Gagasan Komunikasi Efektif: Pesan untuk Guru Zaman Now

Gelar Riksa Abdillah
Penerjemah: M. Jiva Agung W

Komunikasi efektif diperlukan untuk membentuk lingkungan yang sehat dan positif di sekolah, terkhusus di dalam kelas. Dalam bukunya yang berjudul Classroom Management, Creating Positif Learning Environment Lyons dkk dengan lihai menjelaskan urgensi kecakapan komunikasi dari seorang guru untuk membentuk relasi yang baik dengan muridnya.

Sebenarnya persoalan ini muncul sehubungan dengan adanya lingkungan belajar yang negatif yang sering terjadi karena ketidakmampuan guru dalam membangun kepercayaan dengan murid-muridnya. Oleh karena itu wajar jika mereka seringkali merasa tak diinginkan dan tak diterima di dalam kelas.

Argumentasi yang demikian ini didukung oleh Brown yang mengungkapkan bahwa ketika murid berbuat sesuatu yang tak baik, guru seringkali memberi hukuman untuk menyelesaikan masalah alih-alih menemukan cara untuk mengomunikasikannya. Mereka sering lupa kalau tidak semua orang yang datang ke sekolah berada pada level, kemampuan, kompetensi sosial, sistem kepercayaan dan nilai, bahasa dan personaliti yang sama. Jelas, beragam latar belakang ini membutuhkan tindakan komunikasi yang berbeda. 

Kemudian Brown dan Lyons dkk membagi komunikasi ke dalam dua buah tipe, yakni komunikasi verbal dan non verbal. Yang pertama ialah melalui proses pengiriman pesan yang berisi pandangan (gagasan) dan urutan logis dalam bentuk bahasa yang kemudian diinterpretasikan oleh si penerima. Sedangkan yang kedua ialah komunikasi yang pesannya tak terucapkan tetapi ditemukan melalui bahasa tubuh, kedekatan, dan gestur. 

Dalam konteks pembelajaran, kedua keterampilan tersebut merupakan sesuatu yang penting untuk dimiliki. Meskipun demikian, sebagaimana yang telah diberitahu sebelumnya, murid-murid datang dengan banyak perbedaan latar belakang sehingga memungkinkan kalau kedua jenis komunikasi tersebut dalam setiap budaya memiliki pemaknaan yang berbeda. 

Sebagai contoh, ekspresi wajah, sentuhan, atau intonasi suara, boleh jadi memiliki intensi/maksud yang berbeda bagi latar belakang yang berbeda-berbeda ini. Oleh karena itu tidak cukup hanya dengan memahami komunikasi verbal dan non verbal, guru juga harus memiliki pengetahuan tentang keberagaman budaya di dalam kelas sebelum berkomunikasi dengan murid-muridnya. 

Lyons dkk mengusulkan beberapa strategi dalam melakukan komunikasi efektif, seperti mendengar aktif, bertanya terbuka, memberi penegasan, pesan online, dan negosiasi. Perencanaan ini terkesan sempurna dan aplikatif tetapi tindakan ini dapat disalahartikan oleh guru. Sebagai contoh, ketika mereka bertindak aktif mendengar, mereka diperkenankan untuk memberi respon terhadap murid-muridnya meskipun reaksinya suka mengarah pada anjuran atau penolakan. 

Contohnya, jika salah seorang murid hendak berbicara mengenai seseorang yang mereka benci, guru akan segera memberi nasihat moril kepada mereka dengan berucap, “itu bukan cara bicara yang baik” atau “abaikan saja dia”. Sikap ini akan merusak kepercayaan yang hendak terbangun antara guru dan murid, yakni ketika mereka akan merasa tak nyaman berbicara dengan gurunya, alih-alih mempercayainya dalam sebuah relasi yang sehat. 

Jika Lyons menjelaskan komunikasi antara murid dan pendidiknya dengan cara yang lebih general, Brown lebih berfokus pada pola komunikasi terhadap murid-murid di usia remaja. Dia mengembangkan sebuah pandangan yang dinamai komunikasi kongruen yang berarti sebuah gaya berbicara yang tidak menyerang pihak lain melainkan tetap harmonis dengan perasaan yang dialami.

Pendekatan ini penting dalam mengatasi anak-anak di usia remaja, sebab jika menggunakan cara komunikasi yang salah kepada murid di usia remaja maka hal tersebut akan mengarah pada perkelahian atau respon spontan. Tindakan-tindakan seperti memerintah, memoralisasi (memperbincangkan soal benar-salah), menegaskan, dan mempertanyakan, merupakan penghalang dari komunikasi efektif. 

Penghalang-penghalang ini akan mengarah pada apa yang disebut dengan “minim hormat” (low respect) dan menghilangkan ketertarikan mereka untuk berbicara dengan gurunya. 

Oleh karena itu Brown mengusulkan respon empati untuk menciptakan hubungan kepedulian dengan murid. Baginya para guru harus dapat menginisiasi percakapan secara personal dibanding dilakukan di depan teman sebayanya. Tetapi sayangnya usulan ini belum teruji riset secara baik sehingga signifikansinya masihlah belum diketahui. Selain itu, tindakan demikian pun masih belum wajar bagi para pengajar di dalam sistem pendidikan formal. 

Referensi

Brown, D. F. (2005). The Significance of Congruent Communication in Effective Classroom Management. The Clearing House: A Journal of Educational Strategies, 12-15
Lyons, G., Ford, M., Arthur-Kelly, M. (2011). Classroom Management, Creating Positive Learning Environment. Melbourne: Cencage Learning Austalia
 



sumber gambar: telemundo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar