Gempa Lombok: Ujian atau Azab

Muhammad Akbar
Beberapa hari yang lalu, gempa bumi berkekuatan 7 SR mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat. Beberapa daerah terdampak, akibatnya banyak bangunan publik roboh, rumah-rumah warga hancur, dan fasilitas lainnya pun rusak. Bahkan dikabarkan 83 warga meninggal dunia akibat kejadian ini.

Musibah gempa ini kemudian menyisakan tanya, apakah gempa Lombok tersebut merupakan adzab ataukah ujian semata?

Bagi saya, terlalu lancang rasanya menakar setiap fenomena alam dengan takaran manusia yang terkadang melangkah terlalu jauh melapaui kehendak-Nya. Terlalu sering rasanya fenomena alam dikaitkan dengan hal-hal mistis atau cocokologi. Mungkin ini salah satu imbas dari pemikiran masyarakat Indonesia yang masih lekat dengan keyakinan berbau mistis dan takhayul.

Terlepas dari itu semua, tentu semua kejadian alam yang terjadi sudah diatur oleh-Nya dengan perkiraan yang tepat dan akurat. Gempa bumi, tanah longsor, hujan badai dan kejadian lainnya merupakan rangkaian ketetapan-Nya. Tak perlu menakar semua itu adalah adzab atau ujian. Menakar fenomena alam dengan hitung-hitungan manusia dikhawatirkan akan menimbulkan ujub.

Melemparkan sangkaan bahwa, “Wajar ada gempa disana, wong orang-orang sana suka maksiat kok!”, “Pantas saja ada tsunami, mereka semua telah kufur nikmat”, sungguh—dalam pandangan saya—itu adalah berlebih-lebihan. Seolah-seolah dengan itu kita suci dari kemaksiatan dan kekufuran nikmat, sedangkan mereka yang tertimpa musibah adalah orang-orang bersalah. Ada hal yang justru lebih penting dari itu semua, yaitu muhasabah diri.

Tak perlu menyalahkan takdir, tak merlu menakar fenomena alam, lebih baik kita introspeksi diri; siapkah kita bila ditimpa musibah seperti mereka? bekal apa yang telah kita bawa untuk perjalanan akhirat kelak, di saat tiba-tiba rumah kita tertimbun longsoran tanah dan menelan kita yang ada didalamnya? Amalan apa yang akan kita persembahkan dihadapan-Nya jika sewaktu-waktu tsunami menyeret dan menenggelamkan kita? Kebaikan apa yang kita suguhkan pada-Nya manakala tiba-tiba angin topan menerbangkan dan mewafatkan kita?

Sayangnya, kita terlampau merasa suci untuk menilai diri. Sehingga kemaksiatan manusia lain jauh lebih nampak daripada kemaksiatan sendiri. Berhentilah menakar kejadian tersebut, mulailah untuk bertindak. Ambil langkah nyata. Bila tak mampu membantu, maka doakanlah. Bila tak juga mampu berdoa, maka diamlah.

sumber gambar: kumparan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar