Apa yang Perlu Dilakukan Pasca Ramadan?



Taufik Hilmi
Tulisan ini merupakan ringkasan dari ceramah yang saya dengar tujuh tahun yang lalu di Masjid Nurul Huda, Jl. Kliningan, Buah Batu, Bandung, yang sejatinya masih relevan sampai hari ini. 

Saat itu sang khatib mengajak pendengar untuk merenung, mengingat kembali nilai-nilai ramadan apa yang kiranya masih membekas di dalam diri kita, meski sudah hampir sebulan kita meninggalkannya. Menurutnya, tujuan berpuasa yang sebulan penuh dilakukan itu ialah agar manusia memeroleh derajat takwa, dan jika ketakwaan ini dijaga dengan istiqamah, maka dijamin akan dapat bertahan hingga 1000 bulan ke depan. 

Ramadan telah berlalu tetapi jalan kita harus kita tempuh masih panjang, maka seyogyanya peliharalah ketakwaan itu sesuai keganggupan kita. Ia, sang khatib, memberi contoh sederhana. Apakah pasca ramadan kita masih berderma kepada yang membutuhkan? Apakah kita masih dapat mengendalikan amarah terhadap sesama? 

Pun di dunia maya. Sudah berapa banyak postingan yang bernuansa syiar (amar makruf-nahi munkar)? Apakah kita masih menjaga (memakmurkan) masjid? Ironinya, di negeri kita masjid sesak hanya di awal ramadan, bertabrakan dengan realita di zaman nabi di mana masjid justru penuh di akhir-akhir ramadan. 

Dan satu lagi, sesuatu yang pastinya kita lakukan di bulan penuh berkah tersebut, tilawah. Apakah aktivitas ini masih kita lakukan di luar Bulan Ramadan? Sepatutnya kita meniru kebiasaan Imam Al-Ghazali yang sangat menikmati mengkhatamkan Alquran berkali-kali dalam sebulan. 

Bentuk ketakwaan lainnya ialah bergetarnya hati ketika nama Allah disebut sebagaimana yang termaktub dalam ayat kedua surat Al-Anfal. Yang hatinya merasa belum bergetar, maka patut dipertanyaka keimanannya, tetapi yang hatinya telah bergetar jangan terburu-buru merasa aman, apalagi sombong, sebab yang namanya keimanan umat manusia, kadang naik kadang turun. 

Lalu khatib beralih pada pembahasan mengenai persaudaraan sesama muslim. Menurutnya ada tiga tingkatan persaudaraan yang perlu kita perhatikan yang tentu pada tahap selanjutnya bisa diimplementasikan, bahkan menjadi kebiasaan. 

Pertama, persaudaraan yang mana tidak ada lagi prasangka buruk atau unek-unek (ganjalan hati). Sebagai contoh kecil, ketika kita melihat perbedaan di tengah praktik tahiyyat. Ada yang menggerakkan telunjuknya tetapi ada juga yang tidak. 

Jika prasangka buruk sudah menghilang, maka tidak akan ada rasa bahwa dia, yang berbeda praktik fikih dengan kita, merupakan seorang ahli bid’ah, apalagi sampai merasa paling benar sendiri. Solusinya, harus lebih rajin lagi menuntut ilmu, agar tidak mudah menghakimi orang lain. 

Kedua, adalah sikap di mana kita dapat mencintai orang lain sebagaimana kita mencintai diri sendiri. Kalau tidak mau dizalimi, maka jangan menzalimi. Jika ingin orang adil terhadap kita, maka berbuatlah adil. Jika kita memakai baju yang bagus, jangan sampai memberi baju yang tak layak pakai pada orang lain. Jika kita makan enak, maka hindarilah memberi makan sesuatu yang kita sendiri tak nikmat memandanginya. Dan masih banyak contoh lain.

Tingkat ketiga ialah ketika kita bisa mencintai orang lain melebihi diri sendri, dengan kata lain, mau berkorban untuk orang lain. Khatib memberi contoh mengenai kisah Ikrimah (putra Abu Jahal). 

Dalam suasana perang Yarmuk, ketika keadaan perang sudah selesai tapi juga menyisakan para korban hidup yang kritis dari pihak muslimin, ketika itu Ikrimah, yang dalam keadaan kritis, ditawari air dalam wadah perbekalan. Ketika ia hendak meminumnya, ia mendengar rintihan seseorang dari kaum muslim yang masih hidup, ia pun berkata: “Berikanlah air ini kepadanya karena ia lebih membutuhkan. 

Utusan (yang menawari air) itu pun pergi ke orang muslim tersebut. Setelah dihampiri dan ketika hendak meminum air, fulan dari kaum muslim yang kehausan ini mendengar atau melihat orang lain yang kehausan juga. Ia pun berkata dan memerintahkan seperti kata Ikrimah tadi. Utusan ini lalu pergi mendekati orang kehausan tersebut, namun ia memerintahkan untuk terlebih dulu membantu Ikrimah. Setelah utusan pergi ke tempat Ikrimah tadi, ternyata ia wafat.

Demikianlah beberapa hal, baik aktivitas hingga sikap, yang perlu kita jaga meski Bulan Ramadan telah meninggalkan kita. Terakhir, Pak Khatib berpesan kepada seluruh jamaah bahwa sejatinya semua umat muslim itu bersaudara, oleh karenanya perlu ada jalinan kerjasama demi kepentingan bersama dan dijauhi kepentingan-kepentingan artifisial-sempit.

sumber gambar: hidayatullah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar