Akhmad Fauzi
Munculnya pemikiran Islam liberal di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh pemikiran Islam dunia, khususnya Timur Tengah dan Barat. Di Timur Tengah muncul gerakan pembaruan Islam, begitu pun di Barat muncul gerakan rekontekstualisasi agama. Keduanya muncul atas sebab stagnannya pemikiran keagamaan pada saat itu.

Stagnannya pemikiran keagamaan, terkhusus Islam, diakibatkan oleh sikap fanatis umat muslim sendiri. Pemahaman tekstual kitab suci juga menjadi salah satu penyebab mandegnya pemikiran Islam.

Dari sana mulailah bermunculan tokoh-tokoh Islam yang menyerukan pembaruan Islam, seperti al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Fazlul Rahman. Mereka mempunyai pemikiran bahwa Islam harus dipahami secara rasional, kontekstual, dan modern.

Melalui pemikiran tersebut akhirnya mereka dianggap sebagai tokoh pemikir Islam liberal. Permikiran mereka setidaknya yang memengaruhi beberapa cendekiawan muslim Indonesia yang kelak merintis pemikiran Islam liberal di Indonesia. Lantas bagaimana muncul dan berkembangnya Islam liberal di Indonesia?

Berbicara perintis, maka hal itu layak disematkan kepada Harun Nasution. Pemikirannya diteruskan oleh Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Djohan Effendi, dan Ahmad Wahib yang merupakan beberapa tokoh yang meramaikan khazanah pemikiran Islam liberal di Indonesia sekitar tahun 70-an.

Pemikiran mereka salah satunya terpengaruhi oleh pemikiran tokoh Islam liberal dunia, yakni Fazlul Rahman melalui neo-modernisnya. Ia merupakan warga negara Pakistan yang menuntut ilmu di Chicago. Nurcholish Madjid,dkk. merupakan muridnya di sana.

Pemikiran Fazlul Rahman membangkitkan pemikiran para intelek muslim Indonesia terutama Nurcholis Madjid. Selain membawa semangat neo-modernisme, Madjid juga membawa semangat sekularisasi. Sekularisasi yang dia bawa berbeda dengan sekularisme. Sekularisasi yang di maksud ialah menduniawikan hal-hal yang seharusnya duniawi. Pemikirannya mengegerkan Indonesia pada saat itu.

Seiring berjalannya waktu, pemikirannya ternyata sejalan dengan pemerintahan orde baru pada saat itu yang mayoritas muslim “abangan”. Pemikirannya pun bertambah kuat setelah munculnya Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid yang mempunyai pemikiran yang tidak jauh berbeda.

 Islam liberal eksis setidaknya sampai orde baru runtuh. Setelah reformasi, kebebasan berekspresi semakin menjadi. Sejak saat itu, mencuatlah pemikiran Islam fundamentalis, yang sebelumnya padam, sebagai anti-tesis dari Islam Liberal.

Pada akhir abad ke-20, muncullah ide untuk mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL) sebagai peredam arus fundamentalis yang cukup deras setelah reformasi. Di awal tahun 2000-an, JIL resmi didirikan oleh tokoh Islam liberal pada saat itu bernama Ulil Abshar Abdalla. Pemikirannya hampir mirip dengan pendahulunya, yakni Nurcholis Madjid. Fokus lain dari JIL adalah membela hak-hak kaum minoritas.
Di awal perjalanannya, JIL cukup eksis dengan gayanya di atas. Tokoh-tokoh JIL mulai menyiarkan pemikirannya melalui tulisan di berbagai media.
Namun di samping itu, mereka juga mendapatkan beberapa pertentangan dari berbagai kalangan masyarakat yang kontra. Hingga akhirnya cahaya JIL mulai meredup beberapa tahun belakangan. Mesikpun demikian, ada beberapa hal yang dianggap masih “seksi” dari JIL hingga saat ini, yaitu  pembelaannya terhadap kalangan minoritas.

Itulah sedikit pemaparan mengenai perjalanan singkat Islam Liberal, satu dari sekian ekspresi keberagamaan yang membawa semangat baru bagi pembaruan pemikiran Islam. Pemikirannya membuka cakrawala pengetahuan dan menyadarkan kita bahwa Islam indah dengan berbagai pemikirannya.

sumber gambar: mozaik.inilah.com, suaraislam.co
Muhammad Akbar
Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah. Di dalamnya tercakup materi-materi seputar Aqidah, Akhlak, Fiqih, dan Tarikh Islam. Sebagai guru, khususnya guru PAI, harus diperhatikan beberapa hal ketika hendak mengajar, di antaranya adalah kompetensi sebagai seorang guru, penguasaan materi, improvisasi media pembelajaran, dan persiapan alat bantu pembelajaran.

Namun, yang tak kalah pentingnya adalah kearifan guru dalam mengajarkan materi yang khilafiyah. Materi ini lazim ditemukan pada materi seputar Fiqih, walau tidak menutup kemungkinan terdapat pula dalam materi yang lain.

Kearifan tersebut dimanifestasikan dalam bentuk—misalnya—keterbukaan guru dalam memberikan wawasan kepada murid bahwa dalam memahami hukum Islam, terdapat berbagai macam pendapat dan mazhab. Seperti yang jamak diketahui, bahwa dalam urusan Fiqih terdapat empat mazhab besar (yang harus mendapat ulasan yang sama porsinya). Hal ini bertujuan agar murid terhindar dari taqlid buta yang dapat membahayakan pemahamannya, lebih jauh dikhawatirkan akan menambah gesekan-gesekan di masyarakat berkaitan dengan khilafiyah yang dewasa ini seakan tak ada habisnya.

Pada prinsipnya, seorang pendidik sah-sah saja condong pada suatu golongan, mazhab, atau organisasi. Namun yang salah adalah memaksakan kecondongannya pada siswa. Karena jika demikian, berarti guru berupaya mencetak muridnya menjadi apa yang diinginkan olehnya.

Semestinya pendidikan (agama) itu adalah upaya melahirkan. Jika pendidikan adalah upaya mencetak, maka murid tak bisa berkembang dan tumbuh. Layaknya tanah liat yang dicetak menjadi genteng atau keramik: kaku. Jika pendidikan adalah upaya melahirkan, maka murid akan tumbuh dan berkembang. Seperti halnya bayi yang baru saja dilahirkan, seterusnya akan tumbuh dan berkembang.

Kisah keteladanan yang dicontohkan para Imam besar madzahib al-arba’ah patut kita tiru. Pasalnya, para Imam tersebut mempunyai hubungan guru-murid yang satu sama lain memiliki kearifan dan keterbukaan akan perbedaan yang luar biasa.

Imam Malik merupakan Imam besar madzhab Maliki yang terkenal dengan kitab Al-Muwaththa`, beliau merupakan Ahli Hadits dan Ahli Fiqh terkemuka di zamannya. Keluhuran ilmu yang dimilikinya, menarik hati dan minat Imam Abu Hanifah—pendiri madzhab Hanafi—untuk belajar darinya, padahal Imam Malik lebih muda 13 tahun darinya.

Imam Malik mempunyai salah satu murid lainnya, yaitu Imam Syafi’i, yang tak lain adalah Imam besar madzhab Syafi’i. Imam Syafi’i bahkan dengan jelas memuji gurunya itu, “Seandainya tidak ada Malik bin Anas, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Imam Syafi’i pun menjadi ulama kharismatik dan luhur ilmunya, banyak para pencari ilmu yang belajar darinya, salah satunya adalah Ahmad bin Hambal, yang kelak jadi pendiri madzhab Hambali.

Begitu arif dan bijaksananya mereka dalam menyikapi ilmu. Sang guru tak serta merta hendak mencetak muridnya sebagaimana yang ia mau, namun guru memberikan ruang bagi murid untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan dan keunggulannya.

Imam Malik tak serta merta memaksa Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i menjadi pengikut madzhab Maliki. Juga Imam Syafi’i tidak kemudian mencetak Imam Ahmad bin Hambal menjadi seorang Syafi’iyyah.

Semangat keterbukaan inilah yang semestinya digelorakan para guru PAI. Membuka cakrawala pengetahuan murid akan keberagaman pandangan. Menancapkan sikap toleran dan inklusif guna keutuhan agama dan bangsa.

sumber gambar: caping.co.id

Beberapa hari lalu publik dibuat geram dengan kabar ditangkapnya Kalapas Sukamiskin lewat OTT KPK. Kabarnya ia orang dibalik nyamannya penjara bagi para koruptor itu. Di sana ada Raja tikus yang menggerogoti KTP seluruh rakyat Indonesia, beberapa mantan ketua partai dari—kalau saya pinjam istilah Amien Rais—Partai setan sampai Partai Allah meringkuk di bui itu dengan fasilitas yang sama sekali tidak seperti penjara dalam gambaran umum kita, tak terlewatkan kelompok tikus yang semula bersarang di Hambalang kini bedol desa pindah bersarang di Sukamiskin.

Saya sebut ini hanya sebuah film daur ulang, memang akhir-akhir ini kita sedang banyak dijejali film daur ulang, sejak hampir beberapa tahun belakangan ini lah. Dari luar negeri ada film-film pahlawan super yang sebetulnya hanya daur ulang dari film-film mereka di puluhan tahun silam, Superman, Batman, Wonderwoman dll, sudah ada sejak puluhan tahun belakang, ceritanya bahkan sama persis.

Pesan moral yang ingin disampaikan pun sama, bahwa manusia selemah apa pun tetap harus punya harapan, siapa tahu ada pahlawan super yang akan membantu menyelesaikan masalah dunia kita yang terlampau pelik ini. Padahal para pahlawan super itu pun berasal dari planet lain yang punya masalah lebih rumit dari planet bumi dan berakhir dengan kehancuran planet mereka. Ini jadi sebuah optimisme yang berujung nihilisme sebetulnya.

Di dalam negeri fenomena keranjingan mendaur ulang film pun terjadi. Legenda lawak republik ini sampai dibuat film reborn-nya. Bukan hanya di bidang film, di bidang politik pun banyak remake, sebut saja ada keluarga penguasa yang mengggurita bisnisnya, itu kan seperti mengulang apa yang terjadi di masa lalu. Ada juga kemungkinan remake di pemilu presiden lima tahun lalu yang kini santer kabar dari para sutradara drama pemilu presiden bahwa pertarungan nya rematch di tahun depan.

Juga termasuk acara mbak Nana, dengan tajuk pura-pura penjara itu juga hanya sebuah remake, daur ulang, re-mindblowing apa yang sebetulnya masih menjadi pengetahuan umum masyarakat bahwa penjara, terutama bagi koruptor, tak semenakutkan apa yang semestinya terjadi. Itu pula mengapa rakyat kita  akhir-akhir ini senang main hakim sendiri, karena tahu di penjara para pelaku kejahatan itu tidak akan mendapat rasa sakit  yang  setimpal.

Maka acara mbak Nana itu bukan dalam rangka memberitahu informasi baru bahwa di penjara, para koruptor itu hidup masih dengan kemewahannya, bukan!  Acara itu dalam rangka memenuhi rasa kerinduan kita terhadap informasi yang sebetulnya kita sudah faham, sudah tahu tanpa harus ada peliputan sekali pun, sebagaimana kita rindu Warkop DKI yang kemudian dibuatkan film remake-nya, kita sudah tahu alurnya, kita sudah tahu ceritanya, sudah tahu dimana letak Grrrr bercandanya, punchline-punchline-nya pun kita sudah hafal betul, tapi kita tetap tonton, dalam rangka melunasi rindu saja. 

Bagi yang mengikuti informasi, mungkin hafal kisah Anton Medan di penjara yang tinggal sebut ingin apa, nanti sipir akan sediakan, atau Edi Tansil, yang siang bisa plesiran yang penting malamnya balik ke sel untuk tidur, atau sebut saja lagu Doel Sumbang yang malah sono alias kangen untuk dipenjara lagi saja, bagaimana tidak, di masa sulit  dulu, saat rakyat  kecil susah  makan, tidur dengan alas seadanya dan kedinginan, pekerjaan tidak punya, seketika ia masuk penjara ia  mendapat selimut hangat, sarapan tepat waktu setiap pagi, hiburan televisi 24 jam, kasur empuk dan lain sebagainya.

Fenomena penjara lebih nyaman dari dunia nyata bukanlah hal baru juga, disamping memang realitas yang benar-benar terjadi seperti itu, ada pesan sindiran juga bagi penguasa, saat penjara lebih nyaman dari dunia luar, ada sesuatu yang  salah, sangat salah, sampai-sampai ada kehidupan yang lebih baik di dalam penjara ketibang di luar, apakah ekonomi sedang sebegitu hancurnya? Atau hukum sedang benar-benar tidak presisi, atau negara gagal memberi  rasa aman dan kurang memberi jaminan kehidupan bagi rakyatnya? Ada yang hendak ditunjukkan oleh semesta lewat adanya fenomena penjara yang lebih nyaman ketimbang dunia luar ini, para pemimpin dan pemegang amanah, harus jeli melihat ini. Ini bukan sekedar fenomena, ini isyarat.

Terakhir, saya mau mengajak pembaca untuk sedikit menelaah ulang kata penjara. Kabarnya penjara ini konsepnya dibuat orang barat pada abad 17-an. Padahal jauh sebelum itu dunia Islam di periode khalifaur Rasyidin sudah menerapkannya juga, konsepnya adalah adanya pengucilan bagi pelanggar hukum. Dari beberapa sumber yang saya baca, penjara awal mulanya dari kata penjera. Jadi kurungan itu bukan tujuannya, ia hanya metode bagi terciptanya satu tujuan: jera. Saya sepakat dengan yang terakhir ini. Penjara mestinya memberikan rasa jera, bukan malah menjadi institusi yang membuat pencuri motor jadi tahu cara mencuri dompet di pasar, atau malah menjadi tempat kursus bagi koruptor agar setelah lulus dari penjara nanti jika korupsi lagi tidak kena KPK.

Masalahnya sekarang adalah, semua tindak pidana ujung-ujungnya adalah penjara. Dan penjaranya seperti yang kita tahu, ya seperti itu, tidak membuat jera, malah menyenangkan, bagaimana perasaan seorang ibu yang anak perempuannya diperkosa seorang pemuda, pemuda itu dipenjara. Karena uang dan sulap dunia lainnya, si pemuda keluar penjara tanpa mendekam berlama-lama. Si ibu dari gadis korban pemerkosaan itu pasti was-was, ngeri, takut-takut  anaknya jadi incaran si pemuda residivis itu lagi. Seperti itu pulalah yang harusnya kita khawatirkan dari fenomena ini, jika penjara senyaman itu, jauh bara dari panggangan, jangankan jera, keluar penjara si koruptor langsung kembali ke arena politik dan menjadi koruptor yang lebih andal.

Kita pernah punya koruptor yang dipenjara dapat setahun, mantan Ketua PSSI, dengan tanpa malu dengan status mantan napinya ia jadi jubir partai dan kembali muncul ke publik. Apa yang mau kita pegang dari ucapan yang keluar dari mulut yang makan uang rakyat ratusan juta hingga milyaran itu? Moral apa yang kita acu jika pimpinan partainya saja masuk penjara lantas kita masih mau percaya pada kader partainya?  

sumber gambar: tribunnews.com
Gelar Riksa Abdillah
Penerjemah: M. Jiva Agung W

Komunikasi efektif diperlukan untuk membentuk lingkungan yang sehat dan positif di sekolah, terkhusus di dalam kelas. Dalam bukunya yang berjudul Classroom Management, Creating Positif Learning Environment Lyons dkk dengan lihai menjelaskan urgensi kecakapan komunikasi dari seorang guru untuk membentuk relasi yang baik dengan muridnya.

Sebenarnya persoalan ini muncul sehubungan dengan adanya lingkungan belajar yang negatif yang sering terjadi karena ketidakmampuan guru dalam membangun kepercayaan dengan murid-muridnya. Oleh karena itu wajar jika mereka seringkali merasa tak diinginkan dan tak diterima di dalam kelas.

Argumentasi yang demikian ini didukung oleh Brown yang mengungkapkan bahwa ketika murid berbuat sesuatu yang tak baik, guru seringkali memberi hukuman untuk menyelesaikan masalah alih-alih menemukan cara untuk mengomunikasikannya. Mereka sering lupa kalau tidak semua orang yang datang ke sekolah berada pada level, kemampuan, kompetensi sosial, sistem kepercayaan dan nilai, bahasa dan personaliti yang sama. Jelas, beragam latar belakang ini membutuhkan tindakan komunikasi yang berbeda. 

Kemudian Brown dan Lyons dkk membagi komunikasi ke dalam dua buah tipe, yakni komunikasi verbal dan non verbal. Yang pertama ialah melalui proses pengiriman pesan yang berisi pandangan (gagasan) dan urutan logis dalam bentuk bahasa yang kemudian diinterpretasikan oleh si penerima. Sedangkan yang kedua ialah komunikasi yang pesannya tak terucapkan tetapi ditemukan melalui bahasa tubuh, kedekatan, dan gestur. 

Dalam konteks pembelajaran, kedua keterampilan tersebut merupakan sesuatu yang penting untuk dimiliki. Meskipun demikian, sebagaimana yang telah diberitahu sebelumnya, murid-murid datang dengan banyak perbedaan latar belakang sehingga memungkinkan kalau kedua jenis komunikasi tersebut dalam setiap budaya memiliki pemaknaan yang berbeda. 

Sebagai contoh, ekspresi wajah, sentuhan, atau intonasi suara, boleh jadi memiliki intensi/maksud yang berbeda bagi latar belakang yang berbeda-berbeda ini. Oleh karena itu tidak cukup hanya dengan memahami komunikasi verbal dan non verbal, guru juga harus memiliki pengetahuan tentang keberagaman budaya di dalam kelas sebelum berkomunikasi dengan murid-muridnya. 

Lyons dkk mengusulkan beberapa strategi dalam melakukan komunikasi efektif, seperti mendengar aktif, bertanya terbuka, memberi penegasan, pesan online, dan negosiasi. Perencanaan ini terkesan sempurna dan aplikatif tetapi tindakan ini dapat disalahartikan oleh guru. Sebagai contoh, ketika mereka bertindak aktif mendengar, mereka diperkenankan untuk memberi respon terhadap murid-muridnya meskipun reaksinya suka mengarah pada anjuran atau penolakan. 

Contohnya, jika salah seorang murid hendak berbicara mengenai seseorang yang mereka benci, guru akan segera memberi nasihat moril kepada mereka dengan berucap, “itu bukan cara bicara yang baik” atau “abaikan saja dia”. Sikap ini akan merusak kepercayaan yang hendak terbangun antara guru dan murid, yakni ketika mereka akan merasa tak nyaman berbicara dengan gurunya, alih-alih mempercayainya dalam sebuah relasi yang sehat. 

Jika Lyons menjelaskan komunikasi antara murid dan pendidiknya dengan cara yang lebih general, Brown lebih berfokus pada pola komunikasi terhadap murid-murid di usia remaja. Dia mengembangkan sebuah pandangan yang dinamai komunikasi kongruen yang berarti sebuah gaya berbicara yang tidak menyerang pihak lain melainkan tetap harmonis dengan perasaan yang dialami.

Pendekatan ini penting dalam mengatasi anak-anak di usia remaja, sebab jika menggunakan cara komunikasi yang salah kepada murid di usia remaja maka hal tersebut akan mengarah pada perkelahian atau respon spontan. Tindakan-tindakan seperti memerintah, memoralisasi (memperbincangkan soal benar-salah), menegaskan, dan mempertanyakan, merupakan penghalang dari komunikasi efektif. 

Penghalang-penghalang ini akan mengarah pada apa yang disebut dengan “minim hormat” (low respect) dan menghilangkan ketertarikan mereka untuk berbicara dengan gurunya. 

Oleh karena itu Brown mengusulkan respon empati untuk menciptakan hubungan kepedulian dengan murid. Baginya para guru harus dapat menginisiasi percakapan secara personal dibanding dilakukan di depan teman sebayanya. Tetapi sayangnya usulan ini belum teruji riset secara baik sehingga signifikansinya masihlah belum diketahui. Selain itu, tindakan demikian pun masih belum wajar bagi para pengajar di dalam sistem pendidikan formal. 

Referensi

Brown, D. F. (2005). The Significance of Congruent Communication in Effective Classroom Management. The Clearing House: A Journal of Educational Strategies, 12-15
Lyons, G., Ford, M., Arthur-Kelly, M. (2011). Classroom Management, Creating Positive Learning Environment. Melbourne: Cencage Learning Austalia
 



sumber gambar: telemundo.com