Kurban dan Kemiskinan

Persoalan yang sampai selama ini belum terentaskan di negara-negara Islam, termasuk Indonesia ialah kemiskinan. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa setidaknya hingga September 2017 terdapat 28.58 juta orang miskin (bps.go.id). Jumlah yang sungguh fantastis, paradoks dengan kehidupan sebagian masyarakat kita yang semakin hari semakin memperlihatkan gaya hidup yang serba hedonis.

Agar umat muslim dapat kembali ke spirit Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw., yaitu mengangkat derajat orang-orang yang lemah atau tertindas, maka sebenarnya momen hari raya Kurban perlu direvitalisasikan supaya tak lagi dianggap sekadar perayaan tahunan melainkan berdampak positif terhadap kemaslahatan umat manusia secara makro. Pemahaman kurban yang terambil dari akar kata q-r-b yang bermakna dekat, harus menemukan penerapannya ke dalam dua bentuk, hablu minallah dan hablu minannas.

Tetapi karena Allah adalah Sang Maha Kaya, yang tak membutuhkan apa pun, maka hal pengabdian yang dapat dilakukan umat manusia ialah dengan menghormati karya-Nya yang tiada lain adalah alam beserta isinya, termasuk manusia. Artinya, jika ingin mendekat kepada Allah maka dekatilah ciptaan-Nya, dekatilah hamba-hambanya yang lemah, miskin, atau tertindas. Kasihilah mereka sebagaimana Allah telah mengasihani kita. Dari sini ungkapan Islam rahmatan lil alamin mendapatkan pengaktualannya.

Jika ditarik dengan perayaan kurban kemudian dihubungkan pula dengan spirit Islam, maka akan ditemukan benang merah bahwa praktik ibadah tersebut bukan sekadar ungkapan syukur melalui berbagi nikmat (makanan: daging) yang mungkin hanya berdampak jangka pendek, tetapi lebih jauh ibadah kurban merupakan misi agung Islam, layaknya zakat, untuk memutus mata rantai kesenjangan sosial dan kemiskinan.

Beberapa cendekiawan yang menyadari pesan ini kemudian membuat sebuah terobosan baru terkait praktik fikih kurban yang selama ini dirasa kurang merasuk pada jiwa Alquran. Pendapat pertama, karena hanya melihat sisi antropologis, maka baginya penyembelihan hewan bisa dihapuskan saja, karena selain memiliki dampak besar terhadap rusaknya lapisan ozon akibat metana yang dilepas dari rumput yang dimakan hewan, penyembelihan hewan bukanlah sesuatu yang sifatnya ushuluddin. Baginya cukup bagi umat muslim untuk memberi uang saja seharga satu hewan kurban kepada orang yang membutuhkan sembari memberi pelatihan dan keterampilan sehingga mereka dapat berdikari. Tetapi pendapat ini jelas akan menimbulkan kontroversi besar.

Sebaliknya, pendapat yang kedua melakukan praktik pengurbanan sebagaimana umumnya tetapi mereka berinisiatif untuk mengambil daging-daging yang berlebih untuk dikirim ke daerah-daerah yang tertinggal, terpinggir, terisolasi, atau yang tak kebagian jatah. Tetapi bagi kalangan pembaharu, pandangan ini sama sekali tak menyelesaikan masalah. Oleh karena itu muncul pendapat ketiga yang mencoba untuk menengahi dua pendapat sebelumnya, yakni umat muslim melakukan ibadah kurban sebagaimana biasanya. Bedanya, setelah hewan dipotong, daging dikemas dan direkayasa sedemikian rupa sehingga menjadi produk makanan berjangka panjang sehingga dapat dijadikan sebagai modal usaha bagi si penerima kurban.

Adapun mengenai hadis yang mengungkapkan bahwa hasil kurban diperuntukkan 1/3 untuk pengurban, 1/3 untuk tetangga, dan 1/3 untuk orang yang membutuhkan, perlu dipahami sebagai bentuk hak yang sifatnya fakultatif, sehingga bagi yang sudah merasa mampu, harus memiliki kebesaran hati untuk memberi haknya kepada yang lebih membutuhkan. Jika ini dapat dilakukan maka tujuan kurban yang hendak membunuh sifat-sifat kebinatangan akan mendapatkan relevansinya. Semoga. []

sumber gambar: beritasatu.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar