Gempa Lombok, Turis Asing, dan Semangat Membangun Sektor Wisatanya

Beberapa hari lalu Lombok diguncang gempa dengan kekuatan 7 SR, tepatnya pada tanggal 5 Agustus 2018. Kemudian  diikuti gempa-gempa susulan yang terbilang banyak, hingga  hari ini tercatat 230 kali gempa susulan. Baiknya sebelum saya menyampaikan yang lain kita dahulukan ucapan belasungkawa kita, dan turut berduka bagi keluarga korban terdampak gempa, sampai tulisan ini dibuat, tercatat jumlahnya mencapai 105 korban jiwa.

Beberapa tahun belakangan ini Lombok menjadi destinasi wisata yang terbilang ramai pengunjung, baik dalam maupun luar negeri, konon daya tariknya setara Bali. Terutama bagi turis asing, meski minat dari dalam negeri pun tidak bisa disebut kecil.

Bangsa ini memang dengan sangat baik menerapkan budaya timur semisal menjunjung tamu tak ubahnya seorang raja. Raja yang saya maksud di sini adalah turis asing, karena perlakuan dari pelaku wisata bagi turis dari mancanegara bisa saya bilang lebih, ketimbang bagaimana perlakukan mereka terhadap tamu yang datang dari sebangsanya sendiri. Saya bisa bilang begini karena saya pernah kesana.

Tamu yang kita rajakan itu tentu membawa budaya asingnya, tak aneh jika minuman keras sangat marak, di satu daerah saya temukan di sebuah tempat—entah bar entah café atau apa—yang menjual secara terang-terangan. Saya coba mencari tahu, ternyata geliat pembuatan dan perevisian Perda mengenai penjualan miras di Lombok khususnya dan NTB pada umumnya cukup signifikan. Nanti dilarang, nanti dikendalikan, nanti direvisi lagi Perdanya agar miras bisa masuk, nanti dicabut lagi oleh gubernurnya, dan seterusnya.

Kita tahu NTB dipimpin oleh orang yang cukup kesohor namanya, Zainul Majdi, atau Tuan Guru Bajang yang namanya sempat santer dikabarkan akan menjadi batu sandungan Jokowi ini menjabat gubernur NTB 2 periode, politikus partai demokrat ini yang mencabut Perda-Perda dan merevisi Perda di beberapa daerahnya yang kedapatan menjadi celah masuknya miras secara besar-besaran dan tak terkontrol. Bahkan di satu artikel saya menemukan rasionalisasi dari perombakan Perda di salah satu kota di NTB karena dirasa pelarangan miras atau perijinan masuknya miras yang ketat itu sudah tidak sesuai dengan tujuan pariwisata yang sedang semangat-semangatnya dilakukan di daerah tersebut. Ini saya baru singgung miras, belum bisnis esek-esek lainya.

Ini yang mengherankan, seketika gempa mengguncang Lombok, ruang obrolan kita serta merta membahas dosa-dosa. Oh  itu karena banyak yang mabuk, oh itu karena banyak pelacuran, oh karena perjudian dan seterusnya, padahal itu memang terjadi sejak jauh-jauh hari, dan kita tahu itu semua sejak lama. Kemana saja kita? Sampai-sampai  harus menunggu gempa untuk bisa menyebut yang  salah adalah salah. Ditambah lagi saya kira menjadi kurang tepat pembahasan dosa-dosa itu ketika bencana sudah terjadi.

Ibarat kita tahu anak jangan main api, tatkala tangan anak sudah luka bakar kita malah sibuk membahas kesalahanya yang main api itu. Lebih parahnya lagi, yang terjadi di Lombok dan juga mungkin di beberapa tempat lain, saya melihatnya seperti seorang ibu yang melarang anaknya main api, tapi seketika ada tamu dari luar yang membawa anak main api, kita malah sediakan bensin, alasannya supaya tamu betah main ke rumah.

 Lihat saja, kalau rakyat sendiri yang jualan miras, kalau rakyat sendiri yang minum miras, kalau rakyat sendiri yang jadi penjaja atau penikmat bisnis esek-esek, larangannya ketat, disebut pekat, penyakit masyarakat. Tapi kalau turis yang datang, seolah tata nilai itu hilang, malah aturannya dibuat agar bisa menyesuaikan bahkan kalau bisa harus memfasilitasi berjalannya budaya tamu yang datang itu, tanpa perduli itu selama ini kita sebut penyakit masyarakat sekalipun. Ya bolehlah menggenjot pariwisata, tapi masa iya harus mengorbankan tatanan nilai bangsa? Bahkan sampai kita bela-bela buatkan Perdanya agar yang menjadi budaya mereka bisa masuk.

Jadi dengan kejadian ini, dengan telah didahului rasa belasungkawa yang mendalam terhadap para korban dan keluarga yang ditinggalkan, saya kira baiknya kita fikir ulang formulasi yang pas bagi negara penjaja destinasi wisata itu seperti apa? Seberapa banyak yang kita bisa negosiasikan dengan kebudayaan mereka? dan pada nilai-nilai luhur bangsa yang mana yang tidak boleh kita gadaikan atas nama semangat pariwisata.

Tak boleh dinafikan juga kalau bencana itu diturunkan atas keburukan apa yang diperbuat manusianya, apalagi spesifik yang kejadiannya adalah gempa, di mana kaitan antara terjadinya gempa dan kemaksiatan yang dilakukan masyarakat secara gambalng disebut dalam banyak hadis nabi, lebih ngerinya lagi, dalam banyak keterangan disebutkan bahwa banyaknya gempa ini menjadi ciri bagi dekatnya akhir zaman.

Jangan sampai nilai yang kita punya, keluhuran budi yang diturunkan nenek moyang kita atau tata nilai spiritual yang kita yakini dari agama kita menjadi luntur atas dalih semangat membangun sektor pariwisata, dan saya kira kejadian ini tidak hanya jadi pelajaran bagi Lombok, tapi juga bagi daerah yang menjadi tujuan wisata lainnya juga bagi masyarakat Indonesia keseluruhan.

 Dasar! memang kearifan lokal yang kita punya yang sudah berpadu padan dengan nilai-nilai keagamaan kita yang terlalu luhur atau kita yang gagal faham dengan kebijaksanaan itu, kita diajarkan memuliakan tamu, disaat yang  bersamaan jika kita bertamu diharuskan menghormati tuan rumah. Bahkan kita diajarkan untuk tidak duduk sebelum tuan rumah mempersilakan, atau tidak makan sebelum dipersilakan meski makanan sudah dihidangkan di meja sekalipun.

 Tapi tetap saja saya kira memuliakan tamu tidak harus dengan mem-babu-kan diri di rumah sendiri. Apalagi memfasilitasi mereka melakukan hal yang bertentangan dengan nilai yang kita junjung selama ini di rumah kita sendiri, sebatas mempersilakannya saja saya kira sudah sebuah kekeliruan. Sekali lagi, tentu dengan penuh rasa belasungkawa pada para korban dan keluarga yang ditinggalkan dan semoga kita semua menjadi umat yang layak untuk berada dalam lindungan dan karunia Allah Swt.

sumber gambar: vtriptravel.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar