Nasib Buku Islam Kajian Serius di Toko Buku Nasional

Sabtu kemarin (14/07/18) saya kembali mengunjungi salah satu tempat favorit saya, apalagi kalau bukan toko buku Gramedia, gudangnya ilmu dan hikmah, setelah sekian lama liburan ke kampung halaman yang lokasinya cukup jauh dari toko buku, meskipun tetap saja aktivitas membeli buku tak bisa dilepaskan seutuhnya. 

Dalam rentang liburan itu saya setidaknya telah membeli delapan buku Prof. Mulyadhi Kartangera via online (filsuf muslim yang belakangan menjadi tokoh favorit saya selain Quraish Shihab) dan mendapat satu kiriman buku filsafat terjemahan karangan Nietzsche (The Gay Science) dari salah seorang teman yang tiada lain merupakan penerjemahnya sendiri. 

Dalam kunjungan saya kemarin, sebenarnya tidak ada hal yang spesial kecuali kegelisahan saya yang semakin menjadi-jadi, melihat kenyataan bahwa buku-buku keislaman di sana semakin dikuasai oleh konten-konten populer yang “remeh-temeh” atau berupa pengulangan-pengulangan yang dikemas dengan kemasan yang sedikit berbeda. 

Beberapa di antaranya seperti buku self-improvement, semangat hijrah, atau fikih ibadah. Bahkan tidak sedikit yang ditulis oleh penulis “awam” tetapi karena namanya sudah tenar, maka tidak sulit baginya untuk menjual buku tersebut. Jelas, penerbit lebih memilih yang satu ini dibanding mengambil satu penulis “ga jelas” meskipun isinya merupakan kajian serius. 

 Memang sih di satu sisi saya senang bahwa semakin hari semakin bermunculan penerbit-penerbit baru bercorak keislaman, suatu hal positif yang perlu diapresiasi, tetapi sayang sekali bagi saya penerbit-penerbit ini terkesan sekali hanya ingin mengejar profit “keduniawian”, mengambil peluang dari kondisi masyarakat muslim Indonesia yang dalam beberapa tahun belakangan ini mulai memerhatikan agamanya lagi. 

Mereka kurang tertarik untuk menerbitkan buku-buku kajian serius yang memang sepertinya kurang diminati oleh pasar. Hitung-hitungan materialistiknya jelas mereka akan rugi jika menerbitkan buku serius (yang sedikit dibaca orang), meski sangat mencerahkan. Padahal buku-buku jenis inilah yang mestinya perlu mendapat perhatian. Tapi sekarang jumlahnya tak lebih dari 1/5 jumlah buku “remeh” tadi. Sangat disayangkan. 

Saya berkeliling dari satu rak ke rak lain. Yang muncul itu lagi itu lagi. Hanya satu dua judul buku yang menarik perhatian saya. Untungnya masih ada penerbit seperti Mizan, IRCiSoD, dan belakangan muncul Sadra Press (menerbitkan buku & terjemahan filsafat Islam), yang masih menegakkan idealismenya untuk mencerdaskan bangsa dibanding sekadar ingin menyesuaikan diri dengan selera pasar.  

Memang, tidak hanya tiga penerbit itu yang masih berpegang teguh menjaga idealismenya, untuk menyebut sebagiannya ada LP3ES, Pustaka Pelajar, Pustaka Ar-Ruzz, LkiS, Paramadina. 

Tetapi sayang, mereka kalah pamornya dengan penerbit-penerbit mainstream atau penerbit yang mendapat topangan dana super besar, makanya penerbit minor tapi berkualitas ini sering tak terlihat di toko-toko buku nasional dan hanya dikonsumsi oleh kalangan terbatas. 

Sebagai pecinta literatur, saya hanya bisa berharap kepada penerbit-penerbit keislaman supaya bisa lebih mementingkan pencerdasan dibanding “yang penting laku keras”. Kalau ini sulit, setidaknya tambahlah slot bagi buku-buku serius ini, minimal 2:1. Bisa kan? 

sumber gambar:  
djangkarubumi.com
IG James_trevino

Tidak ada komentar:

Posting Komentar