Jepang dan Militansi yang Pada Tempatnya

Gelar Riksa


Semenjak bergulirnya piala dunia 2018 di Rusia, fans Jepang mendapatkan sorotan besar dari media internasional. Semua itu dikarenakan tindakan mereka yang dianggap sangat terpuji dan cukup “hangat”, tanpa diminta para suporter timnas Jepang memunguti sampah yang ada di stadion. Bagi orang Jepang hal seperti ini sama sekali tidak aneh, kebiasaan mereka dalam bertanggung jawab dan habluminal alam mengalahkan umat-umat lainnya. 

Saya pernah dua kali pergi ke Jepang, dan perokok di sana membawa asbak portable masing-masing. Ketika malam hari dan mereka pulang mabuk, orang Jepang tetap berhenti saat lampu penyebrangan masih berwarna merah. 

Saya pernah tersesat di sebuah tempat dan seorang yang tidak saya kenal tidak hanya menunjukkan jalan, ia mengantar saya sampai ke tempat tujuan. Masih ada beberapa hal lain yang membuat culture shock saya tidak pernah berhenti, orang Jepang seolah berkata “ada atau tidak ada Tuhan, saya akan tetap menjadi orang baik.”

Selain para fans, permainan timnas Jepang sendiri pada piala dunia ini juga menuai banyak pujian dari para analis. Pelatih Nishino sangat pintar dalam mengatur strategi pasukannya, ia mengubah gaya permainan setiap menemui lawan yang berbeda. 

Melawan Kolombia, Jepang bermain defensif sambil membuat beberapa kejutan kecil ketika lawan lengah, melawan Senegal, Jepang menerapkan jebakan offside yang sangat rapi dan garis pertahanan tinggi. Hanya pertandingan melawan Polandia yang dianggap kurang memuaskan, tetapi itu pun dengan hasil yang sudah diperkirakan dengan sangat matang. Hasilnya, Jepang lolos sebagai runner-up dengan poin fairplay terbaik, artinya paling sedikit melakukan pelanggaran dan mendapatkan kartu kuning. 

Puncaknya, adalah permainan melawan Belgia tadi malam, sebagai satu-satunya wakil Asia yang tersisa, Jepang menunjukkan militansi bertanding yang menyentuh hati kita (setidaknya saya). 

Selama 90 menit, Jepang sama sekali tidak terlihat berada di bawah kelas Belgia dengan generasi emasnya. Sebaliknya, Jepang mendominasi dan bermain menyerang, pemain Jepang seperti samurai-samurai ganas yang menjaga betul kehormatannya. 

Sempat memimpin dengan dua gol, Belgia melakukan perubahan taktik dan berhasil memanfaatkan celah untuk menyamakan kedudukan. Jepang sebetulnya bisa mengulur waktu untuk mendapatkan babak tambahan, tetapi seolah menolak bermain dengan cara seperti itu, Jepang memilih terus menyerang dan bermain terbuka. Akibatnya fatal, sebuah sepak pojok dari Keisuke Honda berhasil diselamatkan Courtouis, untuk kemudian melakukan serangan balik cepat, pertahanan Jepang kocar-kacir dan Chadli mengakhirinya dengan sontekan tepat sasaran.

Jepang gugur di babak 16 besar, menyisakan tangisan para fans dan pemain, tetapi permainan itu dinobatkan sebagai pertandingan terbaik sepanjang gelaran piala dunia 2018 oleh banyak pihak.

Seusai pertandingan saya bertanya-tanya, “dari mana datangnya militansi yang begitu tinggi, kesungguhan untuk menang, dan merasa seolah lebih baik mati daripada harus kalah.” Memang dalam anime atau manga, tokoh utama selalu memiliki nuansa zero to hero, kegigihan akan melahirkan perkembangan, kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Mengapa orang Jepang bisa memiliki etos kerja yang seperti itu, dan tekun dalam mendalami tirakatnya masing-masing.

Sebaliknya dengan itu, orang Indonesia cenderung memiliki militansi yang tidak pada tempatnya. Ketika dulu berada di kampus, kata militansi memiliki asosiasi yang cukup kuat dengan kata dakwah. Padahal dakwah seharusnya berasosiasi cukup dalam dengan kata kasih sayang. Orang Indonesia juga sangat militan dalam menyebar broadcast di whats app, tetapi seolah tidak punya keinginan untuk menulis pendapat yang lebih ilmiah dalam berbagai media lain.

Selain itu, militansi orang Indonesia juga sangat mudah ditemukan dalam cyber-bullying, seolah tidak ada ruang bagi siapa saja ketika melakukan kesalahan. Siapa saja, nyaris tidak ada filter lagi, akan dengan penuh semangat mem-bully orang-orang yang dianggap punya cacat di dalam masyarakat.
Militansi orang Indonesia lebih banyak ditemukan dalam berdebat daripada berpikir. Militansi kita lebih sering ditemukan dalam berkata, daripada berkarya. 

Terakhir, militansi orang Indonesia akhir-akhir ini ada pada keinginan nikah muda. Begitu militan mempersiapkan diri untuk menjadi imam, atau memantaskan diri untuk dicari calon imam. Tidak salah mempersiapkan sejak dini, tetapi banyak hal lain yang harus diprioritaskan pada usia muda produktif, seperti studi lanjut, membangun karir, atau merintis usaha, dan melahirkan inovasi lainnya. Kita seperti kehilangan militansi dalam area-area itu. 

Kembali ke Jepang, ketika berada di sana saya biasa melihat para pelajar yang baru pulang jam sepuluh malam, atau para pekerja kantoran yang baru keluar stasiun kereta jam dua belas malam. Kita kesampingkan dulu efek over work dan kekurangan piknik, tetapi kesungguhan mereka dalam bekerja dan suasana keyakinan dengan pekerjaan yang ditekuni tidak pernah saya temukan di mana pun.

Sementara kita punya militansi tersendiri dalam poya-poya dan ngeluh. Ketika sedang banyak uang, kita tidak menabung atau berinvestasi, sebaliknya kita lebih memilih jalan-jalan, pamer instagram dengan dalih menikmati hidup atau “reward to myself.” Ketika pekerjaan sedang sangat berat, kita ngeluh, ngeluh, dan ngeluh sampai mati. Simpan saja keluhanmu secara offline kawan, tidak perlu pamer soal itu, karena mungkin banyak orang yang punya masalah sama beratnya denganmu. 

sumber gambar: www.pojoksatu.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar