Islam Nusantara yang Saya Pahami



Sella Rachmawati
Akhir-akhir ini kembali mencuat pernyataan Mamah Dedeh terkait Islam Nusantara yang di repost oleh salah satu akun dakwah yang sudah memiliki ribuan followers. Padahal pernyataan yang dilontarkan Mamah Dedeh sudah sejak tiga tahun lalu, dan Mamah Dedeh pun sudah meminta maaf jika pernyataan tersebut menyakiti seseorang atau sekelompok orang. 

Sayangnya, entah bertujuan apa akun tersebut me-repost lagi di tahun ini. Sangat mengecewakan, apa yang ia post tidak sesuai dengan apa yang menjadi tujuan ia membuat akun. Baiknya akun dakwah mbok yo isinya tentang dakwah, memperkenalkan Islam itu damai, bukan malah memprovokatif.

Islam Nusantara digaungkan oleh kyai-kyai Nahdlatul Ulama pertengahan tahun 2015 pada Muktamar NU di Jombang. Yang sebagian orang pahami terkait Islam Nusantara adalah suatu gerakan Islam baru yang kurang tepat, yang bisa menghilangkan kemurnian nilai-nilai Islam. Padahal Islam Nusantara adalah gerakan dakwah yang mengedepankan budaya, adat, dan toleransi yang ada di Indonesia yang notabene memiliki adat budaya yang berbeda-beda dari Sabang sampai Merauke. Islam Nusantara memperkenalkan bahwa Islam adalah agama yang memang damai, yang bertoleransi, bukan Islam yang keras dan kasar. 

Islam Nusantara di sini bermaksud untuk tidak menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal dalam pergerakan dakwahnya, Islam yang cocok dengan keadaan Nusantara dengan segala perbedaan yang dimilikinya. Misalnya dengan menghargai ketika orang-orang non Muslim beribadah agar timbul keharmonisan dan kedamaian. 

Islam Nusantara juga membawa pesan bahwa kita mencintai Nusantara, mencintai Indonesia dengan ragam perbedaannya, tidak membencinya, tidak merusaknya. Islam Nusantara juga mengingatkan kita terhadap perjuangan ulama dan wali pada masa silam, yang menggunakan wayang serta gamelan dalam dakwahnya menebar Islam, hasilnya ternyata Islam dengan mudah diterima masyarakat Indonesia pada saat itu, juga mengingatkan perjuangan para kyai dan santri yang ikut melwan penjajah.

Islam Nusantara bukan Islam yang anti Arab, seperti yang sedang ramai saat ini. Sekali lagi, Islam Nusantara hanya ingin menunjukan bahwa Islam bisa diterima oleh masyarakat nusantara yang memiliki ragam pernedaan di dalamnya dengan tidak menomorduakan akidah dan tauhid juga tetap mencintai kekasih Allah, Muhammad saw.

Menurut Cak Nun, jika kita ibaratkan agama itu singkong. Singkong bisa dibikin macam-macam: kripik, getuk, timus, dan sebagainya. Jadi, singkong salah satunya bisa jadi timus. Sama seperti Islam, bisa ditafsirkan bermacam-macam, karena itu ada banyak aliran, misalnya NU dan Muhamadiyah. Walaupun demikian, Islamnya tetap sama-sama Islam. Intinya sama. Singkong tetap jadi singkong, meski ia dijadikan getuk, kripik, atau timus. Wallahu’alam. 

sumber gambar: hidayatullah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar