BBM yang Naik Sedikit-Sedikit dan Rakyat yang Tidak Reaksioner

Satu Juli, tepat tengah malam, pemerintah menaikan harga BBM. Tidak terlalu besar memang tapi sedikit banyak akan berimbas bagi para pelaku bisnis atau usaha di bidang transportasi atau di bisnis lain yang memang bersinggungan langsung dengan transportasi. Satu hal yang ingin saya sampaikan, bahwa saya tidak tahu menahu BBM itu naik dan saya yakin saya bukan satu-satunya orang indonesia yang tidak mengetahui hal tersebut.

Tapi anehnya, tidak seperti  pada kejadian bertahun-tahun lalu di mana kenaikan harga BBM selalu disambut dengan gelombang penolakan dari banyak kalangan. Mulai dari demo dari mahasiswa yang sampai jauh-jauh  dari berbagai kota datang ke istana negara, aksi mogok transpotasi umum, hingga perlawanan yang sangat akhir dilakukan rakyat terhadap kenaikan BBM ini biasanya dengan antre mengular di SPBU untuk mengisi penuh tangki kendaraan mereka sehari sebelum kenaikan BBM, dengan begitu setidaknya kita masih menggunakan BBM yang dibeli dengan harga yang belum naik pada beberapa hari berikutnya.

Saya menjadi bertanya-tanya, saya yang kurang informasi atau memang hal-hal tersebut di atas tidak terjadi pada kenaikan BBM  kali ini.

Dulu memang kenaikan harga BBM kerap signifikan angkanya, hal ini jelas memicu kenaikan ongkos pada transportasi umum, yang mana pada masa itu transportasi umum tak senyaman sekarang, ditambah harga bahan pokok yang langsung naik.

Diiringi kemudian dengan aksi massa baik dari mahasiswa maupun dari kelompok-kelompok masyarakat. Kala  itu memang kabar kenaikan harga BBM pasti menggemparkan masyarakat.  Hal ini terjadi saat negara masih menyubsidi BBM.

Bagi saya, dan mungkin beberapa yang lain, yang lebih senang menggunakan trasportasi umum jika berpergian jauh, lalu jarak kediaman dengan tempat kerja pun dekat (saya hanya menghabiskan Rp. 15.000 untuk membeli pertalite dan itu cukup untuk seminggu lebih) maka kenaikan harga BBM ini tak memberatkan saya, bahkan bisa jadi ada masyarakat kita yang bahkan tidak ngeuh bahwa harga BBM baru saja naik.

Maka  saya heran jika ada yang memprotes kenaikan harga BBM ini dengan mengatasnamakan  rakyat. Memangnya benar rakyat keberatan? Saya menjadi pesimistis begini semenjak tahu bahwa masyarakat Indonesia kadang overacting terhadap banyak persoalan. Itu baru rakyatnya, belum wakil rakyatnya yang  sering bicara seenaknya sendiri.

Misalnya fakta bahwa semua rakyat Indonesia mebenci   korupsi  tapi wakil rakyatnya malah ingin membubarkan lembaga anti-rasywahnya.

sumber gambar: www.news.detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar