Gerimis di luar sana


Tri Cahyana Nugraha
 Gerimis di luar sana, dan aku di sini, menatap layar cahaya yang setia menemaniku. Menulis secarik resah yang sangat mengganggu.
 

Pada akhirnya aku tak sanggup menjadi putih, bahkan aku tak sanggup menjadi kelabu. Bagaimana pun aku tetaplah hitam, yang mencoba melukis cinta dengan satu warna itu.

Di tepi jalan, di tengah malam, di bawah remang lampu jalan aku selalu pergi. pergi mengais sisa-sisa memori senyummu untuk kurangkai menjadi kebahagianku. Aku memang pemimpi, yang dengan bodohnya memaksa tak mengerti dengan keadaan. Bahkan ketika kau, atau mereka sebelumnya meludahiku dengan segala kebencian, aku selalu memaksa memimpikan senyum di sampingku

Oh, terkadang aku lelah. Mencoba membuka mata dan melihat kenyataanya. Namun pada akhirnya aku tertidur kembali, jauh tertidur, meskipun terluka, meskipun aku tak bisa bangun kembali. Aku lebih nyaman tertidur.

Pada kilatan lampu jalan di jendela kaca bis itu, aku bergantung melihat wajahmu yang terlelap. Wajah wanita yang membuatku tak takut mati. Wajah wanita yang tak bisa aku miliki.

Ya, sudah kubilang aku pemimpi bodoh. Dengan lembar-lembar mimpi yang tak pernah terselesaikan. Dan aku tak bisa mengerti apa pun. Bahkan mimpiku sendiri.
 Dan ketika kau membaca ini, kau pun mungkin bingung. Tapi tak usah kau pikirkan. Jika memang tidak ada, biarkan aku seperti hujan yang sesekali mengganggu. Cukup abaikan dengan sebatang payung.
Tapi jika ada, biarkan aku tahu lebih jauh. Agar aku tak selalu tertidur bersama memoar-memoar yang tak pernah pasti.



sumber gambar:
gambarzoom.com
indonesiasemua.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar