Melawan Politisasi Gempa Lombok

Rentetan gempa bumi yang menimpa Provinsi Nusa Tenggara Barat menarik perhatian masyarakat Indonesia. Bencana berskala nasional ini mengundang simpati serta aksi dari berbagai komponen masyarakat. Relawan dan bantuan logistik dikerahkan untuk membantu  memulihkan korban gempa bumi. Suasana duka meliputi keluarga yang ditinggalkan oleh anggotanya yang menjadi korban meninggal dari bencana ini.

Di luar daerah bencana, muncul spekulasi-spekulasi terkait gempa bumi yang terjadi di bumi seribu masjid ini. Ada yang mengaitkan bencana ini dengan sikap politik Tuan Guru Bajang Zainul Majdi yang beralih haluan politik mendukung Presiden Jokowi. Hal ini terekam dalam jejak digital di media sosial. Banyak juga yang menolak peristiwa bencana dikaitkan dengan politik. Mereka mengecam pihak yang alih-alih berempati, namun malah melakukan politisasi terhadap bencana.

Bagaimanakah sebenarnya agama Islam memandang bencana? Apakah bencana alam merupakan azab atau ujian? Bagaimana cara membedakannya? Dalam Alquran banyak diceritakan mengenai bencana. Misalnya bencana yang menimpa kaum Sodom, kaum ‘Aad dan kaum Tsamud. Diceritakan juga kesulitan yang menimpa Ashabul Ukhdud yang dibakar hidup-hidup, Ashabul Kahfi yang dikejar-kejar raja zalim dan Musa yang diperangi Firaun.

Bencana yang menimpa kaum Sodom, ‘Aad dan Tsamud disebut dengan azab. Azab artinya hukuman atau siksaan, disebabkan karena mereka membangkang terhadap perintah Allah dan terhadap Rasul yang diutus. Adapun yang menimpa Ashabul Ukhdud, Ashabul Kahfi, dan Musa adalah ujian. Allah menguji orang-orang baik untuk menaikan derajat mereka.

Lantas bagaimana dengan bencana yang terjadi di zaman sekarang? Tercatat beberapa bencana besar sudah terjadi di Indonesia, misalnya Tsunami Aceh, Gempa di Yogyakarta, Banjir Bandang di Garut dan terakhir Gempa di NTB. Rasanya menjadi pelik jika kita mencoba mengkategorisasi bencana tersebut menjadi ujian atau azab.

Alasannya yang pertama, jika narasi dalam Alquran menyebutkan bahwa yang baik akan diuji dan yang jahat akan diazab, maka dalam kehidupan riil hari ini tidak ada orang yang murni baik dan murni jahat. Manusia hari ini mengandung kebaikan dan kejahatan sekaligus dalam dirinya. Tidak ada tokoh protagonis dan antagonis seperti dalam narasi Alquran. Yang kedua, menyebutkan bahwa sebuah bencana adalah azab mengandung unsur spekulasi yang tinggi, seolah-olah kita diberi wahyu.

Oleh karena itu para ulama berpendapat bahwa dalam sebuah bencana ada tiga makna yang terkandung di dalamnya. Pertama, bencana adalah ujian bagi orang yang beriman. Kedua, bencana adalah peringatan bagi orang yang bermaksiat namun masih ada iman di hatinya. Bencana diberikan Tuhan agar mereka kembali menjadi beriman. Ketiga, bencana adalah azab bagi orang yang durhaka dan tertutup hatinya dari Tuhan. Tafsir bencana model ini cukup untuk menjelaskan bencana secara komprehensif.

Setelah kita menemukan tafsir bencana yang sesuai dengan penjelasan Alquran, selanjutnya yang mesti kita telaah adalah bagaimana penerapannya dalam kasus bencana. Yang jelas dalam kasus bencana alam misalnya gempa bumi, sangat tidak bijak jika kita mengatakan bahwa hal tersebut adalah peringatan atau azab kepada para korban. Kita harus membesarkan hati korban dan menghiburnya dengan menekankan bahwa bencana ini adalah ujian. Dalam sebuah hadits qudsi dikatakan bahwa Allah rindu tangisan hamba-hambanya. Maka dari itu Allah memberi musibah agar bisa mendengar rintihan, tangisan dan munajat hambaNya.

Bagi kita yang tak menjadi korban maupun relawan juga harus bijak dalam menyikapi bencana. Jangan berkomentar menghakimi tanpa dasar data dan ilmu yang memadai. Misalnya bahwa bencana NTB adalah akibat TGB mendukung Jokowi.

Pertanyaannya anda tahu dari mana? Apakah Allah bicara langsung kepada Anda tentang sebab bencana NTB? Ingat hal ini adalah hal gaib, kita bisa termasuk apa yang dikatakan oleh QS. 17:36 jika berkomentar tanpa landasan yang kuat. Ingat tak semua yang empiris itu rasional, misalnya  terjadi gerhana bulan, lalu anda memukul kentongan. Perlahan-lahan bulan kembali terlihat dan gerhana berakhir. Apakah gerhana berakhir karena kentongan yang anda pukul?

Begitupun jika gempa NTB terjadi setelah TGB mendukung Jokowi, belum tentu ada hukum kausalitas di dalamnya. Yang lebih rasional adalah karena memang NTB ini berada di lempengan bumi yang rawan gempa. Ini alasan yang lebih selamat daripada mengaitkannya dengan preferensi politik.

Lantas bagaimana cara membaca ayat-ayat azab dalam Alquran? Dalam QS. 8:25 disebutkan bahwa kita harus takut terhadap bencana yang tak hanya menimpa orang zalim saja, namun menimpa yang shaleh juga. Gampang saja contohnya, misalnya banjir di Jakarta disebabkan banyak yang buang sampah ke sungai. Pada kenyataannya yang tertimpa banjir di Jakarta adalah seluruh penduduk baik yang buang sampah di sungai atau tidak. Inilah pengertian azab yang memang disebabkan ulah manusia terhadap lingkungan. Adapun azab dalam bentuk bencana alam murni, berhati-hati untuk melakukan spekulasi lebih baik.

sumber gambar: viva.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar