Freeport, dari Soekarno Hingga Jokowi

Meski saya tak begitu paham mengenai hukum dan urusan pertambangan, tapi kiranya  urusan Freeport yang baru saja diakuisisi pemerintah tidak boleh kita lewatkan.

Pada masa penjajahan Belanda, seorang bernama Cartentz dan dua orang temannya berekspedisi ke pegunungan di tanah Papua.

Selang 40 tahun kemudian, pada  akhir 1960-an seorang berkebangsaan amerika, Forbes Wilson, menjadikan catatan perjalanan dari ekspedisi Belanda itu untuk menemukan sebuah gunung dengan sumber daya alam yang menggiurkan.

Dahulu ada gunung Ersberg di sana, salah satu gunung tertinggi di pegunungan itu, kerlap-kerlip tanahnya saat diterpa cahaya matahari membuat ia penasaran dan membuat sebuah  hipotesa bahwa gunung itu mengandung sesuatu yang berharga.

Benar saja gunung itu mengandung tembaga. Gunung yang saya sebut itu kini sudah tidak ada, karena tanahnya sedikit demi sedikit dikeruk sejak 1967 hingga sekarang, gunungnya sudah tidak bersisa, yang ada tinggal lubang menganga, ketiga terbesar yang  digerogoti manusia di seluruh dunia.

Awalnya Soekarno tak memberi ijin penambangan bagi perusahan  Mc Moran itu, salah satu perusahaan yang menopang perekonomian Amerika hingga sekarang. Kabarnya saat itu amerika sedang krisis, Freeport Sulphura, anak  perusahaan Mc Moran juga sedang hancur karena di Cuba, Fidel Castro yang juga Sahabat Bung Karno, menasionalisasikan  semua perusahaan asing, salah satunya Freeport, mereka perlu suntikan pendapatan negara agar membuat ekonominya kokoh dan menjadi adidaya seperti sekarang, banyak yang mengatakan bahwa hal ini juga berkaitan dengan kepentingan elit global penguasa ekonomi dunia, tak aneh jika bank-bank milik Rockefeller ikut campur dalam hal ini.

Proses tawar-menawar alot, kabarnya hingga CIA sendiri yang turun tangan, Soekarno yang malah makin hari makin berani menunjukkan kedekatannya dengan kubu Komunis tentu membuat Paman Sam berang, hingga konon agen CIA dikerahkan untuk mengentikan Bung Besar itu, sekaligus menghentikan John Fitsgerrald Kenedy yang malah simpatik terhadap bangsa Indonesia dari pada memuluskan jalan elit global dalam menguasai gunung emas itu.

Naiknya Soeharto seolah angin segar bagi Amerika, setahun berselang suksesi kepemimpinan, ia meneken kontrak melalui UU pertambangan dan UU modal asing, Freeport mulai beroprasi dengan akad mendulang tembaga. 1 persen penghasilan dari penjualan tembaganya diberikan pada bangsa ini.

Tentu orang bertanya-tanya, jauh-jauh dari Amerika ke tanah Papua hanya untuk mendulang tembaga sedangkan orang mulai tahu juga kalau Mc Moran adalah perusahan logam mulia yang produk penjualannya adalah olahan emas.

Entah kapan bangsa ini baru sadar kalau di dalam gunung itu mengandung juga emas, bahkan ada yang menyebut ada Uranium. Bahan yang mahal dan menjadi bahan  dasar untuk pengolahan nuklir. Ini kalau saya tidak salah  ingat. Rizal Ramli pernah mengatakan, andai saja Freeport bisa dikuasai, mungkin cadangan emas Indonesia bisa sangat banyak dan membalikan  keadaan mata uang kita, 1 Rupiah bisa senilai 2000 dollar AS ujar mantan menteri pertambangan itu.

Hingga sekarang, yang dilakukan Amerika melalui Freeport ini bisa  disebut perampokan besar-besaran, Freeport hanya menggali, tanahnya dibawa mentah-mentah ke Amerika, tidak ada smelter pengolahan hingga tak hanya tembaga, tapi tanah dan segala yang ada di dalamnya jadi milik mereka.  Seperti sengaja, bangsa kita justru dengan senang hati dirampok. Tidak ada demo berduyun-duyun ke sana, tidak ada aksi bela-bela-an, tidak ada propaganda anti asing untuk yang satu ini.

Maka di era Jokowi kita melihat beberapa kejadian penting berkenaan Freeport. Sebut saja kasus papa minta saham yang memalukan itu, jebolnya rekaman audio percakapan petinggi lembaga dewan yang kini mendekam di bui karena kasus korupsi akbar E-Ktp yang juga dengan sengaja datang ke Amerika ujug-ujug tampil di samping mimbar Trump yang sedang kampanye,  lalu menjawab “highly” saat ditanya Trump tentang  dukungan rakyat Indonesia kepada pencalonan dirinya. Hal ini membuktikan memang ada main mata antara pemerintah Amerika dan pejabat-pejabat korup di negeri ini untuk melanggengkan Freeport.

Pemerintahan era Jokowi melalui menteri terkait kemudian mengambil langkah kongkret, ia menegaskan peraturan yang  dibuat sejak era SBY namun tak kunjung ditaati bahwa jika Freeport ingin tetap beroprasi, ia harus memiliki smelter.

Di saat yang sama pemerintah menyiapkan perusahaan pengganti dari dalam negeri, agar kelak pengolahan tanah bekas gunung Ersberg ini bisa sepenuhnya dikuasai anak bangsa, dan beberapa hari yang lalu, pemerintah terlibat dalam sebuah perjanjian besar yakni dibelinya saham 51%  lebih  milik Freeport.

Saya bisa menyebut bahwa ditegakkannya syarat adanya smelter, disiapkannya perusahaan anak bangsa untuk mengelola Freeport dan dibelinya mayoritas saham Freeport adalah langkah nyata merebut kedaulatan di bidang pertambangan yang selama ini kita dengan sukarela dijajah oleh Amerika.

Tak perlu gentar meski Amerika mengancam perang dagang dengan Indonesia, diancam perang militer sekali pun kita harus bergeming. Karena kedaulatan bangsa terhadap tanah dan segala yang terkandung di dalamnya, sama harganya dengan kemerdekaan bangsa itu sendiri.

sumber gambar: suarafakta.com

2 komentar:

  1. "NANTI JUGA LO BAKALAN PAHAM..."

    ***

    Ada seseorang mengontrak tanah kita, 3 tahun lagi..kontrak itu akan habis dan tanah akan kembali pada kita. Namun, sebelum habis si pengontrak kembali meminta di perpanjang kontraknya untuk jangka 20 tahun ke depan.

    Lucunya, si pemilik tanah malah menyetujui dengan syarat kita memiliki sebagian kepemilikan bangunan dan juga aktifitas yang sedang terjadi di tanah tsb. Padahal, tanpa syarat pun sebenarnya tanah itu sudah akan kembali ke kita PLUS apapun yang berdiri di atasnya.

    Lucunya lagi, si pengontrak menyetujui dengan besaran harga utk memiliki sebagian bangunan dan aktifitasnya Dr hitungan si pengontrak. Hitungannya mencakup besaran aset hingga 20 tahun ke depan.

    Seharusnya harga yg di hitung adakah harga saat kontrak akan habis 3 tahun lagi, bukan harga saat kontrak di perpanjang dan 20 taun lagi di nilai.

    Indonesia membeli saham Freeport dengan harga bayangan semu 20 tahun ke depan.

    Kontrak karya Freeport berakhir 2021, sisa 3 tahun dari sekarang.

    Lalu di perpanjang hingga tahun 2041, dan kita merasa hebat karena sudah membeli sahamnya sebanyak 51%. Harga 57 Triliun untuk menebus saham 51%. Freeport membuat harga segitu memandang nilai investasi Selema mereka berada di indonesia hingga 2041.

    Yang seharusnya Freeport bisa kita miliki 100% karena tinggal 3 tahun lagi, apa daya kita harus memiliki Freeport hanya 51% itu pun di tahun 2041. Ada 2 opsi :

    A. 100%,...nunggu 3 tahun ➡ TANPA BIAYA!
    B. 51%......memiliki sebagian ➡ Biaya 57 Triliun.

    Lalu kita memilih opsi B dengan membeli dan menunggu 24 tahun lagi baru bisa kemungkinan membeli 100% saham Freeport karena kontrak karya sudah habis di tahun 2041.

    Harga 57 Triliun pun termasuk harga akal2an Freeport. Mereka menghitung estimasi harga hingga tahun 2041, tahun di mana kontrak di perpanjang oleh Jokowi. Seharusnya, hitungan saham berdasarkan habisnya kontrak karya tahun 2021.

    https://www.cnbcindonesia.com/news/20180711104410-4-22978/harga-51-saham-freeport-rp-57-t-mahal-jangan-gegabah

    Jokowi yang perpanjang, lalu Jokowi juga di paksa membayar saham dengan hitungan yang di perpanjang itu, logika....apakah itu hebat?

    Bagaimana cara membeli saham Freeport?

    Dari hutang. BUMN yang di tunjuk untuk melakukan pembelian mendapatkan kucuran dana dari 11 Bank. PT Inalum menyebutkan ada lebih 4 Bank asing yang siap membantu mereka akuisi saham Freeport. Lebih dari 4 ini berapa..?

    https://www.cnbcindonesia.com/news/20180711140410-4-23038/4-bank-asing-gotong-royong-akuisisi-51-saham-freeport

    Pihak Inalum tidak mau berkomentar banyak. Bisa jadi seluruh pembiayaan mengambil saham Freeport memang Dr Bank asing. Ketika meminjam Bank, maka ada jaminan yang kau berikan pada pihak bank. Bila BUMN meminjam Bank, Pastinya BUMN menjaminkan aset mereka, termasuk tempat mereka berdiri saat ini.

    Saya gak ngerti apakah kita harus bangga atau harus mengelus dada atas pengambilan saham Freeport yang mengikuti cara mafia.

    ➡ Apa kita bangga ketika ada opsi memiliki Freeport tahun 2021 secara mutlak, tapi kita memilihnya hanya menerima sebagian dengan opsi MEMBELI?

    ➡ Apa kita harus bangga, ternyata untuk memiliki saham Freeport kita harus memakai dana HUTANG dari bank asing?

    ➡ Apa kita harus bangga, ternyata untuk membeli saham dengan harga 57 Triliun, ternyata kita sudah di paksa untuk menilai aset Freeport hingga tahun 2041?. Padahal, seharusnya hitungan di nilai dari kontrak yg habis tahun 2021 esok.

    Banyak pihak yang mengambil keuntungan atas judul divestasi saham Freeport. Yang publik tau pemerintah saat ini hebat, namun yang mereka tau...berapa keuntungan yang mereka dapatkan dari deal2an itu.

    Ini bukan hebat, tapi berputar dan menuju jalan rumit utk memiliki harta sendiri. Bagi yang mengatakan hebat, Nanti juga Lo bakalan paham permainan ini.

    BalasHapus