Upaya Menyibak Alquran: Secuil Tanggapan atas Pendidikan Qurani Aam Abdussalam



Gagasan pendidikan Qurani ala Pak Aam Abdussalam ini sepertinya dilatarbelakangi oleh kegelisahan dan keresahannya pada pendidikan di dunia modern—termasuk di negara-negara Islam—yang sangat kental diwarnai oleh filsafat positivisme, rasionalisme, dan materialisme, memaksa segala hal yang “ada” adalah sesuatu yang hanya dapat diukur dan teramati. Implikasinya, aspek-aspek gaib tidak dianggap sama sekali. 

Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa “tidak heran kalau manusia yang dihasilkannya adalah manusia setengah jadi, manusia yang cerdas dan terampil tetapi tidak bijaksana, manusia yang hedonis dan individualis.” Jelas, paradigma tersebut bertentangan dengan ajaran Islam yang sangat menekankan kehadiran Yang Maha Gaib (Allah) sebagai the ultimate reality[1]

Memang, Alquran mengakui bahkan mengundang manusia untuk giat berpikir (ranah rasio) dan mengobservasi (ranah empirik), tetapi Alquran tidak berhenti sampai di sana, sebab, sebagaimana terlihat dalam surat  Ar-Rahman, manusia perlu melangkah lebih jauh lagi hingga pada pengaktualan aspek ruhiyyah (spiritual, hati, intuisi)[2].

Sayangnya, masih menurut Pak Aam, pengkajian mengenai pendidikan Islam berbasis Alquran di kalangan cendekiawan muslim masih sangat normatif. Belum bisa mengekstraksikannya ke dalam sebuah konsep yang sistematis. Kalau pun ada, sifatnya masih debatable mengenai redaksi manakah yang lebih komprehensif antara tarbiyah, ta’lim, dan tadris. Dari ketiganya baru tarbiyah yang mendapat banyak perhatian sedangkan ta’lim dan tadris masih diminorkan. 

Padahal, sebagaimana penemuannya, konsep ta’lim memberikan gambaran pendidikan yang lebih komprehensif. Berbeda dengan banyak cendekiawan yang mengartikan ta’lim sebagai sekadar proses pengajaran (transfer of knowledge), Pak Aam berkesimpulan kalau ta’lim memiliki pengertian yang lebih dekat dengan proses pembelajaran[3] yang memiliki esensi berupa upaya untuk membelajarkan siswa dengan memberdayakan secara optimal metode, media, dan sumber belajar[4].

Sebelum melakukan penganalisisan ta’lim dalam Alquran, Pak Aam menghidangkan beberapa pembahasan pengantar seperti: pentingnya menjadikan Alquran sebagai sumber pendidikan; tauhid sebagai paradigma pendidikan yang patut dijadikan rujukan sekaligus tujuan akhir pendidikan; peran manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab untuk “menghidupkan” alam sesuai kehendak ilahi; pendidikan sebagai misi utama Alquran; dan mengenai wahyu sebagai pemandu ilmu. 

Hasil penelusurannya memaparkan kalau konsep pembelajaran (ta’lim) memiliki akarnya pada paradigma iqra yang setidaknya mengandung tiga pokok pikiran[5]. Pertama, adanya pengakuan Tuhan bahwa manusia memiliki potensi belajar yang lebih unggul dibanding makhluk ciptaan-Nya yang lain. Bagi Pak Aam, ayat pertama surat Al-Alaq memberi kesan yang kuat terhadap pemaknaan ini[6]

Kedua, pengakuan seluruh wujud, baik yang konkret maupun abstrak juga semua ayat baik yang kauniyah maupun qauliyah, yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran. Pemaknaan ini didapatkan dari hasil ekstraksi ayat 4 dan 5 yang secara implisit memberitakan bahwa Allah mengajarkan/membelajarkan—segala ilmu dan dari mana pun sumbernya—kepada manusia melalui perantara/media apa pun[7].   

