat yang dianutnya saja sembari menihilkan variasi pandangan fikih lainnya, padahal pada kenyataannya siswa yang diajar pastilah berasal dari kultur keagamaan yang beragam.

Sama halnya dengan pelajaran eksak yang mana guru masih saja menyuruh siswanya untuk mengikuti rumus atau cara-cara yang dipahaminya tanpa menstimulus siswa untuk dapat mengembangkan metode buatannya sendiri.

Contoh yang paling terasa ialah di bidang kesenian. Karena dari dahulu para guru hanya memberi contoh tunggal, biasanya berupa gambar pemandangan alam di mana terdapat matahari yang diapit oleh gunung biru, maka tak aneh ketika siswa diminta untuk menggambar sesuatu lantas mereka tidak bisa menggambar objek lain kecuali dari apa yang pernah digambar oleh gurunya.

Di dalam esainya yang berjudul The Planet Does Not Need More Successful People (2015) Nalini Singh merasa miris melihat kenyataan pendidikan saat ini yang sangat menekankan aspek mendengar pasif atau hafalan-hafalan yang kemudian jika siswa dapat menirunya maka ia akan diberi nilai yang bagus. Akhirnya sekolah cuma menjadi ajang imitasi siswa ke guru alih-alih mengembangkan kemampuan unik mereka.

Tentu saja pola pembelajaran di atas sangat jauh dari semangat luhur pendidikan yang menekankan aspek kebebasan dan kemandirian. Oleh karenanya orang-orang dewasa, baik orang tua maupun guru, perlu mengubah perspektifnya dari yang berpola imitatif menuju pembebasan.

Beberapa langkah awal yang dapat dilakukan ialah, pertama, membangun relasi dinamis-demokratis antara guru dan siswa. Guru tidak lagi bersikap otoriter-mekanistik dalam mendidik melainkan perlu membimbing para siswa untuk diajak berani membuat keputusan, mengambil risiko, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kiat ini bisa dipraktikkan dalam membuat kesepakatan peraturan kelas misalnya.

Kedua, membuka kebebasan siswa untuk berpendapat, memerdekakannya dari rasa takut untuk mengajukan gagasan. Sekolah harus memberi ruang di mana terjadi interaksi pertukaran budaya, gagasan, dan sudut pandang antar siswa. Kiat ini jelas akan membentuk pembelajar yang optimis, berani, kritis, dan inklusif, sebab mereka akan senantiasa berkenalan dengan hal-hal baru.

The last but not least, menciptakan kultur kepedulian terhadap lingkungan, yang berarti sekolah mendorong siswa untuk turut aktif memerdekakan masyarakat yang lemah atau tertindas. Dengan ini tertolaklah pandangan sinis yang menganggap semakin tinggi pendidikan formal maka semakin berjaraklah ia dengan lingkungannya.

sumber gambar: rumahliterasimataseger.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar