Mempertanyakan Empati Kita

Ogie Sagara R
Tulisan ini saya awali dengan ungkapan seorang novelis asal Amerika Serikat, Stephen Covey, ia mengatakan “Ketika kamu menunjukkan empati yang dalam terhadap orang lain, energi perlawanan mereka akan melemah, dan energi positif menggantikannya. Itu ketika kamu menjadi lebih kreatif dalam menyelesaikan masalah.”

Kalimat di atas mengandung makna empati, bagaimana empati bisa menghantarkan energi positif pada orang lain, terlebih kepada orang yang masih dirundung kesulitan.

Lantas, apa itu empati. Sebelum itu, saya akan menceritakan sebuah kisah singkat yang menggugah betapa pentingnya kita memiliki empati. Suatu pagi saya melakukan sebuah perjalanan dengan menggunakan bus transjakarta dari daerah Jakarta Barat menuju Jakarta Pusat.

Di Jakarta Barat saya melintasi kawasan Daan Mogot, tiba-tiba bus yang saya tumpangi memelankan lajunya, itu sangat kerasa, di mana ada insiden pengereman mendadak, kemudian saya dapati orang-orang melongo ke luar, ke sisi sebelah kanan. Sekarang agaknya saya tahu kenapa pak sopir menekan pedal remnya dengan keras.

Sebuah truk tergelimpang, sekarang sisi kanan dari truk itu berada di bawah dan sisi kirinya ada di atas. Dari bus ini saya bisa melihat bagaimana rangkaian mesin truk terpampang ke arah pandangan. Pengendara lain pun ikut memelankan lajunya, ingin memuaskan pandangan mereka dengan insiden ini, itu yang membuat bus ini memelankan lajunya.

“kalo kek gitu sih gak akan mati” kata seorang pria parubaya, kumisnya tebal hingga membuat orang yang tidak mengenalnya mudah untuk menyebut pak kumis. “Iya, gak ada darahnya” kata orang sebelahnya, mereka terdengar kompak dengan percakapan itu sambil memandangi dari jendela kaca di sampinya.

Saya terteguk, dari semua kalimat yang ada di dunia ini, kenapa kalimat itu yang muncul, ada kemirisan yang saya rasakan di dalam hati ini, pun sepertinya saya tidak sendiri. Saya dapati beberapa pandangan sinis kepada dua bapak-bapak itu, yang tentu saja tanpa sepengetahuan mereka.

Saya hanya membayangkan, apa yang kalian harapkan wahai bapak-bapak dengan kalimat yang tadi kalian utarakan, apakah kalian mengharapkan hal yang mungkin lebih menarik, atau sekadar truk terbalik itu hal yang cukup mengecewakan ketika tidak ada seorang yang terbaring dengan bersimbah darah?

Coba bayangkan kalau yang mengemudi truk itu adalah salah satu keluarga kita, apakah kita akan merasakan hal yang sama. Dari kisah ini, saya berpikir betapa empati itu sangat penting, tidak hanya kepada orang yang terkena musibah itu, tapi juga untuk orang lain yang berempati dengan orang yang terkena musibah itu. Empati perlu kita miliki, itu akan membantu kita memahami perasaan orang lain sehingga kita bisa memberi respon yang sesuai.

Empati itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Bahkan, begitu pentingnya empati ini, Wuryanano dalam bukunya 21 Prinsip Dasar Karakter (2007:73) menyebutkan bahwa hidup tanpa empati adalah sebuah kejahatan, bagaimana tidak empati mendasari banyak segi tindakan moral, orang yang tidak memiliki empati berarti berkemungkinan besar melakukan hal yang tidak mempedulikan keadaan orang lain, atau dalam kata lain akan bertindak semaunya.

Sepenggal cerita sebelumnya adalah sedikit banyak gambaran apa yang terjadi pada masyarakat kita, mengenai bagaimanakah empati kita, ada yang berempati, ada yang tidak.

Mungkin kisah itu hanyalah kasuistik dan tidak ditemukan di tempat dan waktu lain, atau itu merupakan puncak gunung es, tidak ada yang tahu sebelum ada penelitian yang empiris mengenai ini. Tapi terlepas dari itu, ini adalah fakta yang terjadi, dan kita tahu kalau ini adalah hal yang salah.

Tidak ada yang bisa lakukan kecuali memupuk empati ini dari dalam diri kita sendiri, kemudian secara tidak langsung menularkannya pada orang lain. Seperti penggalan pepatah di awal tulisan ini, empati adalah energi positif yang kita transfer kepada orang lain, yang bisa mengubah energi negatif menjadi positif.

Semoga melalui tulisan ini sedikit banyak bisa kembali mengingatkan kepada diri kita, apakah kita memiliki cukup banyak empati yang kita tularkan kepada orang lain? Ataukah untuk diri kita sendiri belum cukup?

sumber gambar: www.kinked.webcam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar