Bulir Hujan dan Sebongkah Batu


Tri Cahyana Nugraha
Akan kuceritakan sebuah kisah padamu. Tentang bulir hujan dan sebongkah batu, tentang kesetiaan, tentang sebuah pengorbanan, tentang cinta yang sederhana.

Aku bertemu dengannya tiga bulan yang lalu. Saat itu ia hanyalah bagian kecil dari lautan. Namun ada yang berbeda darinya. Bersama dengan kelompok kecilnya, ia berani memantulkan bayanganku. Tak peduli seberapa panas bayanganku, ia tetap saja menampilkan bayanganku.

“apa yang kau lakukan?” tanyaku padanya.

“aku memantulkan cahayamu” jawabnya sendu.

“jika kau melakukannya, kau akan masuk dalam siklus menjemukan”

“lebih baik daripada aku seperti ini”

“mengapa? bukankah kalian lebih suka menjadi lautan, karena kalian mencintai ketenangan?”

“tidak untukku”

“haha.. air yang tak ingin ketenangan. Apa kau ingin menjadi bencana seperti mereka yang terluka?”

“tidak..aku tidak ingin melukai makhluk lain”

“lalu kenapa?”

“aku… mempunyai janji” Jawabnya sedikit terbata.

Akupun tak melanjutkan pertanyaan-pertanyaan ini. Ada risau yang teramat ketika aku melontarkan pertanyan-pertanyaan padanya. Risau yang tercipta dari sebuah rindu yang teramat. 

Sehari, dua hari, seminggu hingga sebulan pun berlalu. Perlahan tubuh kecilnya memudar oleh panasku menjadi gumpalan-gumpalan putih di langit. Dalam waktu dua bulan, dengan bantuan angin, ia sudah tiba di kaki sebuah bukit bersama teman-temanya yang sudah menghitam. Dan dalam waktu semalam, gumpalan itu menghilang menjadi bulir-bulir hujan yang menghujam bumi. 

Pagi hari aku mencarinya. Ada penasaran yang timbuk dari kata-kata terakhirnya saat itu. Perlahan sinar redupku mulai menyisir tempat di mana ia jatuh. Cukup lama, cukup lama aku mencarinya hingga pada akhirnya aku menemukannya. 

Saat itu, dengan senyum yang rekah, ia sedang memadu kasih dengan sebongkah batu kali. Ia berbeda ketika saat aku bertemu dengannya ketika menjadi lautan. Ia seperti anak kecil yang merindukan pelukan ibunya, seperti pemburu yang merindukan harta, seperti aku merindukan gerhana bersama bulan. 

Sementara batu yang ditemuinya itu berwarna hitam pekat, kecil, dan terlihat sangat rapuh. Sepertinya ia sudah lama keluar dari perut bumi, tercermin dari tubuhnya yang sudah mulai terkikis oleh air. 

Hanya dua hari waktu mereka bersama, bulir itu mulai menyatu dengan air sungai dan perlahan kembali ke laut, meninggalkan batu dengan segenggam cinta untuk mengobati rindunya hingga pertemuan selanjutnya. 

Dari kabar yang kudapat dari pohon, mereka adalah sepasang kekasih. Mereka bertemu 20 tahun lalu. Saat itu batu dimuntahkan gunung dari perut bumi. Berbeda dengan teman-temannya, ia adalah batu terapuh yang muncul saat itu. Ketika batu-batu lain begitu angkuh dengan memakah jubah baja saat hujan mencari tempat jatuh. 

Ia dengan telanjang membiarkan tubuh lembutnya menjadi tempat jatuh. Tak heran banyak bulir air yang memanfaatkannya hanya agar mereka tak jatuh ke tanah dan masuk kedalam kegelapan bumi. Saat hujan pula ia bertemu dengan bulir air itu. Saat malam, minggu kedua musim penghujan, saat angin tak begitu ramah dengan sedikit mengeraskan wujud bulir hujan, saat kekosongan memenuhi rongga hati mereka.

“menyingkir dari sana” Teriak bulir hujan beberapa saat sebelum menabrak batu.

“tidak apa-apa, aku tidak memakai jubah baja” Jawab batu dengan berteriak juga.

“haaa?” bulir hujan keheranan mendengar jawaban batu.

“awaaaaas” teriak bulir hujan kembali ketika semakin dekat dengan batu.

Namun batu tetap tak menghindar. Ia memang sudah siap dijadikan tempat jatuh bulir hujan. Semakin dekat, semakin dekat hingga akhirnya bulir hujan pun jatuh dipelukan batu. Tubuhnya, kecil, sedikit keras meski jauh lebih lembut dari batu lain, dan hangat.

“kenapa?”

“maksudnya?”

“ya kenapa kamu membiarkan aku jatuh padamu”

karena aku batu terlembut yang bisa memelukmu” Jawab batu dengan senyum kecilnya.

Tiba-tiba bulir hujan merasakan degup yang kencang saat melihat senyumnya. Ia tak pernah melihat makhluk sebodoh batu ini. Entah perasaan apa yang hadir saat itu, semua rasa yang termasuk kedalam kebahagiaan bercampur saat itu. Malam itu, bulir hujan tertidur dalam pangkuan batu, memeluknya erat.

Sejak saat itu, hubungan merekapun semakin dekat. Meski sebenarnya ada rasa yang timbul dari mereka, namun hal itu pada akhirnya hanya menyangkut pada kediaman yang tak bisa dipadamkan.
Dua hari dalam setahun mereka habiskan bersama. Ya, hanya dua hari, saat musim penghujan tiba. Meski begitu hubungan mereka lebih kuat dari mereka yang selalu bertemu setiap hari, bahkan jauh jauh lebih kuat. Namun tak ada sesuatu yang abadi di dunia ini, pada akhirnya semua harus berakhir dengan luka.

Setahun lalu, saat siklus musim berantakan karena makhluk-makhluk egois yang merusak bumi. Bulir hujan bertemu kembali dengan batu setelah dua tahun tak bertemu. Seperti biasa, mereka menghabiskan malam pertama pertemuan mereka dengan saling mendekap erat. Hingga tiba disaat perpisahan mereka, takdir menyadarkan dunia mimpi mereka.

“aku mencintaimu” Ucap bulir hujan pada batu.

maukah kau pergi ke muara bersamaku? Di sana kita bisa tinggal di dasar lautan. Kau tak perlu lagi menahan bulir-bulir hujan yang jatuh. Dan kita bisa hidup selamanya disana” Ucapnya kembali mencoba menyakinkan.

Saat itu batu hanya terdiam, ada kebimbangan menggelayuti pikirannya saat itu. Cukup lama, cukup lama kebisuan hadir diantara batu yang terdiam dan bulir hujan yang menunggu jawaban.

“aku tidak bias jawab batu pelan.

“k..k.ke..napa?” Tanya bulir hujan dengan terbata, takut jika perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan.

“aku tidak bisa, lihatlah aku” jawab batu sendu sembari memperlihatkan tubuhnya.

Seketika bulir hujan merasa sesak. Tubuh batu, tubuh batu yang dahulu terlihat kekar. Kini hanya tersisa tidak lebih dari 10% dari saat pertama mereka bertemu. Tubuhnya telah banyak terkikis oleh bulir hujan lain dan air sungai. 

Cinta yang begitu menggebu pada bulir hujan, membuatnya buta akan kondisi batu. Baginya, batu tetap terlihat sama ketika mereka bertemu. Satu-satunya yang berubah hanya perasaannya yang semakin dalam pada batu ketika bertemu.

“berbeda denganmu, aku tidak abadi. Aku tidak akan kembali menjadi batu saat aku memudar” Ucap batu semakin sendu.

“aku mencintaimu, sangat. Tapi hubungan kita tak lebih dari sebuah mimpi-mimpi yang akan segera berakhir Lanjut batu dengan suara yang lebih berat.

Bulir hujan hanya terdiam mendengar kata-kata yang terucap dari batu. Kenyatan ini, terasa seperti mimpi buruk yang ingin ia akhiri. Lebih dari itu, mungkin ia tak pernah ingin mengalami mimpi ini. Pertemuan itu pun berakhir, dengan meninggalkan luka yang teramat bagi mereka berdua. 

22 tahun, umur batu itu untuk melihat keindahan dan kebusukan bumi. Kini tubuhnya sudah menyatu dengan pendahulunya yang telah lebih dulu menjadi tanah. Memberi luka yang tak terobati bagi bulir hujan.

Ada yang berbeda darinya, dengan kelompok kecilnya ia berani memantulkan bayanganku. Tak peduli seberapa panas bayanganku, ia tetap saja menampilkan bayanganku.

“apa yang kau lakukan” tanyaku padanya.

“aku memantulkan cahayamu” jawabnya sendu.

“jika kau melakukannya, kau akan masuk dalam siklus menjemukan”

“lebih baik daripada aku seperti ini”

“ia sudah tak ada, berhentilah menjadi hujan” Ucapku padanya mencoba menyadarkannya dari mimpi yang belum berakhir.

“mungkin” jawabnya singkat.

‘maksudnya ?’ tanyaku heran dengan jawabannya.

mungkin tubuhnya tidak abadi, tapi kenangan dan perasaannya akan tetap abadi. Seperti hidupku yang abadi”

sumber gambar: tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar