Pura-Pura Penjara: Sebuah Film Daur Ulang


Beberapa hari lalu publik dibuat geram dengan kabar ditangkapnya Kalapas Sukamiskin lewat OTT KPK. Kabarnya ia orang dibalik nyamannya penjara bagi para koruptor itu. Di sana ada Raja tikus yang menggerogoti KTP seluruh rakyat Indonesia, beberapa mantan ketua partai dari—kalau saya pinjam istilah Amien Rais—Partai setan sampai Partai Allah meringkuk di bui itu dengan fasilitas yang sama sekali tidak seperti penjara dalam gambaran umum kita, tak terlewatkan kelompok tikus yang semula bersarang di Hambalang kini bedol desa pindah bersarang di Sukamiskin.

Saya sebut ini hanya sebuah film daur ulang, memang akhir-akhir ini kita sedang banyak dijejali film daur ulang, sejak hampir beberapa tahun belakangan ini lah. Dari luar negeri ada film-film pahlawan super yang sebetulnya hanya daur ulang dari film-film mereka di puluhan tahun silam, Superman, Batman, Wonderwoman dll, sudah ada sejak puluhan tahun belakang, ceritanya bahkan sama persis.

Pesan moral yang ingin disampaikan pun sama, bahwa manusia selemah apa pun tetap harus punya harapan, siapa tahu ada pahlawan super yang akan membantu menyelesaikan masalah dunia kita yang terlampau pelik ini. Padahal para pahlawan super itu pun berasal dari planet lain yang punya masalah lebih rumit dari planet bumi dan berakhir dengan kehancuran planet mereka. Ini jadi sebuah optimisme yang berujung nihilisme sebetulnya.

Di dalam negeri fenomena keranjingan mendaur ulang film pun terjadi. Legenda lawak republik ini sampai dibuat film reborn-nya. Bukan hanya di bidang film, di bidang politik pun banyak remake, sebut saja ada keluarga penguasa yang mengggurita bisnisnya, itu kan seperti mengulang apa yang terjadi di masa lalu. Ada juga kemungkinan remake di pemilu presiden lima tahun lalu yang kini santer kabar dari para sutradara drama pemilu presiden bahwa pertarungan nya rematch di tahun depan.

Juga termasuk acara mbak Nana, dengan tajuk pura-pura penjara itu juga hanya sebuah remake, daur ulang, re-mindblowing apa yang sebetulnya masih menjadi pengetahuan umum masyarakat bahwa penjara, terutama bagi koruptor, tak semenakutkan apa yang semestinya terjadi. Itu pula mengapa rakyat kita  akhir-akhir ini senang main hakim sendiri, karena tahu di penjara para pelaku kejahatan itu tidak akan mendapat rasa sakit  yang  setimpal.

Maka acara mbak Nana itu bukan dalam rangka memberitahu informasi baru bahwa di penjara, para koruptor itu hidup masih dengan kemewahannya, bukan!  Acara itu dalam rangka memenuhi rasa kerinduan kita terhadap informasi yang sebetulnya kita sudah faham, sudah tahu tanpa harus ada peliputan sekali pun, sebagaimana kita rindu Warkop DKI yang kemudian dibuatkan film remake-nya, kita sudah tahu alurnya, kita sudah tahu ceritanya, sudah tahu dimana letak Grrrr bercandanya, punchline-punchline-nya pun kita sudah hafal betul, tapi kita tetap tonton, dalam rangka melunasi rindu saja. 

Bagi yang mengikuti informasi, mungkin hafal kisah Anton Medan di penjara yang tinggal sebut ingin apa, nanti sipir akan sediakan, atau Edi Tansil, yang siang bisa plesiran yang penting malamnya balik ke sel untuk tidur, atau sebut saja lagu Doel Sumbang yang malah sono alias kangen untuk dipenjara lagi saja, bagaimana tidak, di masa sulit  dulu, saat rakyat  kecil susah  makan, tidur dengan alas seadanya dan kedinginan, pekerjaan tidak punya, seketika ia masuk penjara ia  mendapat selimut hangat, sarapan tepat waktu setiap pagi, hiburan televisi 24 jam, kasur empuk dan lain sebagainya.

Fenomena penjara lebih nyaman dari dunia nyata bukanlah hal baru juga, disamping memang realitas yang benar-benar terjadi seperti itu, ada pesan sindiran juga bagi penguasa, saat penjara lebih nyaman dari dunia luar, ada sesuatu yang  salah, sangat salah, sampai-sampai ada kehidupan yang lebih baik di dalam penjara ketibang di luar, apakah ekonomi sedang sebegitu hancurnya? Atau hukum sedang benar-benar tidak presisi, atau negara gagal memberi  rasa aman dan kurang memberi jaminan kehidupan bagi rakyatnya? Ada yang hendak ditunjukkan oleh semesta lewat adanya fenomena penjara yang lebih nyaman ketimbang dunia luar ini, para pemimpin dan pemegang amanah, harus jeli melihat ini. Ini bukan sekedar fenomena, ini isyarat.

Terakhir, saya mau mengajak pembaca untuk sedikit menelaah ulang kata penjara. Kabarnya penjara ini konsepnya dibuat orang barat pada abad 17-an. Padahal jauh sebelum itu dunia Islam di periode khalifaur Rasyidin sudah menerapkannya juga, konsepnya adalah adanya pengucilan bagi pelanggar hukum. Dari beberapa sumber yang saya baca, penjara awal mulanya dari kata penjera. Jadi kurungan itu bukan tujuannya, ia hanya metode bagi terciptanya satu tujuan: jera. Saya sepakat dengan yang terakhir ini. Penjara mestinya memberikan rasa jera, bukan malah menjadi institusi yang membuat pencuri motor jadi tahu cara mencuri dompet di pasar, atau malah menjadi tempat kursus bagi koruptor agar setelah lulus dari penjara nanti jika korupsi lagi tidak kena KPK.

Masalahnya sekarang adalah, semua tindak pidana ujung-ujungnya adalah penjara. Dan penjaranya seperti yang kita tahu, ya seperti itu, tidak membuat jera, malah menyenangkan, bagaimana perasaan seorang ibu yang anak perempuannya diperkosa seorang pemuda, pemuda itu dipenjara. Karena uang dan sulap dunia lainnya, si pemuda keluar penjara tanpa mendekam berlama-lama. Si ibu dari gadis korban pemerkosaan itu pasti was-was, ngeri, takut-takut  anaknya jadi incaran si pemuda residivis itu lagi. Seperti itu pulalah yang harusnya kita khawatirkan dari fenomena ini, jika penjara senyaman itu, jauh bara dari panggangan, jangankan jera, keluar penjara si koruptor langsung kembali ke arena politik dan menjadi koruptor yang lebih andal.

Kita pernah punya koruptor yang dipenjara dapat setahun, mantan Ketua PSSI, dengan tanpa malu dengan status mantan napinya ia jadi jubir partai dan kembali muncul ke publik. Apa yang mau kita pegang dari ucapan yang keluar dari mulut yang makan uang rakyat ratusan juta hingga milyaran itu? Moral apa yang kita acu jika pimpinan partainya saja masuk penjara lantas kita masih mau percaya pada kader partainya?  

sumber gambar: tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar