Mengarahkan, tak Memaksakan: Pesan untuk Guru PAI

Muhammad Akbar
Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah. Di dalamnya tercakup materi-materi seputar Aqidah, Akhlak, Fiqih, dan Tarikh Islam. Sebagai guru, khususnya guru PAI, harus diperhatikan beberapa hal ketika hendak mengajar, di antaranya adalah kompetensi sebagai seorang guru, penguasaan materi, improvisasi media pembelajaran, dan persiapan alat bantu pembelajaran.

Namun, yang tak kalah pentingnya adalah kearifan guru dalam mengajarkan materi yang khilafiyah. Materi ini lazim ditemukan pada materi seputar Fiqih, walau tidak menutup kemungkinan terdapat pula dalam materi yang lain.

Kearifan tersebut dimanifestasikan dalam bentuk—misalnya—keterbukaan guru dalam memberikan wawasan kepada murid bahwa dalam memahami hukum Islam, terdapat berbagai macam pendapat dan mazhab. Seperti yang jamak diketahui, bahwa dalam urusan Fiqih terdapat empat mazhab besar (yang harus mendapat ulasan yang sama porsinya). Hal ini bertujuan agar murid terhindar dari taqlid buta yang dapat membahayakan pemahamannya, lebih jauh dikhawatirkan akan menambah gesekan-gesekan di masyarakat berkaitan dengan khilafiyah yang dewasa ini seakan tak ada habisnya.

Pada prinsipnya, seorang pendidik sah-sah saja condong pada suatu golongan, mazhab, atau organisasi. Namun yang salah adalah memaksakan kecondongannya pada siswa. Karena jika demikian, berarti guru berupaya mencetak muridnya menjadi apa yang diinginkan olehnya.

Semestinya pendidikan (agama) itu adalah upaya melahirkan. Jika pendidikan adalah upaya mencetak, maka murid tak bisa berkembang dan tumbuh. Layaknya tanah liat yang dicetak menjadi genteng atau keramik: kaku. Jika pendidikan adalah upaya melahirkan, maka murid akan tumbuh dan berkembang. Seperti halnya bayi yang baru saja dilahirkan, seterusnya akan tumbuh dan berkembang.

Kisah keteladanan yang dicontohkan para Imam besar madzahib al-arba’ah patut kita tiru. Pasalnya, para Imam tersebut mempunyai hubungan guru-murid yang satu sama lain memiliki kearifan dan keterbukaan akan perbedaan yang luar biasa.

Imam Malik merupakan Imam besar madzhab Maliki yang terkenal dengan kitab Al-Muwaththa`, beliau merupakan Ahli Hadits dan Ahli Fiqh terkemuka di zamannya. Keluhuran ilmu yang dimilikinya, menarik hati dan minat Imam Abu Hanifah—pendiri madzhab Hanafi—untuk belajar darinya, padahal Imam Malik lebih muda 13 tahun darinya.

Imam Malik mempunyai salah satu murid lainnya, yaitu Imam Syafi’i, yang tak lain adalah Imam besar madzhab Syafi’i. Imam Syafi’i bahkan dengan jelas memuji gurunya itu, “Seandainya tidak ada Malik bin Anas, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Imam Syafi’i pun menjadi ulama kharismatik dan luhur ilmunya, banyak para pencari ilmu yang belajar darinya, salah satunya adalah Ahmad bin Hambal, yang kelak jadi pendiri madzhab Hambali.

Begitu arif dan bijaksananya mereka dalam menyikapi ilmu. Sang guru tak serta merta hendak mencetak muridnya sebagaimana yang ia mau, namun guru memberikan ruang bagi murid untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan dan keunggulannya.

Imam Malik tak serta merta memaksa Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i menjadi pengikut madzhab Maliki. Juga Imam Syafi’i tidak kemudian mencetak Imam Ahmad bin Hambal menjadi seorang Syafi’iyyah.

Semangat keterbukaan inilah yang semestinya digelorakan para guru PAI. Membuka cakrawala pengetahuan murid akan keberagaman pandangan. Menancapkan sikap toleran dan inklusif guna keutuhan agama dan bangsa.

sumber gambar: caping.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar