Salahkah saya membela Meiliana? Seorang perempuan yang mendapat vonis 18 bulan penjara karena mengeluh dan meminta suara azan dikecilkan. Mungkin bagi sebagian orang saya salah, karena saya adalah muslim sedangkan Meiliana adalah (maaf) China Buddhis. Bagi mereka seharusnya solidaritas dan persaudaraan Islam saya membuat saya tak membela Meiliana. Benarkah begitu?

Maaf, selama ini saya diajarkan QS. Al Maidah : 8. Bahwa agama saya mengajarkan keadilan dalam menilai sesuatu. Janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil. Begitu kata Tuhan saya, kepada yang kita benci saja kita dituntut untuk tetap objektif, apalagi kepada yang kita tak benci? Saya tak benci dengan Meiliana. Kalau toh dia berbeda agama kata agamaku lakum dinukum wa liyadin. Soal agama ya itu silahkan diurus masing-masing.

Pernah suatu ketika ayat Alquran turun membela orang Yahudi yang difitnah mencuri baju besi oleh sahabat Nabi. Waktu itu Nabi pun sempat terkecoh dan membela sahabatnya, namun Allah Maha Tahu dan turunlah QS. 4:105-112. Asbabun Nuzul ayat itu menarik. Seorang muslim bernama Thu'mah bin Ubairiq dari Bani Dhafar mencuri baju perang pamannya, setelah ketahuan ia balik menuduh orang Yahudi yang mencurinya. Orang Yahudi yang tertuduh itu bernama Zaid bin as-Samin, karena tidak terima dituduh, ia mengadu kepada Nabi Muhammad saw.
Mengetahui respon orang Yahudi itu, saudara-saudara Thu'mah dari Bani Dhafar datang ke Nabi Muhammad untuk membela Thu'mah. Zaid bin as Samin hanya sendiri, agamanya Yahudi lagi, berhadapan dengan gerombolan orang-orang muslim dari Bani Dhafar di hadapan Nabi Muhammad saw. Hampir saja Nabi Muhammad saw. condong membela Thu'mah, dikarenakan Thu'mah seorang muslim, juga saudara-saudaranya yang bnyak itu, tapi ayat Alquran turun untuk membela Zaid bin Samin karena memang beliau tidak bersalah.

Turunlah ayat 107 : Dan janganlah engkau berbahas untuk membela orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri. Yang dimaksud orang yang mengkhianati diri mereka sendiri adalah Thu'mah. Lalu dalam ayat 112 Allah swt. berfirman: Dan sesiapa yang melakukan sesuatu kesalahan atau sesuatu dosa, kemudian ia menuduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah memikul kesalahan berbuat dusta, dan melakukan dosa yang amat nyata. Lagi-lagi ayat ini ditujukan kepada Thu'mah.

Tapi kan Meiliana menistakan agama? Loh kata siapa? Kalau benar Meiliana menistakan agama Islam saya tak akan membelanya. Tapi dia tidak menistakan agama. Loh tapi dia kan didakwa begitu? Ya yang mendakwa itu yang salah. Menurut sumber terpercaya sebenarnya masyarakat tidak akan melaporkan Meiliana. Namun ada pihak yang ngotot bahwa Meiliana ini menistakan agama. Mereka adalah FUI dan HTI, saya berada berlawanan dengan mereka walau kita seagama.

Meiliana mengatakan tolong volume azannya dikecilkan. Coba perhatikan, Meiliana terganggu oleh volumenya, bukan oleh azannya. Bayangkan anda sedang sakit di rumah sakit, tengah malam, lalu ada orang menyetel lagu shalawat dengan volume full. Kemudian anda bilang bahwa tidak boleh menyetel lagu shalawat malam-malam begini. Apakah anda menistakan shalawat? Tentu tidak. Lain halnya jika Meiliana mengatakan bahwa azan itu asalnya dari setan misalnya. Nah mungkin bisa masuk penistaan agama.

Tapi masalahnya Meiliana telah membuat orang tersinggung dan terprovokasi? Malah sampai merusak Vihara. Meiliana itu provokator. Ok memang sebagian orang pasti tersinggung bahkan terpancing emosi. Tapi apakah harus sampai merusak? Apakah harus sampai juga dituntut ke jalur hukum? Itu ajaran siapa? Nabi saja saat ada orang Badui kencing di mesjid menahan diri untuk memarahinya, walaupun para sahabat sudah siap untuk mengangkat pedang. Kenapa? Karena Nabi tahu bahwa orang Badui ini mereka belum tahu ilmunya. Sekarang kita ikut sunnahnya siapa? Kalau sedikit-sedikit bakar, sedikit-sedikit pentung.

Hati boleh panas, namun otak harus tetap dingin. Persoalan kemasyarakatan seperti ini bisa selesai oleh mediasi, enaknya Meiliana minta maaf dan umat Islam memaafkan. Seperti beberapa waktu ke belakang ada ustaz yang bilang kalau Aisyah itu gaul dan bilang bahwa Muhammad pernah sesat. Kan bisa selesai dengan permohonan maaf. Kenapa kasus Tanjung Balai tidak bisa begitu. Apakah karena ada provokator yang tidak mau kita damai? Wallahu a'lam bish shawwab.

sumber gambar: idntimes.com
Persoalan yang sampai selama ini belum terentaskan di negara-negara Islam, termasuk Indonesia ialah kemiskinan. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa setidaknya hingga September 2017 terdapat 28.58 juta orang miskin (bps.go.id). Jumlah yang sungguh fantastis, paradoks dengan kehidupan sebagian masyarakat kita yang semakin hari semakin memperlihatkan gaya hidup yang serba hedonis.

Agar umat muslim dapat kembali ke spirit Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw., yaitu mengangkat derajat orang-orang yang lemah atau tertindas, maka sebenarnya momen hari raya Kurban perlu direvitalisasikan supaya tak lagi dianggap sekadar perayaan tahunan melainkan berdampak positif terhadap kemaslahatan umat manusia secara makro. Pemahaman kurban yang terambil dari akar kata q-r-b yang bermakna dekat, harus menemukan penerapannya ke dalam dua bentuk, hablu minallah dan hablu minannas.

Tetapi karena Allah adalah Sang Maha Kaya, yang tak membutuhkan apa pun, maka hal pengabdian yang dapat dilakukan umat manusia ialah dengan menghormati karya-Nya yang tiada lain adalah alam beserta isinya, termasuk manusia. Artinya, jika ingin mendekat kepada Allah maka dekatilah ciptaan-Nya, dekatilah hamba-hambanya yang lemah, miskin, atau tertindas. Kasihilah mereka sebagaimana Allah telah mengasihani kita. Dari sini ungkapan Islam rahmatan lil alamin mendapatkan pengaktualannya.

Jika ditarik dengan perayaan kurban kemudian dihubungkan pula dengan spirit Islam, maka akan ditemukan benang merah bahwa praktik ibadah tersebut bukan sekadar ungkapan syukur melalui berbagi nikmat (makanan: daging) yang mungkin hanya berdampak jangka pendek, tetapi lebih jauh ibadah kurban merupakan misi agung Islam, layaknya zakat, untuk memutus mata rantai kesenjangan sosial dan kemiskinan.

Beberapa cendekiawan yang menyadari pesan ini kemudian membuat sebuah terobosan baru terkait praktik fikih kurban yang selama ini dirasa kurang merasuk pada jiwa Alquran. Pendapat pertama, karena hanya melihat sisi antropologis, maka baginya penyembelihan hewan bisa dihapuskan saja, karena selain memiliki dampak besar terhadap rusaknya lapisan ozon akibat metana yang dilepas dari rumput yang dimakan hewan, penyembelihan hewan bukanlah sesuatu yang sifatnya ushuluddin. Baginya cukup bagi umat muslim untuk memberi uang saja seharga satu hewan kurban kepada orang yang membutuhkan sembari memberi pelatihan dan keterampilan sehingga mereka dapat berdikari. Tetapi pendapat ini jelas akan menimbulkan kontroversi besar.

Sebaliknya, pendapat yang kedua melakukan praktik pengurbanan sebagaimana umumnya tetapi mereka berinisiatif untuk mengambil daging-daging yang berlebih untuk dikirim ke daerah-daerah yang tertinggal, terpinggir, terisolasi, atau yang tak kebagian jatah. Tetapi bagi kalangan pembaharu, pandangan ini sama sekali tak menyelesaikan masalah. Oleh karena itu muncul pendapat ketiga yang mencoba untuk menengahi dua pendapat sebelumnya, yakni umat muslim melakukan ibadah kurban sebagaimana biasanya. Bedanya, setelah hewan dipotong, daging dikemas dan direkayasa sedemikian rupa sehingga menjadi produk makanan berjangka panjang sehingga dapat dijadikan sebagai modal usaha bagi si penerima kurban.

Adapun mengenai hadis yang mengungkapkan bahwa hasil kurban diperuntukkan 1/3 untuk pengurban, 1/3 untuk tetangga, dan 1/3 untuk orang yang membutuhkan, perlu dipahami sebagai bentuk hak yang sifatnya fakultatif, sehingga bagi yang sudah merasa mampu, harus memiliki kebesaran hati untuk memberi haknya kepada yang lebih membutuhkan. Jika ini dapat dilakukan maka tujuan kurban yang hendak membunuh sifat-sifat kebinatangan akan mendapatkan relevansinya. Semoga. []

sumber gambar: beritasatu.com

Kurban dan Kemiskinan

by on Agustus 24, 2018
Persoalan yang sampai selama ini belum terentaskan di negara-negara Islam, termasuk Indonesia ialah kemiskinan. Data terbaru dari Badan P...

Sejarah Islam adalah sejarah perang, hal ini tercatat dengan rapi dalam referensi standar sejarah Islam. Misalnya dalam kitab kecil berjudul Khulashah Nurul Yaqin, digambarkan bahwa setelah hijrah ke Madinah, hal pokok yang dilakukan umat Islam adalah berperang. Tercatat Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Tabuk dan perang lainnya menjadi materi pelajaran yang wajib diajarkan kepada anak-anak kita. Pasca meninggalnya Nabi kita masih disuguhi dengan berbagai peperangan, diantaranya perang terhadap golongan murtad, Perang Yamamah, Perang Jamal, Perang Shiffin, dan perang dalam rangka penaklukan wilayah-wilayah baru.

Narasi-narasi tersebut sangat akrab dalam telinga kita dan diajarkan semenjak dini oleh masyarakat muslim. Tak aneh bila dalam karnaval kemerdekaan di Kota Probolinggo, siswa-siswi TK Kartika menggunakan kostum perempuan bercadar dengan membawa senapan. Hal ini memancing kontroversi di tengah masyarakat baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Banyak netizen yang mengecam kostum karnaval tersebut karena mengajarkan radikalisme bahkan terorisme di kalangan anak usia dini. Mendikbud dengan segera mengunjungi TK tersebut untuk meminta klarifikasi, melakukan pembinaan dan memberikan sumbangan sebesar 25 juta rupiah.

Pihak TK mengklarifikasi bahwa kostum karnaval tersebut tidak dimaksudkan untuk mengajarkan radikalisme dan terorisme. Mereka beralasan bahwa kostum tersebut menyesuaikan dengan tema yang mereka usung yakni meneladani sejarah Rasulullah SAW.

Pihak TK juga menyayangkan yang menyebarkan video tersebut karena tidak merekam secara utuh. Padahal di belakang anak-anak bercadar, ada juga kumpulan anak-anak bergamis dan membawa bendera merah putih. Mendikbud menerima klarifikasi pihak TK, pihak kepolisian berencana mengusut orang yang merekam dan menyebarkan video. Sikap Mendikbud dan Kepolisian membuat sebagian netizen geram karena dianggap mendukung radikalisme.

Dari polemik di atas, setidaknya kita tahu bahwa dalam masyarakat kita, yang dinamakan perjuangan Rasulullah SAW adalah peperangan. Opini tersebut diperkuat oleh banyaknya ayat-ayat tentang jihad, di mana jihad dimaknai sebagai perang. Hal ini semakin memperkuat opini saya bahwa sejarah Islam adalah sejarah perang.

Padahal jika kita telaah lebih jauh, peperangan hanyalah sedikit bagian dalam sejarah Islam. Bambang Q Anees seorang akademisi dari UIN Bandung, menemukan bahwa dalam masa 10 tahun Nabi di Madinah, hanya sekitar 80 hari terjadi peperangan. Artinya sangat sedikit sekali sebenarnya waktu berperang yang dilakukan Nabi dibanding masa hidup beliau di Madinah. Lantas sisanya digunakan untuk apa?

Jika kita telaah Alquran dan Hadits, maka kita akan tahu bahwa di Madinah Nabi Muhammad menghabiskan waktunya untuk berdakwah dan mengajarkan ilmu. Wahyu yang senantiasa turun segera Nabi ajarkan dan sebarkan kepada umatnya. Beberapa sahabat beliau menulis dan intensif menghafal wahyu-wahyu tersebut. Saat Nabi tiada berkembanglah tradisi tulis dalam rangka menjaga otentisitas wahyu guna menguatkan tradisi lisan.

Inilah esensi dari perjuangan Rasulullah SAW yang banyak kita lupakan karena kitab-kitab sejarah yang kurang komprehensif. Kita perlu menarasikan ulang sejarah perang dengan sejarah pengetahuan. Sehingga ke depan tema perjuangan Rasulullah SAW tidak diisi dengan sekumpulan anak usia dini membawa senjata, namun kostum yang digunakan adalah dokter, ilmuwan, guru dll.

Anak-anak usia dini adalah pembelajar yang ulung, mereka sangat cepat menangkap dan meniru dari sekelilingnya. Hendaknya mereka disuguhkan dengan hal-hal yang relevan dengan persoalan bangsa hari ini.

Jika Rasulullah SAW hidup di tengah-tengah kita hari ini, maka yang akan beliau perjuangkan adalah membangun integritas bangsa, mengingat sikap korup bangsa kita yang sudah akut. Yang akan beliau kampanyekan adalah soal persatuan, mengingat banyak yang ingin bangsa kita terpecah belah. Yang akan beliau suarakan adalah soal keadilan sosial, mengingat masih adanya kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Karena itu kostum cadar dengan membawa senapan menjadi tidak relevan di masa kini.

sumber gambar: malangtimes.com
Fendy Chovi
Malam itu saya menonton TV dan menyaksikan breaking news terkait Gempa di Lombok. Gempa 7 Sr itu begitu meluluhlantakkan sebagian bangunan rumah dan membuat warga panik.

Melihat saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Hati dan jiwa kita terenyuh dan aksi solidaritas penggalangan dana dan bantuan pun digelar. Rasa empati dan rasa persaudaraan dilakukan oleh orang-orang di berbagai daerah untuk meringankan beban orang-orang yang kesusahan.

Nah, semangat Idul Adha kali ini setidaknya, mengingatkan kita bagaimana Nabi Ibrahim rela menyerahkan harta yang selama ini disayangi dan dicintainya, yaitu "buah hati" nya, yang bernama "Ismail" demi menuruti perintah Allah Swt. Perintah Allah untuk menyembeli sang putra itu sungguh ujian berat bagi Ibrahim.

Namun, Ibrahim menjalankan perintah itu dan Allah pun mengganti Ismail dengan domba sebagai bukti ketulusan ibrahim.

Ibrahim, nabi yang sekaligus leluhur semua agama samawi ini mengajarkan kita makna ketulusan dan pengorbanan demi mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan berserah diri sepenuh hati dan pengabdian.

Mampukah kita meneladani Ibrahim?

Menyerahkan sebagian harta atau apa saja yang kita miliki untuk meringankan kesulitan dan penderitaan orang lain, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt?

Mendekatkan diri kepada Allah harus dimakna pendekatan vertical dan horisontal. Kita mendekat kepada Tuhan dengan kewajiban dan perintah beribadah dan membantu orang lain yang kesusahan. Pesan-pesan kemuliaan dituturkan di berbagai literatur agama, tentang pentingnya menyayangi dan meringankan beban orang-orang yang lemah.

Setidaknya, ingatan kita tentang hari raya Idul Adha, yaitu, ketulusan serta kesalehan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, menjadi cerita menarik tentang penyerahan diri Ibrahim, untuk melepaskan rasa keterikatakan hanya untuk meraih ridha Allah swt. Bentuk keterikatan dan rasa kepemilikan itu, dibelah dengan adanya perintah menyembeli sang putra,hingga allah mengganti dengan domba.

Cerita itu, setidaknya mampu menginspirasi kita jika setiap pengorbanan dan rasa tulus untuk mengabdi kepada sang pencipta, akan diganti sesuatu yang lebih baik dan lebih menyempurnakan kehidupan kita dalam bermasyarakat.

Begitu juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita perlu semangat solidaritas saling membantu dan tolong menolong demi tujuan-tujuan mengutuhkan aksi meringankan saudara-saudara kita lainnya.

Idul Adha mengajarkan kita kesediaan untuk berqurban secara ikhlas. Menyerahkan segala pemberian Allah untuk mengabdi kepada-Nya dan membantu hamba-Nya. Mengabdi kepada Allah harus dimulai dengan semangat menolong dan mengabdi kepada saudara seiman maupun yang berbeda keyakinan yang butuh uluran tangan.

Solidaritas dalam kehidupan bermasyarakat, harus dimulai dalam kehidupan sehari-hari. Mengutuhkan rasa berkorban demi membantu anggota masyarakat yang terjerat kesulitan. Bukankah dengan kesulitan itu, kita berbuat kemuliaan yang kelak akan memuliakan orang lain juga. Sudahkah Anda melakukannya?

sumber gambar: phinisi.co
Hari Raya Idul Adha menjadi salah satu bukti agama Islam sebagai rahmatan lil alamin. Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya sebatas ritual saja pada Allah Swt, tetapi lebih dari itu ibadah juga harus berdampak lebih baik pada dirinya dan orang di sekitarnya.

Melalui ibadah kurban, orang kaya belajar untuk berbagi sehingga nikmat dan kebahagiaan pun menyebar pada semua kalangan masyarakat. Dengan demikian diharapkan tumbuh dalam masyarakat semangat berbagi, gotong royong, empati, dan mengikis kesenjangan sosial dan kesenjangan ekonomi.

Kurban itu sendiri bermakna mendekatkan diri pada Allah Swt, seolah ia mengajarkan bahwa jika kita ingin lebih dekat pada Allah Swt, maka kita juga harus dekat pada sesama. Yaitu dengan jalan melepaskan kecintaan kita pada selain-Nya, salah satunya pada harta untuk dibagikan pada orang lain.

Jika kurban dilaksanakan dengan ikhlas dan dipahami dengan baik maka akan menumbuhkan jiwa yang semakin dekat pada Allah Swt dan semakin baik dalam ber-akhlak dengan orang lain.

Dari segi sosial tentu sudah banyak pengaruh positif yang kita rasakan dari ibadah kurban ini, di antaranya yaitu saling berbagi dan mengikis kesenjangan ekonomi. Meskipun demikian tidak sedikit orang di luar sana yang justru menganggap sinis ibadah kurban ini. Mereka menganggap kurban sebagai budaya primitif, sadis, pembantaian hewan, dan lain sebagainya. Berbagai tuduhan ini datang karena belum paham atau salah paham mengenai syariat Islam.

 Bahkan di beberapa daerah ibadah kurban terasa sulit karena banyak kecaman. Misalnya saja di India, dimana kita tahu bahwa mayoritas masyarakatnya sangat memuliakan sapi. Di sinilah umat muslim belajar untuk sabar dan toleransi.

Ada keunikan tersendiri dalam ibadah kurban ini. Bayangkan saja, kurban sudah dilakukan dari semenjak 14 abad yang lalu di mana setiap tahunnya jutaan sapi, domba, dan unta disembelih secara bersamaan, namun belum pernah terjadi kepunahan hewan tersebut. Bahkan kelangkaan saja belum pernah. Setiap tahunnya jumlah hewan-hewan itu selalu ada dan cukup. Hal ini menjadi bukti kebenaran syariat. Allah Swt yang memerintahkan kurban tentu Allah Swt juga yang sudah menyiapkan berbagai keperluannya.

Kurban sebagai perwujudan agama Islam yang rahmatan lil alamin perlu kita pelajari dan pahami kembali. Karena tak jarang justru perilaku beberapa oknum malah mencoreng ibadah kurban ini. Kita terkadang lupa bahwa kurban sebagai rahmatan lil alamin semestinya tidak hanya dirasakan oleh manusia saja, namun harus dirasakan oleh seluruh makhluk salah satunya yaitu hewan terlebih hewan yang akan dikurbankan.

Banyak hadis shahih yang mengajarkan bagaimana adab dalam menyembelih. Di antaranya menyenangkan hewan, mempercepat penyembelihan, dan tidak memperlihatkan proses penyembelihan pada hewan lain. Hal inilah yang mesti kita renungkan kembali. Tidak sedikit di masyarakat kita yang lupa bahwa kasih sayang pada binatang ini telah diajarkan oleh Rasulullah saw.

Tak jarang kita lihat kurangnya perhatian yang baik pada hewan dalam pelaksanaan ibadah kurban. Ada yang hewan kurbannya diseret dan diikat dengan kasar, dijemur. Bahkan pernah saya lihat ketika sapi hendak dirobohkan, tali yang yang mengikat kepalanya tiba-tiba bergeser melintang ke arah mata sapi. Tentunya hal ini membuat sapi kesakitan, namun justru panitia kurban malah membiarkannya dan melanjutkan proses perobohan dan penyembelihan.

Hal yang sama juga saya lihat dalam proses penyembelihan hewan di Arab Saudi ketika pembayaran Dam (denda haji) dan ibadah kurban yang justru kurang memperhatikan adab dalam menyembelih. Di antaranya yaitu menyeret dan memperlihatkan proses penyembelihan dihadapan binatang lain.

Semoga dengan tulisan ini kita bisa lebih memahami ibadah kurban dan agama Islam yang rahmatan lil alamin. Rahmatnya tidak hanya untuk manusia namun untuk seluruh alam semesta termasuk binatang.

sumber gambar: gambar.co.id
Fahmi Munib

73 tahun silam, tepat hari ini Indonesia telah diproklamirkan sebagai negara yang merdeka oleh para proklamator-proklamator bangsa, naskah proklamasi pun telah dikumandangkan oleh Bapak Ir. Soekarno yang juga sebagai pahlawan bangsa, namun disaat yang bersamaan katika proklamasi dibacakan bangsa kita masih belum seutuhnya terbebas dari teror para penjajah, sehingga para pejuang harus ekstra mengusir penjajah dari tanah bumi pertiwi.

Bangsa kita diperjuangkan dengan waktu yang cukup lama, dengan pertumpahan darah para pahlawan bangsa, dengan senjata yang hanya berupa bambu yang runcing pada ujungnya, dengan doa yang senantiasa terpanjat dari lubuk hati para pejuang bangsa. Bangsa kita telah melewati drama memilukan yang ditokohi oleh manusia, penjajah sebagai tokoh Antagonis dan para pahlawan sudah tentu sebagai tokoh Protagonis.

Detik ini, Indonesia telah ditinggalkan oleh para penjajah-penjajah yang menodongkan senjata, melempar granat, dan menembakkan meriam, kita tidak lagi bekerja secara Rodi maupun Romusa kepada penjajah, tanah kita sudah tak lagi diinjak kaki-kaki penjajah, seharusnya kita sudah merdeka.

Namun, apakah kita sudah merdeka secara utuh? tanyakan pada diri kita masing-masing, merdeka seharusnya tak ada lagi kesenjangan sosial, merdeka seharusnya tak ada lagi rasa takut untuk menyampaikan aspirasi, merdeka seharusnya tak ada lagi pertumpahan darah, merdeka seharusnya tak ada lagi rakyat yang tergusur, merdeka seharusnya kita jadi aktor utama untuk bangsa kita sendiri, merdeka seharusnya tak ada narkoba yang dikonsumsi, merdeka seharusnya tak ada lagi koruptor yang merugikan bangsa, merdeka seharusnya tak ada lagi mafia-mafia yang jahat di bangsa ini, dan merdeka seharusnya diisi dengan rasa syukur pada Tuhan yang Mahakuasa.

Kita percaya bangsa ini sedang berbenah diri menjadi pribadi yang dicintai, mari kita doakan bersama semoga bangsa ini menjadi bangsa yang Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafūr, mari berbuat yang terbaik untuk bangsa ini, sumber daya alam yang kita miliki mari kita jaga, mari jadi tuan di ditanah sendiri, dan mari kita kerja nyata untuk bangsa ini.

Jika ditanya seberapa cinta kita pada bangsa Indonesia, tidak usah dijawab dengan narasi yang panjang atau dengan drama demi drama yang beredpsode-episode, cukup saja jawab “Selama Tuhan tanamkan cinta pada kita, selama itu rasa cinta akan mengalir untuk Indonesia”.

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia, semoga senantiasa Tuhan menjaga bangsa kita.

Indonesia, 17 Agustus 2018


sumber gambar: tribunnews.com
Muhammad Akbar
Belum lama ini, ada sebuah peristiwa yang lumayan menyedot perhatian publik, yaitu munculnya Kerajaan Ubur-ubur di Serang, Banten. Kerajaan Ubur-ubur ini merupakan sebuah sekte ajaran yang diisinyalir sesat dan menyimpang. Bahkan dikabarkan bahwa pemimpin Kerajaan Ubur-ubur ini, yaitu Aisha Tusalamah Baiduri mengaku sebagai penjelmaan Roro Kidul. Mungkin alasan ini pulalah yang mengilhami penamaan sektenya sebagai Kerajaan Ubur-ubur.

Seperti yang dikutip dari Kumparan.com, MUI Kota Serang mencatat bahwa ada tiga kesesatan dan enam penyimpangan yang dilakukan Kerajaan Ubur-ubur. Beberapa di antaranya adalah: menyebut Muhammad adalah wanita, Ka’bah bukan kiblat umat Islam, mengaku sebagai perwujudan Allah, hingga mengklaim sebagai jelmaan Nyi Roro Kidul.

Tak ubahnya seperti ajaran-ajaran menyimpang yang pernah terjadi sebelumnya, ada sebuah pengakuan klise; mengaku sebagai perwujudan atau penjelmaan Tuhan. Bagi orang beriman, tentu pengakuan tersebut amatlah mustahil dan menyesatkan. Bagaimana mungkin seorang manusia biasa mengaku dirinya sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa?

Dalam Islam, Ke-MahaKuasa-an Allah tidaklah terbatas, meliputi kuasa atas langit dan bumi, dunia dan akhirat, seluruh jagad alam raya. Bila Allah menjelma dalam wujud makhluk-Nya, maka Dia telah turun derajat dan menjadi terbataslah Ke-MahaKuasa-an-Nya. Justru dengan keghaiban-Nya, Allah terbebas dari cacat makhluqi.

Bila Tuhan menjelma dalam wujud manusia, Tuhan akan merasakan lapar, haus, mengantuk, kesal, sedih, gembira, terluka, rasa sakit, bahkan merasakan kematian. Apakah Tuhan serapuh itu? Tentu tidak.

Rumah tersebut di atas merupakan “istana” kerajaan Ubur-ubur yang didiami oleh 12 pengikutnya. Saya semakin heran, bagaimana bisa istana “Tuhan” begitu sederhana, sedangkan semestinya Tuhan adalah Penguasa Alam Semesta? Di tengah kekuasaan Tuhan atas Alam semesta ini, masa iya Tuhan ngontrak di rumah sepetak? Ah, makin ngawur saja.

sumber gambar:
news.detik.com
kumparan.com

Indonesia boleh berbangga karena hendak memasuki usia kemerdekaan yang ke-73. Tetapi patut direnungi pula bahwa matangnya usia ternyata masih belum bisa menciptakan kultur yang benar-benar merdeka, termasuk di dunia pendidikan formal. Pernak-pernik feodalisme masih bisa kita temukan di mana-mana, sehingga tujuan pendidikan nasional yang isinya pun senada dengan spirit tujuan penciptaan manusia dalam agama Islam (melahirkan insan kamil) seringkali terhambat.

Di antara bentuk penghambat kemerdekaan ialah pengekangan secara rigid yang dilakukan oleh orang dewasa. Ina Liem, seorang aktivis pendidikan yang juga merupakan penulis buku berjudul Kreatif Memilih Jurusan, menyayangkan stigma yang masih tumbuh di masyarakat yang menganggap bahwa siswa IPA lebih superior dibanding siswa IPS. Para orang tua siswa suka memaksa anaknya untuk memilih jurusan IPA karena dianggap lebih profitable di dunia karir. Sama halnya dengan sebagian guru/sekolah yang bahkan mempersulit siswanya masuk ke IPS karena nilainya yang mencukupi untuk masuk jurusan IPA.  

Dalam kasus yang lain, alih-alih mendorong daya ekploratif dan analitis-kritis, masih banyak guru yang, baik secara ekplisit maupun implisit, mematikan daya ekploratif dan inovatif siswa dengan pemaksaan pada satu buah pandangan tunggal. Di pelajaran Pendidikan Agama Islam tentang fikih misalnya, seorang guru hanya menjunjung tinggi pendapat yang dianutnya saja sembari menihilkan variasi pandangan fikih lainnya, padahal pada kenyataannya siswa yang diajar pastilah berasal dari kultur keagamaan yang beragam.

Sama halnya dengan pelajaran eksak yang mana guru masih saja menyuruh siswanya untuk mengikuti rumus atau cara-cara yang dipahaminya tanpa menstimulus siswa untuk dapat mengembangkan metode buatannya sendiri.

Contoh yang paling terasa ialah di bidang kesenian. Karena dari dahulu para guru hanya memberi contoh tunggal, biasanya berupa gambar pemandangan alam di mana terdapat matahari yang diapit oleh gunung biru, maka tak aneh ketika siswa diminta untuk menggambar sesuatu lantas mereka tidak bisa menggambar objek lain kecuali dari apa yang pernah digambar oleh gurunya.

Di dalam esainya yang berjudul The Planet Does Not Need More Successful People (2015) Nalini Singh merasa miris melihat kenyataan pendidikan saat ini yang sangat menekankan aspek mendengar pasif atau hafalan-hafalan yang kemudian jika siswa dapat menirunya maka ia akan diberi nilai yang bagus. Akhirnya sekolah cuma menjadi ajang imitasi siswa ke guru alih-alih mengembangkan kemampuan unik mereka.

Tentu saja pola pembelajaran di atas sangat jauh dari semangat luhur pendidikan yang menekankan aspek kebebasan dan kemandirian. Oleh karenanya orang-orang dewasa, baik orang tua maupun guru, perlu mengubah perspektifnya dari yang berpola imitatif menuju pembebasan.

Beberapa langkah awal yang dapat dilakukan ialah, pertama, membangun relasi dinamis-demokratis antara guru dan siswa. Guru tidak lagi bersikap otoriter-mekanistik dalam mendidik melainkan perlu membimbing para siswa untuk diajak berani membuat keputusan, mengambil risiko, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kiat ini bisa dipraktikkan dalam membuat kesepakatan peraturan kelas misalnya.

Kedua, membuka kebebasan siswa untuk berpendapat, memerdekakannya dari rasa takut untuk mengajukan gagasan. Sekolah harus memberi ruang di mana terjadi interaksi pertukaran budaya, gagasan, dan sudut pandang antar siswa. Kiat ini jelas akan membentuk pembelajar yang optimis, berani, kritis, dan inklusif, sebab mereka akan senantiasa berkenalan dengan hal-hal baru.

The last but not least, menciptakan kultur kepedulian terhadap lingkungan, yang berarti sekolah mendorong siswa untuk turut aktif memerdekakan masyarakat yang lemah atau tertindas. Dengan ini tertolaklah pandangan sinis yang menganggap semakin tinggi pendidikan formal maka semakin berjaraklah ia dengan lingkungannya.

sumber gambar: rumahliterasimataseger.wordpress.com

Memerdekakan Siswa

by on Agustus 15, 2018
Indonesia boleh berbangga karena hendak memasuki usia kemerdekaan yang ke-73. Tetapi patut direnungi pula bahwa matangnya usia ternyata ...
Akhmad Fauzi

Berbicara tentang pengertian filsafat, Hatta berpendapat lebih baik tidak dibicarakan lebih dulu. Nanti, bila seseorang telah banyak membaca atau mempelajarinya, maka ia akan mengetahui pengertian filsafat sesuai sudut pandangnya. Kebanyakan para ahli lain pun mengamini hal itu. Namun, ada juga yang ingin mencoba memberi gambarannya secara singkat.

Menurut mereka filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia. Kata teresebut merupakan gabungan dari kata philo yang berarti cinta, dan shopia yang berarti kebijakan. Jadi secara singkat, filsafat berarti cinta kebijakan atau cinta kebijaksanaan. Konon filsafat merupakan induk dari semua ilmu pengetahuan. Semua kemajuan peradaban dunia terjadi karena orang-orang berfilsafat, tak terkecuali dengan Islam.

Islam mengalami kemajuan peradaban pada masa Dinasti Abbasiyah karena filsafat menjamur bak buih di lautan. Banyak filosof muslim pada saat itu. Semua itu karena peran Khalifah berkuasa yang cinta terhadap ilmu. Salah satu bentuknya adalah penerjemahan buku-buku Yunani kuno mengenai filsafat.

Namun, setelah melesat jauh ke atas, peradaban Islam perlahan menukik tajam ke bawah. Menurut sebagian pendapat, hal tersebut dimulai sejak masa Al-Ghazali. Setelah Al-Ghazali menulis buku “Tahafut al-Falasifah”, dunia filsafat Islam mengalami kemunduran. Namun di tengah kemunduran tersebut, ada suatu wilayah Islam yang tetap melestarikan filsafat sehingga tetap eksis sampai saat ini, yaitu Persia.

Begitu pun dengan peradaban Eropa yang berhasil keluar dari masa kegelapan karena filsafatnya. Meskipun melahirkan banyak aliran filsafat, kehidupan Barat modern umumnya berlandaskan pada filfasafat empirisme, atau setidaknya positivisme (penggabungan rasionalisme dan empirisme). Yang belakangan disebut telah menjadi fondasi dari defisini ilmu modern dengan mengatakan bahwa yang ilmiah ialah sesuatu yang rasional dan empiris.

Dari kedua peradaban di atas, kita akan menemukan perbedaan yang mendasar mengenai keduanya, yakni dalam hal epistemologi dan ontologi. Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memporoleh pengetahuan. Sedangkan ontologi membicarakan mengenai objek-objek yang dipikirkan.

Dari segi epistemologi, filsafat Islam menggunakan rasio, empiris, dan intuisi sebagai sumber pengetahuannya. Berbeda dengan filsafat Barat modern yang hanya menggunakan pengalaman indra saja sebagai sumber pengetahuannya (rasio jarang dijadikan sumber).

Perbedaan tersebut yang menyebabkan filsafat Barat modern tidak memercayai hal-hal yang bersifat intuitif karena dianggapnya terlalu subjektif. Menurut mereka kebenaran haruslah rasional dan empiris. Sedangkan filsafat Islam memercayai hal tersebut. Filsafat Islam memercayai bahwa hal-hal yang didapatkan dari intuisi dapat dipakai sebagai sumber pengetahuan.

Perbedaan epistemologi juga yang menyebabkan keduanya (filsafat Islam dan filsafat Barat) mengalami perbedaan dari segi ontologi. Objek yang dikaji oleh filsafat Barat hanyalah sesuatu yang terlihat oleh indra dan pernah teralami saja. Itu karena filsafat barat tidak memercayai intuisi sebagai sumber mencari kebenaran juga karena tidak memercayai adanya hal-hal gaib seperti setan, malaikat, atau Tuhan.

Berbeda dengan filsafat Islam. Objek yang dikaji dalam filsafat Islam adalah sesuatu yang terlihat dan tidak terlihat (gaib) oleh indra. Islam memercayai bahwa intuisi bisa digunakan dalam mencari kebenaran. Bahkan, intuisi dianggap tingkatan tertinggi dalam mencari kebenaran.

Di dalam khazanah Islam terdapat tiga tipe manusia mulia. Yang pertama ialah para filsuf. Mereka yang lebih mengedepankan rasio (burhany) dalam mencari kebenaran. Salah satu tokohnya yaitu Ibnu Sina.

Yang kedua adalah para sufi. Istilah sufi lebih digunakan dalam Islam untuk mereka yang lebih mengedepankan intuisi dalam mencari kebenaran. Salah satu tokohnya yaitu Imam al-Ghazali.

Yang terakhir adalah para teosofer, ialah orang yang sangat kaya pengalaman spiritualnya tetapi juga dapat mengaktualisasikannya ke dalam cara-cara yang demonstratif (rasional). Inilah yang paling termulia. Salah satu tokohnya yaitu Mulla Sadra.

sumber gambar: strategy2050.kz
Rentetan gempa bumi yang menimpa Provinsi Nusa Tenggara Barat menarik perhatian masyarakat Indonesia. Bencana berskala nasional ini mengundang simpati serta aksi dari berbagai komponen masyarakat. Relawan dan bantuan logistik dikerahkan untuk membantu  memulihkan korban gempa bumi. Suasana duka meliputi keluarga yang ditinggalkan oleh anggotanya yang menjadi korban meninggal dari bencana ini.

Di luar daerah bencana, muncul spekulasi-spekulasi terkait gempa bumi yang terjadi di bumi seribu masjid ini. Ada yang mengaitkan bencana ini dengan sikap politik Tuan Guru Bajang Zainul Majdi yang beralih haluan politik mendukung Presiden Jokowi. Hal ini terekam dalam jejak digital di media sosial. Banyak juga yang menolak peristiwa bencana dikaitkan dengan politik. Mereka mengecam pihak yang alih-alih berempati, namun malah melakukan politisasi terhadap bencana.

Bagaimanakah sebenarnya agama Islam memandang bencana? Apakah bencana alam merupakan azab atau ujian? Bagaimana cara membedakannya? Dalam Alquran banyak diceritakan mengenai bencana. Misalnya bencana yang menimpa kaum Sodom, kaum ‘Aad dan kaum Tsamud. Diceritakan juga kesulitan yang menimpa Ashabul Ukhdud yang dibakar hidup-hidup, Ashabul Kahfi yang dikejar-kejar raja zalim dan Musa yang diperangi Firaun.

Bencana yang menimpa kaum Sodom, ‘Aad dan Tsamud disebut dengan azab. Azab artinya hukuman atau siksaan, disebabkan karena mereka membangkang terhadap perintah Allah dan terhadap Rasul yang diutus. Adapun yang menimpa Ashabul Ukhdud, Ashabul Kahfi, dan Musa adalah ujian. Allah menguji orang-orang baik untuk menaikan derajat mereka.

Lantas bagaimana dengan bencana yang terjadi di zaman sekarang? Tercatat beberapa bencana besar sudah terjadi di Indonesia, misalnya Tsunami Aceh, Gempa di Yogyakarta, Banjir Bandang di Garut dan terakhir Gempa di NTB. Rasanya menjadi pelik jika kita mencoba mengkategorisasi bencana tersebut menjadi ujian atau azab.

Alasannya yang pertama, jika narasi dalam Alquran menyebutkan bahwa yang baik akan diuji dan yang jahat akan diazab, maka dalam kehidupan riil hari ini tidak ada orang yang murni baik dan murni jahat. Manusia hari ini mengandung kebaikan dan kejahatan sekaligus dalam dirinya. Tidak ada tokoh protagonis dan antagonis seperti dalam narasi Alquran. Yang kedua, menyebutkan bahwa sebuah bencana adalah azab mengandung unsur spekulasi yang tinggi, seolah-olah kita diberi wahyu.

Oleh karena itu para ulama berpendapat bahwa dalam sebuah bencana ada tiga makna yang terkandung di dalamnya. Pertama, bencana adalah ujian bagi orang yang beriman. Kedua, bencana adalah peringatan bagi orang yang bermaksiat namun masih ada iman di hatinya. Bencana diberikan Tuhan agar mereka kembali menjadi beriman. Ketiga, bencana adalah azab bagi orang yang durhaka dan tertutup hatinya dari Tuhan. Tafsir bencana model ini cukup untuk menjelaskan bencana secara komprehensif.

Setelah kita menemukan tafsir bencana yang sesuai dengan penjelasan Alquran, selanjutnya yang mesti kita telaah adalah bagaimana penerapannya dalam kasus bencana. Yang jelas dalam kasus bencana alam misalnya gempa bumi, sangat tidak bijak jika kita mengatakan bahwa hal tersebut adalah peringatan atau azab kepada para korban. Kita harus membesarkan hati korban dan menghiburnya dengan menekankan bahwa bencana ini adalah ujian. Dalam sebuah hadits qudsi dikatakan bahwa Allah rindu tangisan hamba-hambanya. Maka dari itu Allah memberi musibah agar bisa mendengar rintihan, tangisan dan munajat hambaNya.

Bagi kita yang tak menjadi korban maupun relawan juga harus bijak dalam menyikapi bencana. Jangan berkomentar menghakimi tanpa dasar data dan ilmu yang memadai. Misalnya bahwa bencana NTB adalah akibat TGB mendukung Jokowi.

Pertanyaannya anda tahu dari mana? Apakah Allah bicara langsung kepada Anda tentang sebab bencana NTB? Ingat hal ini adalah hal gaib, kita bisa termasuk apa yang dikatakan oleh QS. 17:36 jika berkomentar tanpa landasan yang kuat. Ingat tak semua yang empiris itu rasional, misalnya  terjadi gerhana bulan, lalu anda memukul kentongan. Perlahan-lahan bulan kembali terlihat dan gerhana berakhir. Apakah gerhana berakhir karena kentongan yang anda pukul?

Begitupun jika gempa NTB terjadi setelah TGB mendukung Jokowi, belum tentu ada hukum kausalitas di dalamnya. Yang lebih rasional adalah karena memang NTB ini berada di lempengan bumi yang rawan gempa. Ini alasan yang lebih selamat daripada mengaitkannya dengan preferensi politik.

Lantas bagaimana cara membaca ayat-ayat azab dalam Alquran? Dalam QS. 8:25 disebutkan bahwa kita harus takut terhadap bencana yang tak hanya menimpa orang zalim saja, namun menimpa yang shaleh juga. Gampang saja contohnya, misalnya banjir di Jakarta disebabkan banyak yang buang sampah ke sungai. Pada kenyataannya yang tertimpa banjir di Jakarta adalah seluruh penduduk baik yang buang sampah di sungai atau tidak. Inilah pengertian azab yang memang disebabkan ulah manusia terhadap lingkungan. Adapun azab dalam bentuk bencana alam murni, berhati-hati untuk melakukan spekulasi lebih baik.

sumber gambar: viva.co.id
Sella Rachmawati
Beberapa hari yang lalu kembali ramai terdengar seorang ustaz yang sedang digandrungi pemuda Indonesia mengatakan kalimat dalam ceramahnya yang kurang bijak, beliau adalah Evie Effendi. Isi ceramahnya mengatakan bahwa dia beruntung telah hijrah, karena pada dasarnya manusia itu bodoh dan sesat, termasuk Muhammad. Dan orang yang merayakan maulid berarti dia sedang merayakan kesesatan Nabi Muhammad.

Sontak hal tersebut menimbulkan kegelisahan dan kekecewaan dari para umat Muslim di Indonesia. Terlebih Ust. Evie menukil surah aḍ-Ḍuhā ayat ke 7 yang ia sendiri menafsirkan bahwa manusia itu awalnya sesat lalu Allah memberi hidayah.

Penulis yang notabene melakukan maulid dikirimi video tersebut dari salah seorang teman yang juga melaksanakan maulid. Ketika penulis melihat isi keseluruhan ceramah tersebut, tentu penulis pun merasa kecewa dengan pernyataan Ust. Evie.

Padahal, ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa “setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, maka orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi” diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Dari hadis tersebut jelas bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah apalagi Nabi Muhammad. Hal mustahil jika Nabi Muhammad pernah sesat.

Kemudian terkait surah aḍ-Ḍuhā ayat ke 7 penulis penasaran apakah benar tafsir dan asbabun nuzul-nya mengarah ke sana. Dalam Tafsir Fi Zalalil Quran yang dikarang oleh Sayyid Qutb disebutkan bahwa surah aḍ-Ḍuhā turun karena wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad pada saat itu terputus, menyebabkan para kaum musyrikin mencemooh Nabi Muhammad saw., dan mulai bertanya-tanya. Sehingga Nabi Muhammad saw., mulai resah dan bingung. Untuk itu, Allah menurunkan surah ini untuk kembali menenangkan Nabi Muhammad saw., dari kebingungan dan kegelisahan yang menimpanya. Maka dikatakan dalam surah tersebut “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung. Lalu Dia memberikan petunjuk.” (Qs. aḍ-Ḍuhā/93:7).

Selaras dengan itu Prof. Quraish Shihab ulama tafsir Indonesia mengatakan bahwa mengenai kata Ḍalal dalam ayat tersebut tidak diartikan sesat tetapi bingung atau cemas karena waktu itu wahyu sempat terputus beberapa lama, sementara umat banyak bertanya tentang hal-hal. Kemudian Nabi Muhammad menjadi bingung dan cemas. Lalu turunlah surah aḍ-Ḍuhā ini.

Pernyataan Ust. Evie yang mungkin dianggap mengecewakan lagi adalah perihal maulid yang menurutnya berarti itu merayakan kesesatan Muhammad. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa masyarakat muslim di Indonesia banyak berbeda pendapat di tatanan fiqih. Termasuk perbedaan cara pandang atas perayaan kelahiran Nabi Muhammad saw. Sebenarnya perbedaan pendapat ini sudah ada sejak zaman sahabat Rasul, yang harus kita tekankan adalah rasa menghargai dan menghormati satu sama lain. Tidak merasa paling benar, tidak membid’ahkan, apalagi sampai mengkafirkan satu sama lain.

Ust. Evie dan tentunya kita semua agaknya harus bisa memilah-milih kata dalam setiap pembicaraan, melihat audience yang mendengarkan, berpikir apakah yang akan disampaikan bisa menyakiti hati seseorang atau tidak, dan yang harus diingat bahwa seorang ustaẓ adalah orang yang menjadi guru, panutan, yang mencontohkan tindak-tanduknya dihadapan orang yang belajar kepadanya.

Penulis paham betul ustaẓ juga manusia, tapi alangkah bijaknya jika hal-hal yang disebutkan tadi menjadi pertimbangan agar tidak terjadi lagi hal seperti ini.

Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua dalam semangat menebar kebaikan. Semoga kita senantiasa diberi hidayah dan perlindungan dari Allah. Wallahu’alam.

sumber gambar: knginfo.com
Muhammad Akbar
Beberapa hari yang lalu, gempa bumi berkekuatan 7 SR mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat. Beberapa daerah terdampak, akibatnya banyak bangunan publik roboh, rumah-rumah warga hancur, dan fasilitas lainnya pun rusak. Bahkan dikabarkan 83 warga meninggal dunia akibat kejadian ini.

Musibah gempa ini kemudian menyisakan tanya, apakah gempa Lombok tersebut merupakan adzab ataukah ujian semata?

Bagi saya, terlalu lancang rasanya menakar setiap fenomena alam dengan takaran manusia yang terkadang melangkah terlalu jauh melapaui kehendak-Nya. Terlalu sering rasanya fenomena alam dikaitkan dengan hal-hal mistis atau cocokologi. Mungkin ini salah satu imbas dari pemikiran masyarakat Indonesia yang masih lekat dengan keyakinan berbau mistis dan takhayul.

Terlepas dari itu semua, tentu semua kejadian alam yang terjadi sudah diatur oleh-Nya dengan perkiraan yang tepat dan akurat. Gempa bumi, tanah longsor, hujan badai dan kejadian lainnya merupakan rangkaian ketetapan-Nya. Tak perlu menakar semua itu adalah adzab atau ujian. Menakar fenomena alam dengan hitung-hitungan manusia dikhawatirkan akan menimbulkan ujub.

Melemparkan sangkaan bahwa, “Wajar ada gempa disana, wong orang-orang sana suka maksiat kok!”, “Pantas saja ada tsunami, mereka semua telah kufur nikmat”, sungguh—dalam pandangan saya—itu adalah berlebih-lebihan. Seolah-seolah dengan itu kita suci dari kemaksiatan dan kekufuran nikmat, sedangkan mereka yang tertimpa musibah adalah orang-orang bersalah. Ada hal yang justru lebih penting dari itu semua, yaitu muhasabah diri.

Tak perlu menyalahkan takdir, tak merlu menakar fenomena alam, lebih baik kita introspeksi diri; siapkah kita bila ditimpa musibah seperti mereka? bekal apa yang telah kita bawa untuk perjalanan akhirat kelak, di saat tiba-tiba rumah kita tertimbun longsoran tanah dan menelan kita yang ada didalamnya? Amalan apa yang akan kita persembahkan dihadapan-Nya jika sewaktu-waktu tsunami menyeret dan menenggelamkan kita? Kebaikan apa yang kita suguhkan pada-Nya manakala tiba-tiba angin topan menerbangkan dan mewafatkan kita?

Sayangnya, kita terlampau merasa suci untuk menilai diri. Sehingga kemaksiatan manusia lain jauh lebih nampak daripada kemaksiatan sendiri. Berhentilah menakar kejadian tersebut, mulailah untuk bertindak. Ambil langkah nyata. Bila tak mampu membantu, maka doakanlah. Bila tak juga mampu berdoa, maka diamlah.

sumber gambar: kumparan.com
Seorang muslim diajarkan oleh agamanya agar selalu bersyukur dan bersabar dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena memang begitulah dunia, berbagai kenikmatan dan kesulitan yang datang bergantian bahkan bersamaan harus disikapi dengan syukur dan sabar. Dunia ini memang permainan, semuanya semu tak ada yang abadi. Hari ini kita senang besok dan seterusnya belum tentu, bahkan kita pun selalu salah menyangka jika melihat orang lain seperti tampak bahagia atau sedih padahal tanggapan itu ternyata tidak tepat.

Semua orang bahkan suatu bangsa pasti akan mengalami bahagia dan sedih ini. Bangsa Indonesia misalnya, kita yang setiap hari hidup di dalamnya tentu sudah paham dengan begitu banyaknya permasalahan di negeri ini. Salah satunya yaitu bencana alam. Dimulai dari banjir, longsor, kebakaran hutan, gunung meletus, angin beliung, gempa sampai tsunami sekalipun semuanya pernah terjadi di negeri ini. Bahkan yang terakhir yaitu dua kali guncangan gempa diatas 6 SR  di Lombok dalam waktu satu pekan terakhir (30/7/2018 & 6/8/2018). Bangsa kita seharusnya sudah banyak belajar dari semua peristiwa itu. Lalu, apa yang harus dipelajari?.

Jika kita pelajari dalil-dalil Alquran maupun hadis banyak mengemukakan peristiwa gempa sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, pertanda kiamat bahkan azab dan peringatan bagi kaum yang durhaka dan banyak berdosa. Tentunya sebagai orang beriman kita harus meyakini dalil-dalil itu, namun jangan sampai menjudge buruk daerah yang terkena bencana gempa tersebut. Cukuplah kita menjudge diri sendiri bahwa banyaknya gempa bermunculan ini adalah peringatan Allah atas kelalaian diri kita.

Berbeda dengan keyakinan orang yang tak punya iman, mereka meyakini bahwa gempa tidak memiliki kaitan dengan perbuatan dan maksiat manusia. Mereka menganggap kejadian gempa itu murni fenomena alam, bukan hukuman Tuhan. Jika kita hanya melihat dari sisi fisik memang tak ada kaitannya secara langsung, namun orang beriman tentunya meyakini bahwa segala pergerakan di alam semesta ini atas kehendak Allah. Bukanlah hal yang berat bagi Allah melakukan itu semua.

Ada banyak hal menarik yang kita amati dari peristiwa gempa di Lombok ini. Setelah gempa 6,1 SR yang cukup membuat banyak korban dan kerusakan, tiba-tiba tepat sepekan kemudian muncul gempa lagi yang lebih besar yaitu 7 SR.  Bahkan para ahli gempa pun tak menyangka akan terjadi gempa yang lebih besar dari sebelumnya. Pada umumnya tak ada gempa susulan yang lebih besar. Para ahli menyangka gempa 6.1 SR itu adalah puncaknya, namun ternyata bukan.justru muncul kembali gempa selanjutnya yang lebih besar disertai gempa susulan lainnya puluhan kali.

Selain itu muncul pula video viral mengenai imam salat di Bali yang tetap kokoh berdiri memimpin salat meskipun beberapa makmum lainnya berlarian menyelamatkan diri. Banyak orang memujinya, walaupun bumi bergoyang namun imannya sama sekali tak tergoyangkan oleh gempa.

Berulangkali gempa terjadi di negeri ini namun hanya sedikit saja sepertinya kita mendapatkan pelajaran darinya. Dari segi fisik misalnya, kita semua tahu bahwa negeri kita ini rawan gempa, namun masih saja kita mengabaikannya.

Lihatlah betapa banyak orang yang mendirikan bangunan yang justru berbahaya jika terjadi gempa. Banyak orang mendirikan bangunan di daerah perbukitan yang kontruksi tanahnya kurang kuat, ada pula yang mendirikan bangunan bertingkat di pemukiman padat, lebih parahnya kualitas bangunan itu kurang baik. Dapat dibayangkan apa yang terjadi setelahnya jika muncul gempa. Seharusnya gempa menjadi bahan pertimbangan bagi suatu kebijakan.

Terkadang saya pun merasa khawatir selama tinggal di Jawa Barat tepatnya di Bandung ini. saya pernah berbincang-bincang dengan orang yang mendalami ilmu geologi. Ia mengatakan bahwa di Bandung terdapat patahan yang melintang di daerah Lembang, jika patahan itu bergerak beberapa cm saja maka akan menimbulkan guncangan lebih dari 6 SR di kota Bandung dan sekiranya. Tinggal menunggu waktu saja bagi Allah untuk membangunkannnya. (llihat selengkapnya di: https://tirto.id/inilah-yang-terjadi-saat-gempa-lembang-menghantam-bandung-cyE6 )

Itulah secuil persoalan gempa di negeri ini. Berbagai bencana alam akan selalu mengiringi kehidupan di dunia ini. Jangan sampai hal tersebut melalaikan kita dari peringatan Allah ini. Ketakutan dan kekhawatiran bencana alam di dunia sama sekali tak ada bandingannya dengan ketakutan di hari kiamat dan di hari kelak kita akan dibangkitkan menunggu nasib akhir selamanya.

Semoga dengan adanya berbagai bencana ini, kita lebih bersikap mawas diri mengevaluasi dan meningkatkan kualitas iman, ibadah dan akhlak kita. Tak ada yang tahu secara pasti kapan bencana akan tiba, apalagi gempa saat ini pun belum ada alat dan cara untuk memprediksi terjadinya. Mungkin Allah sengaja merahasiakannya sebagai peringatan.

sumber gambar: tekno.tempo.co
Beberapa hari lalu Lombok diguncang gempa dengan kekuatan 7 SR, tepatnya pada tanggal 5 Agustus 2018. Kemudian  diikuti gempa-gempa susulan yang terbilang banyak, hingga  hari ini tercatat 230 kali gempa susulan. Baiknya sebelum saya menyampaikan yang lain kita dahulukan ucapan belasungkawa kita, dan turut berduka bagi keluarga korban terdampak gempa, sampai tulisan ini dibuat, tercatat jumlahnya mencapai 105 korban jiwa.

Beberapa tahun belakangan ini Lombok menjadi destinasi wisata yang terbilang ramai pengunjung, baik dalam maupun luar negeri, konon daya tariknya setara Bali. Terutama bagi turis asing, meski minat dari dalam negeri pun tidak bisa disebut kecil.

Bangsa ini memang dengan sangat baik menerapkan budaya timur semisal menjunjung tamu tak ubahnya seorang raja. Raja yang saya maksud di sini adalah turis asing, karena perlakuan dari pelaku wisata bagi turis dari mancanegara bisa saya bilang lebih, ketimbang bagaimana perlakukan mereka terhadap tamu yang datang dari sebangsanya sendiri. Saya bisa bilang begini karena saya pernah kesana.

Tamu yang kita rajakan itu tentu membawa budaya asingnya, tak aneh jika minuman keras sangat marak, di satu daerah saya temukan di sebuah tempat—entah bar entah café atau apa—yang menjual secara terang-terangan. Saya coba mencari tahu, ternyata geliat pembuatan dan perevisian Perda mengenai penjualan miras di Lombok khususnya dan NTB pada umumnya cukup signifikan. Nanti dilarang, nanti dikendalikan, nanti direvisi lagi Perdanya agar miras bisa masuk, nanti dicabut lagi oleh gubernurnya, dan seterusnya.

Kita tahu NTB dipimpin oleh orang yang cukup kesohor namanya, Zainul Majdi, atau Tuan Guru Bajang yang namanya sempat santer dikabarkan akan menjadi batu sandungan Jokowi ini menjabat gubernur NTB 2 periode, politikus partai demokrat ini yang mencabut Perda-Perda dan merevisi Perda di beberapa daerahnya yang kedapatan menjadi celah masuknya miras secara besar-besaran dan tak terkontrol. Bahkan di satu artikel saya menemukan rasionalisasi dari perombakan Perda di salah satu kota di NTB karena dirasa pelarangan miras atau perijinan masuknya miras yang ketat itu sudah tidak sesuai dengan tujuan pariwisata yang sedang semangat-semangatnya dilakukan di daerah tersebut. Ini saya baru singgung miras, belum bisnis esek-esek lainya.

Ini yang mengherankan, seketika gempa mengguncang Lombok, ruang obrolan kita serta merta membahas dosa-dosa. Oh  itu karena banyak yang mabuk, oh itu karena banyak pelacuran, oh karena perjudian dan seterusnya, padahal itu memang terjadi sejak jauh-jauh hari, dan kita tahu itu semua sejak lama. Kemana saja kita? Sampai-sampai  harus menunggu gempa untuk bisa menyebut yang  salah adalah salah. Ditambah lagi saya kira menjadi kurang tepat pembahasan dosa-dosa itu ketika bencana sudah terjadi.

Ibarat kita tahu anak jangan main api, tatkala tangan anak sudah luka bakar kita malah sibuk membahas kesalahanya yang main api itu. Lebih parahnya lagi, yang terjadi di Lombok dan juga mungkin di beberapa tempat lain, saya melihatnya seperti seorang ibu yang melarang anaknya main api, tapi seketika ada tamu dari luar yang membawa anak main api, kita malah sediakan bensin, alasannya supaya tamu betah main ke rumah.

 Lihat saja, kalau rakyat sendiri yang jualan miras, kalau rakyat sendiri yang minum miras, kalau rakyat sendiri yang jadi penjaja atau penikmat bisnis esek-esek, larangannya ketat, disebut pekat, penyakit masyarakat. Tapi kalau turis yang datang, seolah tata nilai itu hilang, malah aturannya dibuat agar bisa menyesuaikan bahkan kalau bisa harus memfasilitasi berjalannya budaya tamu yang datang itu, tanpa perduli itu selama ini kita sebut penyakit masyarakat sekalipun. Ya bolehlah menggenjot pariwisata, tapi masa iya harus mengorbankan tatanan nilai bangsa? Bahkan sampai kita bela-bela buatkan Perdanya agar yang menjadi budaya mereka bisa masuk.

Jadi dengan kejadian ini, dengan telah didahului rasa belasungkawa yang mendalam terhadap para korban dan keluarga yang ditinggalkan, saya kira baiknya kita fikir ulang formulasi yang pas bagi negara penjaja destinasi wisata itu seperti apa? Seberapa banyak yang kita bisa negosiasikan dengan kebudayaan mereka? dan pada nilai-nilai luhur bangsa yang mana yang tidak boleh kita gadaikan atas nama semangat pariwisata.

Tak boleh dinafikan juga kalau bencana itu diturunkan atas keburukan apa yang diperbuat manusianya, apalagi spesifik yang kejadiannya adalah gempa, di mana kaitan antara terjadinya gempa dan kemaksiatan yang dilakukan masyarakat secara gambalng disebut dalam banyak hadis nabi, lebih ngerinya lagi, dalam banyak keterangan disebutkan bahwa banyaknya gempa ini menjadi ciri bagi dekatnya akhir zaman.

Jangan sampai nilai yang kita punya, keluhuran budi yang diturunkan nenek moyang kita atau tata nilai spiritual yang kita yakini dari agama kita menjadi luntur atas dalih semangat membangun sektor pariwisata, dan saya kira kejadian ini tidak hanya jadi pelajaran bagi Lombok, tapi juga bagi daerah yang menjadi tujuan wisata lainnya juga bagi masyarakat Indonesia keseluruhan.

 Dasar! memang kearifan lokal yang kita punya yang sudah berpadu padan dengan nilai-nilai keagamaan kita yang terlalu luhur atau kita yang gagal faham dengan kebijaksanaan itu, kita diajarkan memuliakan tamu, disaat yang  bersamaan jika kita bertamu diharuskan menghormati tuan rumah. Bahkan kita diajarkan untuk tidak duduk sebelum tuan rumah mempersilakan, atau tidak makan sebelum dipersilakan meski makanan sudah dihidangkan di meja sekalipun.

 Tapi tetap saja saya kira memuliakan tamu tidak harus dengan mem-babu-kan diri di rumah sendiri. Apalagi memfasilitasi mereka melakukan hal yang bertentangan dengan nilai yang kita junjung selama ini di rumah kita sendiri, sebatas mempersilakannya saja saya kira sudah sebuah kekeliruan. Sekali lagi, tentu dengan penuh rasa belasungkawa pada para korban dan keluarga yang ditinggalkan dan semoga kita semua menjadi umat yang layak untuk berada dalam lindungan dan karunia Allah Swt.

sumber gambar: vtriptravel.com