Dan ketiga, pengesaan Allah sebagai prinsip utama pengembangan pembelajaran. Pengesaan ini merupakan sebuah keniscayaan dikarenakan sifat manusia yang mustahil berdikari secara absolut sebab dirinya tak bisa lepas dari bentuk-bentuk ketergantungan, baik dari aspek biologis, sosiologis, maupun psikologis. Pandangan inilah yang diyakini Pak Aam setelah mencoba menelusuri makna redaksi alaq dari ayat kedua surat Al-Alaq[8]

Kemudian, dari konsep ta’lim itu Pak Aam mencoba untuk memeras nilai-nilai intinya hingga ia menemukan setidaknya 9 buah prinsip pembelajaran (ta’lim), di antaranya: (1) rahmaniyyah (kasih sayang); (2) takamuliyyah (integratif); (3) syumuliyyah (komprehensif); (4) wasaliyyah (kemediaan); (5) tawazuniyyah (keseimbangan); (6) istimrariyyah (kontinu); (7) waqi’iyyah (kontekstual); (8) rabbaniyyah (ketuhanan); dan (9) uswiyyah (keteladanan)[9]

Akhirnya, sebagai konsekuensi dari penyingkapan paradigma iqra dan prinsip-prinsip pembelajaran (ta’lim), Pak Aam dapat merumuskan definisi dan tujuan pembelajaran secara eksplisit. Untuk yang pertama ia artikan sebagai[10]
 
“suatu proses bantuan atau bimbingan yang telaten dengan memberdayakan sumber belajar agar terjadi aktivitas belajar secara mandiri untuk menemukan fakta dan makna dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan muallam (siswa/peserta didik) sebagai khalifah Allah.”

Adapun yang terakhir dirumuskan sebagai upaya pembinaan agar manusia dapat memberdayakan potensi, baik yang ada di dalam dirinya (berupa jasad, akal, maupun ruhani) secara integratif maupun lingkungannya (berupa alam dan masyarakat) secara adil, dalam rangka mengaktualisasikan dirinya sebagai wakil Allah di muka bumi[11]

Supaya konsep ini lebih membumi, maka upaya terakhir yang dilakukan oleh Pak Aam ialah dengan menurunkannya ke tahap yang lebih operasional hingga siap pakai yang tiada lain adalah dengan membuat langkah-langkah pembelajaran, seperti sebagai berikut: (1) menghadirkan niat; (2) menentukan tujuan pembelajaran; (3) menentukan materi pembelajaran; (4) menentukan dan memberdayakan sumber belajar; (5) merencanakan tindakan-tindakan pembelajaran yang telaten; (6) menjelaskan atau mencontohkan proses belajar; (7) membimbing muallam agar belajar secara aktif dan mandiri; (8) membimbing muallam mengonstruksi pengetahuan dan makna; (9) membimbing muallam mengaktualisasikan materi pelajaran pada kehidupan nyata; (10) evaluasi belajar dan pembelajaran[12].

Tanggapan
Sejujurnya, tesis yang ditawarkan oleh Pak Aam ini sungguh mulia sekaligus brilian, dalam artian bahwa ia mencoba untuk membuktikan kefungsionalan Alquran sebagai pedoman sekaligus solusi dari aneka permasalahan umat manusia, tak terkecuali dalam bidang pendidikan yang sayangnya kurang mendapat perhatian lebih dari internal umat muslimnya sendiri. 
Yang kebanyakan selama ini mereka lakukan hanyalah sekadar mengutip atau mencomot satu dua ayat lalu dipakai secara “seenaknya” seakan-akan jika telah melakukan hal tersebut maka masalah, termasuk bidang pendidikan, akan terselesaikan. Tidak, masyarakat kontemporer tidak akan puas dengan hal itu. Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih tersistematis dan dapat dipertanggung jawabakan, dan saya rasa Pak Aam ada di gerbang tersebut, mencoba untuk menjawab tantangan zaman dengan menggali Alquran secara holistik dan bahkan siap pakai. 

Meskipun gagasan-gagasannya tidaklah murni baru, malah dalam banyak hal terdapat kesamaan esensi dengan produk-produk Barat, tetapi menurut saya Pak Aam cukup berhasil meredam, kalau enggan berkata “melawan balik”, gempuran sekularisasi dan rasional-empirical oriented yang telah tumbuh subur di segala bidang ilmu pengetahuan modern yang pada titik ektremnya hendak menghilangkan Tuhan dari kehidupan umat manusia. 

Tetapi di bagian ini pulalah terdapat sisi kelemahan dari cara-caranya membangun sebuah premis. Ia seperti ingin menggeneralisir dan menyederhanakan dampak “keterbelahan” manusia dewasa ini karena hidup mereka yang sangat terilhami filsafat modern (rasionalisme, empirisme, dan positivisme) dengan mengatakan[13]:

“cara pandang seperti itulah yang mendasari pengembangan pembelajaran di dunia, termasuk di dunia Islam. Konsep dan teknik pembelajaran yang dikembangkan dan diaplikasikan di dunia menjadi sangat gersang dari hal-hal yang ilahiyah. Batas-batas rasional dan empirik ditempatkan sebagai satu-satunya tolok ukur kebenaran dan keberhasilannya” 

Bahwa filsafat-filsafat tersebut mempengaruhi kehidupan manusia modern memang tak perlu dipungkuri, hanya saja memukul rata sesuatu (kehidupan manusia) yang beragam, organis, dinamis, dan kompleks nan njlimet, bagi saya, merupakan sebuah ketergesa-gesaan.

Di Barat sendiri bukan hanya ketiga filsafat itu yang membangun paradigma mereka, ada pula filsafat idealisme yang diperkenalkan oleh Fichte, Schelling, Hegel, Pascal, dan Kant di mana mereka meyakini bahwa hakikat fisik adalah jiwa (spirit). Fichte mengungkapkan kalau sesuatu yang ada di belakang kita adalah Absolute Mind. Pusat filafatnya Hegel adalah Geist (roh, jiwa)[14].  Pascal mengatakan bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan melalui akal dan hati. Lebih lanjut ia menuturkan bahwa jika akal hanya dapat mengetahui dengan segala keterbatasannya, berbeda dengan hati yang dapat menyingkap hal tersebut dengan nyata[15].

Pernyataan-pernyataan di atas secara implisit pun telah mematahkan dugaan Pak Aam, sebagaimana yang termaktub di halaman 2, bahwa kajian-kajian psikologi di Barat—yang sangat dipengaruhi oleh filsafat—tidak mengenal konsep ruh.

Lalu, tidak dapat juga disaklekkan penerapan pendidikan Barat yang katanya serba mekanistis, saintisistik, dan sekuler, dengan output yang serba buruk seperti hedonis dan individualis sembari mengeyampingkan akibat positifnya[16]

Kita perlu adil pula sejak dalam pikiran bahwa dialektikanya tidak serta-merta demikian. Harus diakui bahwa Barat telah banyak melakukan tindakan mulia berkat penemuan-penemuan dari berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang tentu amat memberi maslahat bagi kehidupan umat manusia. Fakta ini setidaknya menggugurkan pandangan-pandangan yang menyatakan bahwa Barat secara mutlak individualis.

Begitu pun dengan gaya hidup hedonis, tidak bisa rigid direlasikan dengan pengaruh filsafat pendidikan Barat. Beberapa orang terkaya dunia yang jelas-jelas produk pendidikan Barat, malah tak sungkan untuk “menghambur-hamburkan” uangnya untuk aksi sosial. Bill Gates, milyader pendiri Microsoft, tercatat telah memberikan sumbangan sebesar 25 milar US dolar atau setara dengan 325,1 triliun rupiah. Warren Buffet, orang terkaya ketiga di dunia tahun 2015 versi Forbes, selain dikenal memiliki gaya hidup sederhana, juga sepanjang hidupnya telah memberikan donasi sebanyak 290.2 triliun rupiah. 

Sederetan milyader dunia lainnya seperti Mark Zuckerberg, Eli & Edythe Broad, Michael Bloomberg, Paul Allen, George Soros, Chuck Feeney, Gordon & Betty Moore, dan Walton Family, juga gemar memberikan sumbangan[17]. Tidak hanya dermawan, Bill Gates dan Mark Zuckerberg telah dikenal luas sebagai milyader yang bergaya hidup sederhana. 

Selanjutnya, walaupun penelaahan ta’lim yang dilakukan bisa dikatakan amat mendalam, tetapi agaknya masih kurang sempurna karena Pak Aam tidak melengkapinya dengan redaksi ta’lim yang terdapat dalam literatur hadits-hadits shahih. Bukankah hadits adalah bayan (penjelas) Alquran? Sayang sekali jika tidak diikutsertakan. Kelemahan lainnya ialah masih berkutatnya Pak Aam pada pendekatan teks kebahasaan (linguistik) belaka. 

Betapapun pendekatan ini terbukti telah membuka banyak tabir ilmu atau kuasa Allah, tetapi bagi saya, Alquran lebih dari sekadar kalamullah yang di-teks-kan, oleh karena itu, penyibakkan atas ayat-Nya pun perlu didekati dengan beragam ilmu pengetahuan.

Recently, pendekatan multidisiplin ilmu sosial mulai digemari oleh cendekiawan muslim kontemporer. Sebab mereka menyadari bahwa Alquran bukan hanya tidak hadir di ruang dan waktu yang hampa tetapi Alquran juga “hidup” dan berinteraksi pada situasi dan kondisi-kondisi yang mengitarinya, maka mulai dari ilmu sejarah, sosiologi, hingga antropologi dipakai untuk mendekati wahyu Ilahi agar dapat dipahami secara lebih holistik.   

Di atas itu semua, saya sangat mengapresiasi usaha sungguh-sungguh Pak Aam yang sangat meyakini bahwa Alquran dapat dan mesti dijadikan sebagai solusi problematika umat manusia. Satu pesan utama yang sepertinya ingin disampaikan Pak Aam, khususnya teruntuk dunia pendidikan, supaya jangan sampai menghilangkan unsur-unsur gaib (yang pada titik klimaksnya adalah Tuhan itu sendiri) di semua aspeknya.

Akar pandangan Pak Aam ini sebenarnya telah mendapat tempatnya dalam diskursus ilmu pengetahuan modern, bahwa yang “abstrak/gaib” itu juga perlu atau dapat diakui kebenarannya. Bahkan kebenaran tersebut (yang sifatnya gaib) dapat didemonstrasikan (dibuktikan secara rasional), sebagaimana telah ditenarkan oleh seorang teosofer kontemporer Syiah, Mulla Sadra, yang diberi nama al-hikmah al-mutaaliyyah.

*esai ini dimuat dalam buku antologi Dari IPAI untuk Guru Kami

sumber gambar: instgaram.com 


[1] Aam Abdussalam. (2017). Pembelajaran dalam Islam: Konsep Ta’lim dalam Al-Quran. Yogyakarta: Maghza, hlm. 2-4
[2] Ibid, hlm. 14-15
[3] Ibid, hlm. 11
[4] Ibid, hlm. 21
[5] Ibid, hlm. 38. Juga Disertasi Aam Abdussalam (2011). Pembelajaran dalam Al-Qur’an Al-Karim Studi Bayani terhadap Konsep Ta’lim dalam Alquran. PPs UIN Bandung, hlm. 137
[6] Ibid, hlm. 50-51
[7] Ibid, hlm. 44-45. Sebenarnya sumber belajar terkategorikan menjadi tiga buah sumber, yakni Alquran, alam-kehidupan, dan Allah secara langsung. Lebih lengkapnya baca hlm. 89
[8] Ibid, hlm. 48-49
[9] Ibid, hlm. 239
[10] Ibid, hlm. 164
[11] Ibid, hlm. 200
[12] Ibid, hlm. 240
[13] Ibid, hlm. 4
[14] Ahmad Tafsir. (2013). Filsafat Umum. Bandung: Rosda, hlm. 233-234
[15] Ibid, hlm. 155
[16] Abdussalam, hlm. 2
[17] Siska Amelie F Deil. (9 Nov 2013). 10 Miliader Dermawan AS yang Rela Terkuras Triliunan Rupiah. Diakses dari www.m.liputan6.com, pada 16/03/18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar