Memaafkan Hanan Attaki

Salah satu ciri perempuan salihah itu beratnya tidak boleh lebih dari 55 kg, kata Hanan Attaki. Video singkat ini viral di media sosial, tentu saja memancing banyak reaksi, kebanyakan negatif. Selain soal berat badan, Hanan juga menyebut bahwa Aisyah ummul mukminin adalah seorang traveler dan gaul. Yang menarik adalah beliau mendasarkan statamentnya dengan sebuah hadits.

Salahkah Hanan Attaki? Jawabannya tergantung kita ingin menggunakan perspektif atau tafsir seperti apa. Secara tekstual Hanan bisa saja salah. Sejak kapan berat badan dijadikan ukuran keshalihan perempuan? Kalau kecantikan sih mungkin iya, itu pun menurut penganut mazhab bahwa cantik tidaklah relatif.  Secara kepantasan pun Hanan lagi-lagi masih salah. Pantaskah seorang ummul mukminin disebut gaul dan traveler? Jika kita menggunakan standar atau norma-norma yang berlaku yang kurang pantas. 

Bolehkah Hanan dikritik atau bahkan dibully? Ya sah-sah saja, tak ada yang melarang. Ustadz juga manusia yang tak haram untuk dikritik bahkan dibully. Namun tentu tak adil jika kita hanya melihat dari satu perspektif saja. Saya melihat apa yang beliau lakukan adalah terobosan dalam berdakwah. Hanan Attaki hanya berusaha membumikan sosok yang suci dan melangit menjadi sosok yang akrab dengan keseharian kita. Dampaknya adalah karena sudah dekat dengan kita maka akan lebih mudah diteladani.

Hanan juga melakukan terobosan dengan mengungkap sisi-sisi lain yang tak banyak diulas oleh penceramah lain. Itu yang saya tangkap saat melihat cuplikan singkat video yang viral tersebut. Apa yang terbayang saat kita menyebut Aisyah Ummul Mukminin? Sosok ibu yang beriman, salehah, mengayomi. Kalau begitu berarti kita hanya bisa meneladani Aisyah setelah jadi ibu-ibu. Bagaimana dengan masa muda Aisyah? Di sinilah Hanan dengan cerdas mengungkap kepribadiannya agar bisa ditiru oleh kita. Apa sih salahnya istilah traveler dan gaul? Bukankah maknanya positif? Traveler artinya hobi bepergian, gaul artinya supel suka berteman.

Kembali kepada pernyataan yang paling kontroversial, yakni soal berat badan dan tingkat salihah seorang perempuan. Saya tetap melihat pernyataan ini keluar dalam sebuah konteks, yakni semi-serius. Saya fikir candaan ini masih dalam taraf yang wajar. Tentu saja tidak semua orang suka dicandai, ada juga yang mudah tersinggung. Oleh karena itu biasanya ustadz kalau mau menutup ceramah selalu ada kalimat, mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah. Sebagai mustami’ atau pendengar mari kita juga menjadi pemaaf, kecuali kalau memang sejak awal kita sudah sentimen kepada sosok Hanan Attaki.

sumber gambar: dakwahmedia.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar