Menggerayangnya Konflik Batin Pasca Konflik Fisik


Anisa Eka Putri

Banyak konflik terjadi di sekitar kita. Tapi, apakah kita dapat peka terhadapnya?


Konflik umumnya dipandang sebagai kekerasan fisik saja, namun perlulah kita memandang dari sisi lain, yakni batin atau rohaniah. Indonesia dengan aneka ragamnya dapat menjadi pemicu terjadinya konflik, baik itu murni berasal dari sebuah isu atau bahkan isu yang ditutupi dengan isu yang lainnya. Sekitar akhir 2017 tepatnya di bulan Oktober, saya melakukan penelitian di salah satu desa di Kabupaten Tasikmalaya. Daerah tersebut dikenal sebagai wilayah konflik khususnya setelah terjadi peristiwa pembakaran masjid pada tahun 2000-an.

Konflik tersebut dipicu oleh perbedaan keyakinan yang menurut salah satu pihak, pihak lawannya adalah sesat. Sesat memang menjadi alat picu yang sangat sering digunakan untuk memecah suatu kelompok masyarakat. Ironisnya masyarakat awam pun tak begitu paham mengenai apa yang mereka sesatkan. Salah satu aliran yang mayoritas di Indonesia menjadi minoritas di desa tersebut. Jejak rekam sejarah menjadi bukti semakin memanasnya konflik tersebut. Hingga akhirnya konflik tersebut memanas dan meledak pada peristiwa pembakaran masjid.

Setelah peristiwa tersebut khususnya kini, bukan berarti konflik sudah redam, namun konflik batin lah yang memiliki peran. Meskipun secara sosial nampak baik-baik saja, mereka bergumul dalam satu desa yang sama, namun tetap saja prasangka antar-kelompok tak lah redam meskipun masih berkomunikasi secara damai dalam keseharian. Di sisi lain isu ekonomi makin memperparah hal ini. Ekonomi yang tumpang tindih antara satu kelompok dengan kelompok yang lain menjadikan kelompok dengan ekonomi menengah ke bawah merasa tertindas, merasa mereka berbeda, merasa mereka di nomor dua kan.

Dari sudut pandang kita, sebagai orang luar mungkin masalah ini perlu pembauran atau mungkin kaum bawah ini memerlukan uang untuk kehidupan mereka. Nyatanya mereka berbaur dalam kelompok masyarakat yang sama, dalam satu desa yang sama. Banyak pula donatur yang datang untuk membantu, namun uang tersebut hilang entah kemana. Adapun hal yang sungguh disayangkan, yakni perginya pemuda-pemuda yang mencari ilmu dan tak kembali untuk mengabdi tapi pergi mengabdi di daerah lain.

Jika didiamkan lebih lama tentu perusakan rumah ibadah untuk kedua kalinya bisa saja terjadi atau bahkan lebih buruk lagi. Semakin lama prasangka pada setiap golongan akan semakin banyak, menumpuk, dan tanpa klarifikasi dari masing-masing pihak. Ketika saya lakukan penelitian tersebut dan melakukan wawancara  dengan beberapa pihak, hal yang perlu saya garis bawahi adalah kaum bawah sebetulnya tak tahu apa yang mereka perdebatkan. Dan mereka merasa biasa saja dengan golongan lainnya. Bahkan sering terjadi peristiwa satu keluarga dengan berbeda-beda keyakinan di dalamnya.

Tokoh masyarakat yang berusaha membantu, dirasa belum optimal, terutama mereka dibantu oleh salah satu ormas yang dianggap radikal atau bahkan dianggap sebagai ormas yang terlalu berlebihan yang bahkan melakukan penentangan mereka secara keras. Bukan berarti mengecilkan dan tidak menyukai ormas tersebut. Namun apa yang diperjuangkan belumlah sampai dalam benak para kaum bawah. Bahkan dalam pandangan saya hal ini hanya menambah prasangka yang ada, menambah konflik batin yang ada.

Di sisi lain banyak pula para penganut keyakinan ini berpindah-pindah keyakinan semata-mata hanya untuk mendapatkan keuntungan bagi pribadinya saja. Bukan berkeyakinan atas apa yang benar-benar ia yakini. Bisnis yang mempertaruhkan keyakinan pun sering ditawarkan baik itu dalam penerimaan pegawai, pernikahan, dsb. Hal tersebut tentu memperburuk situasi konflik tersebut.

Rekonsiliasi atau pertemuan yang lebih jelas mungkin diperlukan untuk menangani konflik ini. Bagaimana pun mereka adalah saudara kita, saudara setanah air. Di sisi lain pemberdayaan masyarakat perlulah dilakukan, terkhusus membuka lapangan pekerjaan bagi mereka. Bukan memberi hanya sekedar memberi khususnya berupa uang, tapi yang terpenting adalah bagaimana mereka dapat menjadikan uang tersebut lebih banyak dan dapat memperbaiki kehidupan mereka. Karena yang perlu diingat adalah, uang dapat habis dengan seketika, namun ketika kita berilmu maka uang tersebut bisa menjadi tak habis-habis. 

sumber gambar: adharta.com, bukubiruku.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar