Berdiskusi dengan Praktisi Tasawuf



Di tempat tinggal yang baru, malam itu saya sedang berbincang-bincang ringan dengan paman saya yang dari Cirebon. Awalnya hanya sekadar pembicaraan basa-basi, tetapi kemudian berlanjut kepada sesuatu yang tak saya bayangkan sebelumnya. Kami mulai masuk pada obrolan seputar sufisme. Ini karena saya seringkali mendapati paman saya men-share postingan tentang hal-hal yang berbau sufisme di facebooknya (kebetulan kami berteman di fb). 

Saat ditanya mengapa, itu karena ia merasa ingin “naik kelas”, dari yang dulunya hanya menjalankan syariat, beberapa tahun belakangan ini mulai mempraktikkan ibadah berlevel hakikat. Katanya sih demi menyongsong umurnya yang sebentar lagi menuju 40 tahun, yang menurut tradisi keislaman disebut sebagai umur kematangan seseorang. 

Dia juga menceritakan kalau ketika salat sering mengalami kondisi kepanasan raga-batin. Karena saya termasuk orang yang menggeluti literatur ketasawufan, saya bisa memahami kondisi tersebut dan menceritakan juga keadaan-keadaan yang dialami oleh para sufi ketika sedang beribadah, tentu sesuai dengan apa yang saya baca dari buku-buku tasawuf.

Saat itu sekilas saya pun menceritakan mengenai ketertarikan saya untuk mengambil S2 kajian tasawuf. Meski telah dinyatakan lulus di salah satu kampus negeri, tetapi karena ada sebab-sebab tertentu, saya harus meng-cancel-nya.

Selang beberapa lama kemudian dia memanggil kakaknya yang sedang tertidur, yang katanya juga sering menjadi pembimbing spritualnya. Katanya, kakaknya ini sudah berada di level/maqam yang cukup tinggi.
Sembari menyalakan rokoknya, kakak dari paman saya ini mulai menceritakan pengalaman-pengalamannya. Katanya, jiwa sufistik yang bersemayam di dalam dirinya tak lepas dari peran para leluhur mereka yang memang dari merupakan kalangan kiai. Bedanya, si kakak mendapat ajaran tasawufnya melalui pengalaman spiritualnya dengan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani secara by pass, tanpa melalaui mursyid tertentu, yang juga diselingi dengan beberapa kali pertemuannya dengan rasulullah, sang adik, menurutnya, lebih karena given yang secara tiba-tiba terciprat ke dalam kalbunya. 

Kakak dari paman saya ini memiliki pengalaman spiritual yang lebih banyak dibanding adiknya. Ruhnya sudah sering keluar (baik dalam keadaan sadar [sedang dzikir] maupun keadaan tertidur), menjelajah, atau sering melihat keindahan-keindahan yang tak terucapakan. Ia juga pernah shalat di alam jabarut yang diimami langsung oleh rasulullah. Baginya, bertemu dengan rasulullah adalah suatu pengalaman yang paling membahagiakan. Kenikmatan seperti janji-janji bidadari dan surgawi lainnya menjadi tidak ada apa-apanya. 

Ia juga pernah beberapa kali berbincang dan memeluk rasulullah. Tidak hanya itu, ia juga mendapat bimbingan kitab Sirul Asrar secara langsung dari Syaikh Al-Jailani. Makanya ia menyuruh saya untuk membeli dan membacanya.  

Bagi orang awam, apalagi yang tidak mengkaji ilmu tasawuf, tentu pengalaman ini akan mudah dianggap sebagai delusi belaka, atau dengan bahasa yang lebih halus, sekadar mimpi. Tetapi tidak begitu penilaiannya jika kita telah mengkaji ajaran Islam secara lebih mendalam lagi. Pengalaman-pengalaman spiritual yang ia ceritakan kepada saya, selalu sesuai dengan cerita-cerita yang saya baca dari buku-buku tasawuf. 

sumber gambar: majelisqummania.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar