Anak-anak, Mamah, dan Ketulusan Mengajar Ngaji



 Muhammad Irfan Ilmy

“Ari nganiatan ngaos/ seueurna opat perkawis/ hiji niat karena Allah/ ngalakonan parentahan // kaduana niat miceun/ kabodoan awak abdi/ supaya janten salamet/ salamet dunia aherat// katiluna mun geus bisa/ niat bade dilakokan/ dilakonan ku sorangan/ sareng sadaya rerencangan// kaopatna niat ngaos/ ngahirup-hirup agami/ agamina kanjeng Nabi/ Nabi utusan Pangeran.”

Mengawali ngaji bakda magrib, anak-anak di sekitar rumah dengan semangat melafazkan niat yang dinazamkan ini. Semenjak saya masih kecil, rutinitas ngaji ini persis sama. Tak ada yang banyak berubah. Saya mengingat masa-masa itu dengan cukup baik. Salat isya berjamaah, ngaji bareng, hafalan surat dan doa-doa, tiap Jumat mengundi arisan mingguan, dll. Amat menyenangkan. Untuk arisan, sekarang tidak diadakan.

Entah sejak kapan persisnya mulai diadakan lagi ngaji selepas magrib oleh mamah di rumah sebab saya agak jarang pulang dari perantauan. Sudah cukup lama soalnya ngaji di rumah vakum. Saya pun tak berinisiatif bertanya juga perihal ini. Namun yang lebih penting adalah ada pelajaran penting di sini, yaitu ilmu yang tak dilisankan oleh mamah, tapi langsung menghujam ke benak saya karena diteladankan secara langsung di depan mata. Inilah istiqomah yang sulit dikerjakan itu. Inilah ilmu bermanfaat (meski sedikit) yang tak diberikan ke sembarang orang itu. Inilah ketulusan mengabdi yang hanya dititipkan ke beberapa gelintir manusia saja. Semua pelajaran itu terhampar di hadapan saya. Apakah saya akan menengok lalu mempelajarinya atau malah pura-pura tak peduli?

10 orang anak (saat tulisan ini dibuat) datang buat mendapat bimbingan dari mamah agar terampil membaca Alquran, menulis arab juga piawai menghafal doa-doa pilihan serta surat-surat pendek di luar kepala. Orang tua mereka (kebanyakan ibunya) menunggu di luar sambil merumpikan banyak hal untuk membunuh kebosanan menanti. 

Mamah lalu menanyai satu-satu anak tentang sejauh mana progres hafalan doa-doa dan surat pendek mereka secara bergilir. Yang lainnya disuruh mengaji dan menulis sesuatu dalam tulisan arab. Beberapa dari mereka terlihat sibuk dengan heureuy khas anak-anak. Berceloteh ke sana kemari seperti burung-burung pipit yang sedang asyik bermain di dahan pohon beringin.
. . .
Pengajian selepas magrib ini dilaksanakan tiap hari kecuali jika ada halangan dan Sabtu malam karena ada mingguan untuk ibu-ibu serta bapak-bapak di masjid. Aktivitas yang tentu butuh stok kesabaran ekstra. Akan tetapi, Mamah melakukannya sejak lama. Ia tampaknya tak terlalu harus mengeluarkan energi tinggi untuk melakukannya. Mengajar dan mendidik sudah jadi panggilan jiwanya yang agaknya merupakan warisan dari Apa (kakek saya).

Sekilas pekerjaan mendidik anak-anak lucu itu sesuatu yang ringan. Tapi tak begitu kenyataannya. Buktinya para orang tua angkat tangan dan mempercayakan anak mereka ke guru-guru ngaji dan sekolah agama. Mereka (orang tua itu) mungkin mampu melakukannya sendiri di rumah masing-masing, namun yang luput darinya adalah kesungguhan dan kekhusyuan. Terlebih juga kemauanlah yang tidak mereka miliki. Selain juga menurut pengakuan beberapa orang yang notabene pendidik, ternyata mengajari anak sendiri itu tidak lebih mudah ketimbang mendidik anak orang lain. Banyak godaan di sana-sini. Dan pasti kondisi psikologisnya juga akan beda. 

Jadi, tolong hargai pekerjaan para guru ngaji yang telah membangun pondasi keberagamaan sejak dini kepada anak-anak! Jangan pernah menyakiti hati mereka juga keluarganya. Kalau perlu, sisihkan materi yang layak untuk diberikan kepada mereka sebagai balas jasa. Walau saya yakin, guru-guru ngaji itu sama sekali tak mengharapkannya. Mereka ikhlas melakukan itu semua. Dengan mampunya anak-anak menyerap pelajaran degan baik dan saat dewasa mereka muridnya masih ingat kepada gurunya saja, mereka sudah sangat bahagia. 

Pastilah orang tua yang mengerti tak akan keberatan melakukannya. Yang jadi problem di masyarakat kita yaitu ketidakadilan sejak dalam pikiran dalam memperlakukan sesuatu yang jadi kebutuhan anak-anaknya. Kalau untuk keperluan perkembangan akademik di sekolah (les bahasa Inggris dan matematika misalnya) orang tua meni bebeakan, tapi untuk urusan agama, mereka pura-pura lupa dan lebih parah lagi abai sama sekali. Ini penyakit kronis di jiwa-jiwa para orang tua di sekitar kita. Kalau kita jadi orang tua kelak, penyakit ini kudu diobati. Jangan sampai jadi warisan turun temurun. Tidak baik.
. . .
Sekitar jam 19.00 sepaket aktivitas ngaji diakhiri setelah sebelumnya dipungkas dengan membaca asmaul husna dan beberapa nazaman tentang sifat wajib dan mustahil bagi Allah. Mulai beberapa hari belakangan, anak-anak dilatih juga untuk melakukan salat isya berjamaah. Kemudian selesai berdoa, anak-anak berbaris dan maju satu-satu untuk mencium tangan Mamah lalu langsung pulang. Di rumah, anak-anak itu agaknya bercerita tentang hal-hal yang terjadi saat ngaji. Atau sebaliknya, ibu-bapak mereka yang menanyai tadi dapat apa saja dari Mamah. Ah, sungguh indah. 

Begitulah kebiasaan tersebut diulang di tiap pertemuannya dalam waktu yang lama hingga akhirnya anak-anak itu siap untuk pindah ngaji ke masjid (pengajarnya bapak saya sendiri) dengan materi lebih kompleks seperti fiqih, tauhid, ilmu alat dasar, akhlak dan lain-lain. Wajar jika pelajaran sewaktu anak-anak ini belum balig membekas di alam bawah sadar mereka hingga dewasa nanti. 

Setidaknya saat anak-anak itu sampai di masa menanggung pahala dan dosa sendiri-sendiri, mereka akan siap alih-alih gagap. Mereka sudah terampil membaca Alquran dan menguasai doa-doa pilihan praktis serta punya pembendaharaan surat-surat pendek buat dibaca saat salat. Mereka punya sedikit bekal untuk akhirnya berpredikat anak saleh yang diidam-diidamkan banyak orang tua muslim di muka bumi ini. Sebab itu salah satu jalan tetap tersambungnya pahala kepada seseorang yang telah tiada selain ilmu bermanfaat dan sedekah jariyah. Itu sebagaimana kata baginda Rasul dalam sabdanya. 

Mamah saya hanya satu dari sekian banyak guru-guru ngaji yang mengabdikan dirinya untuk pendidikan agama sejak dini di negeri ini. Di tempat lain tak sedikit yang mencerdaskan anak bangsa terutama dalam hal berislam agar mampu mengimplementasikannya dengan baik. Kita sebagai individu yang masing-masing dibebankan tugas berdakwah (salah satunya mengajari baca tulis Alquran), perlulah untuk berguru kepada mereka dalam urusan ketulusan berbuat baik. Sebab di zaman kiwari saat ini ilmu amat mudah dicari. Yang mahal adalah keterpanggilan hati untuk mengamalkan ilmu tersebut. Yang berat ialah keringanan diri untuk memahamkan orang lain sebagaimana kita paham akan sebuah ilmu. Yang tidak mudah yaitu menggerakkan kehendak berbagi tanpa berfokus pada embel-embel materi. 

Semoga Mamah dan guru-guru ngaji lain yang berbuat tanpa mengharap puja-puji senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, kesabaran, dan keistiqomahan dalam menempuh jalan sunyi ini. 


sumber gambar: dokumentasi pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar