Pendidikan Politik Positif


Salah satu hal yang rasanya tak akan mungkin hilang dari kehidupan bermasyarakat manusia yaitu politik. Bahkan tak hanya manusia, beberapa makhluk lain pun ternyata berpolitik, misalnya lebah dan semut yang punya raja/ratu bahkan segerombolan singa dan hewan liar lainnya juga mempunyai koloni dan berpolitik pula. 

Terlebih bagi kehidupan para manusia, politik adalah hal yang abadi selalu menempel pada kehidupannya di segala zaman dan tempat. Dari zaman dahulu manusia berpolitik membentuk raja, khalifah, sulthan, ketua adat, ketua suku, hingga sekarang yang lebih populer yaitu presiden. 

Terbukti mulai dari manusia modern sampai primitif, dari manusia kota sampai pedalaman hutan pun mereka berpolitik selama masih berkoloni. Aristoteles menyebutnya dengan zoon politicon. Banyak sumber yang bisa kita temukan mengenai pengertian politik. 

Hal yang pasti poitik itu berarti sebuah kota atau negara. Dalam artian politik juga mirip dengan kata polis yang artinya kebijakan atau peraturan yang mengatur kehidupan bermasyarakat. Pada dasarnya politik itu adalah baik.

Jika kita amati, banyak orang mempunyai beragam opini tersendiri mengenai politik. Di satu sisi politik mampu mempersatukan bangsa, namun ternyata di sisi lain juga mampu memecah bangsa dengan terjadinya konflik dan kekacauan (chaos). 

Sebagian orang menganggap politik dipenuhi dengan kekotoran dan kejahatan seperti menipu, korupsi, diktator, serakah kekuasaan, dan lain sebagainya. Benarkah politik memang seperti itu? Memang pada faktanya di lapangan hal seperti itu terjadi dalam politik. Padahal seharusnya politik itu membawa kebaikan. 

Namun sayangnya para pelaku politiklah yang bermain kotor sehingga terkesan di mata khalayak bahwa politik itu kotor. Padahal mau tidak mau, dipaksa atau sukarela kita semua pasti berpolitik baik itu politik praktis atau tidak. 

Pandangan negatif terhadap politik justru karena ulah para politikus itu sendiri. Lihatlah bagaimana panggung politik di negeri kita. Partai politik (parpol) hanya menjadi ajang meraup kekuasaan dan kekayaan, padahal seharusnya parpol menjadi sarana pendidikan politik dan kendaraan politik yang baik. efek dari semua ini adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin mereka, hilang pula kepedulian masyarakat terhadap politik. Bahkan di beberapa daerah ketika pemilu digelar justru jumlah golput menjadi pemenang dibandingkan jumlah pencoblos. Masyarakat tak boleh cuek terhadap politik. Berbagai kebijakan politik justru akan mempengaruhi kehidupan di bidang ekonomi,  pendidikan, hingga sosial masyarakat.


Di indonesia sendiri kini sedang dilanda ketegangan politik. Dalam suatu bangsa, ini adalah hal yang wajar terjadi, sebagaimana kehidupan rumah tangga pun pasti yang namanya “ketegangan” terjadi. Bahkan dari zaman Nusantara atau kerajaan dahulu pun terjadi ketegangan dan konflik bahkan chaos pertumpahan darah. 

Tentu kita semua tak menginginkan hal itu terulang kembali. Rakyat Indonesia sendiri pernah mencapai puncak politik yang terbaik, yaitu ketika masa-masa sebelum kemerdekaan. Rakyat sampai pemimpinnya bersatu padu dalam satu visi melawan penindasan penjajah dan berjuang untuk merdeka. 

Namun kini setelah adanya pemilihan presiden 2014 yang hanya mengusung dua kubu, justru perpecahan politik semakin terasa di negeri kita. Berbeda dengan pilpres sebelum-sebelumnya yang mengusung banyak pilihan. 

Bahkan lebih parahnya sentimen tersebut dicampuri bumbu-bumbu agama. Seolah-olah jika ia memilih suatu partai maka telah berada pada pihak agamanya, namun jika tidak maka di luar pihak agamanya. Ngeri memang jika seekstrem itu. Apalagi dicampur dengan saling bertikai dan caci maki di dunia maya dan di dunia nyata, itu yang membahayakan.

Berdasarkan hal tersebut, sudah saatnya kita mengembalikan “pemurnian pandangan politik” pada masyarakat, salah satunya tentu dengan Pendidikan Politik Positif. Hal ini pasti berat memang, harus dimulai dari para politikus dan parpol yang memperbaiki citra mereka di masyarakat, pendidikan politik sehat dari berbagai sekolah dan kampus. Itu masih berupa ide-ide saja. Secara teknis dan langkah kecil yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat biasa yaitu berhentilah memperbesar perbedaan politik diantara kita. Kurangi share di medsos mengenai politik yang berlebihan apalagi sambil menyinggung pihak lawan. Alangkah lebih baiknya share mengenai ide-ide yang rasional untuk negeri ini. 

Dengan demikian kita bisa mengurangi keruhnya suasana politik di negeri ini, jika tidak mengurangi, minimal kita tidak termasuk bagian dari mereka. Hanya sedikit ide dan solusi yang diberikan dalam tulisan ini, selebihnya saya berharap pembaca pun memikirkan yang lebih baik .

sumber gambar: pedomanbengkulu.com, twitter.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar