Ulama-Cendekiawan Muslim yang Membentuk Pemikiranku



Setelah melewati fase fanatik, yang juga berarti mengawali masa turning point-ku dalam beragama, aku mulai mencoba untuk membuka diri terhadap aneka ragam pemikiran keislaman dengan sikap tawadhu tetapi juga kritis, tentu dengan tingkatan yang masih sangat sederhana. Ini terjadi di tahun awal masa perkuliahan. 

Saat itu aku mulai tertarik pada ilmu tafsir Alquran. Kesukaanku ini bukan tanpa alasan. Adalah salah seorang dosenku yang sangat karismatik dan memiliki pemahaman tafsir yang mendalam telah mempengaruhiku untuk mencintai Alquran. Dia adalah Aam Abdussalam. Sekarang beliau menjadi ketua prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam di almamaterku. 

Pak Aam, begitulah kami biasa menyebutnya, sering mengutip nama Quraish Shihab di dalam kuliah-kuliahnya, membuatku penasaran dengan sosok ulama kelahiran Rappang yang wajahnya sudah tak asing di pertelevisian kita, khususnya ketika ramadan tiba. 

Meskipun telah mengenal Quraish Shihab sejak lama, waktu itu aku belum terlalu tahu kalau beliau adalah salah seorang ulama tafsir paling terkemuka di Indonesia. Tetapi setelah membaca buku-bukunya, mulai dari Tafsir Al-Misbah, Wawasan Alquran, Membumikan Alquran, Secercah Cahaya Ilahi, hingga yang paling terbaru Islam yang Saya Pahami, juga ceramah-ceramahnya, aku menjadi haqqul yaqin kalau ia memang benar-benar ulama-intelektual. 

Beliau sangat berperan atas kecintaannku pada Alquran dan ilmu-ilmu yang mengitarinya. Bahkan kalau tidak salah, di tingkat dua atau tiga perkuliahan, aku menyatakan bahwa beliau adalah tokoh favoritku. Jadi tak mengherankan kalau 80-90% paradigma berpikirku, setidaknya secara garis besar, akan sama dengan pemahaman beliau. Kalau mau sedikit berlelucon, kalau ada mazhab Shihabiyyah (pengikut Quraish Shihab) mungkin aku termasuk salah satu pengikutnya. 

Hal yang paling kuat kuambil dari sosok beliau adalah sikap moderasinya dalam memahami agama, tidak esktrem kiri juga tidak ekstrem kanan. Tidak liberal juga tidak eksklusif apalagi fundamentalis-radikal. Kalau pun ada yang menganggap beliau liberal, aku yakin kalau dia pasti belum membaca seluruh karyanya atau grand desain pemahaman keagamaannya. 

Di masa kuliah, selain membaca buku-buku tafsir dan ilmu tafsir, aku pun tertarik dengan khazanah pemikiran keislaman, khususnya sesuatu yang mungkin berbeda dengan produk pemahaman umat muslim pada umumnya sebab mereka menawarkan wacana atau pemahaman keislaman alternatif yang progresif. 

Sebagian besar di antara mereka adalah para dosen aktivis atau peneliti. Dalam konteks ini, mereka lebih sering disebut cendekiawan dibanding ustaz atau ulama karena memang mereka lebih sering muncul di lingkup akademis dibanding pada ruang-ruang masyarakat grassroots (dengan sedikit pengecualian). Untuk sekadar menyebut―yang tentu masih lebih banyak lagi yang tak tersebutkan―ada Harun Nasution-Soekarno (berkat pemikiran rasionalnya), Munawir Syadzali (argumentasi hak waris yang cukup kece), Said Aqil Siradj (tentang Sunni-Syiah dan tasawuf yang mencerahkan). 

Juga Haedar Nashir (mengenai pentingnya koordinasi NU-Muhammadiyah dalam menjaga Islam Indonesia yang ramah), Ulil Abshar Abdalla (mengenai kegelisahan dan pandangan-pandangan uniknya), Abd Moqsith Al-Ghazali (mengenai kompleksitasan sejarah dan ilmu Alquran), Gus Dur-Cak Nur-Cak Nun-Syafi’i Maarif (mengenai problematika kebangsaan), K.H Husein Muhammad (pencerahan atas pembelaan kaum wanita).

Tak lupa saya pun giat membaca tulisan Azyumadri Azra (atas bentangan kekayaan sejarah Islam yang memukau), Zuly Qodir (mengenai perkembangan dan pemikiran Islam liberal di Indonesia), Ahmad Wahib (perihal kegelisahannya dalam beragama), Masdar F Mas’udi (tentang tawaran wacana zakat-pajak), Taufik Adnan Amal (mengenai kodifikasi Alquran yang begitu kompleks), dan masih banyak lagi. 

Di masa akhir perkuliahan, ketertarikanku beralih pada kajian seputar perdamaian dan hubungan antar umat beragama. Dan aku harus sangat berterima kasih pada Mun’im Sirry atas ilmunya mengenai Islam, Sejarah Islam, dan hubungan Islam dengan agama lain, Kristen pada khususnya. Berkatnya,pemahamanku terhadap agama lain jauh berubah, dan bukan hanya atas dasar nilai-nilai empati-moril melainkan juga ditopang dengan argumentasi yang kuat. 

Karena menempatkan diri sebagai pribadi yang sedang berproses aku akan senantiasa membuka diri terhadap kemungkinan kebenaran, dari mana pun datangnya, oleh karenanya aku tak segan untuk membaca tulisan tokoh-tokoh yang dianggap merepresentasikan kubu kanan (eksklusif/fundamentalis) yang biasanya memiliki slogan anti selipis (sekuler-liberal-pluralisme). 

Aku membacanya dengan sikap apresatif, adil, dan sebisa mungkin tanpa tendensius, meski tetap menjunjung tinggi sikap kritis. Kalau boleh menyebut sebagian nama, aku mengonsumsi karya-karya dari Habib Rizieq (atas Indonesia bersyariahnya), Felix Siauw (pandangannya mengenai kekhilafahan dan problem anak muda), Fahmi Salim-Adian Husaini (mengenai penafsiran kaum liberal), para penulis HTI (mengenai kekhilafahan), Yazid bin Abdul Qadir Jawas (perihal fikih keseharian dan akidah), dan lain sebagainya. 

Dan belakangan, setelah lulus kuliah aku tertarik dengan dunia filsafat-tasawuf, atau yang biasanya disebut dengan tasawuf falsafi. Aku mendapat pencerahan yang banyak dari Haidar Bagir, Mulyadi Kartanegara, Nasaruddin Umar, Jalaluddin Rakhmat (meski beliau lebih membahas tasawuf akhlaqi). Aku merasa tasawuf falsafi ini merupakan ilmu tertinggi dalam ilmu keislaman, karena bahasannya yang sangat menyentuh aspek hakikat. 

Sembari membaca tema-tema di atas, aku pun mulai menyentuh kajian Islam Kiri (sosialis). Setidaknya wacana ini kembali dibangkitkan oleh Muhammad Fayyadl dan Roy Murtadho, meski aku pun belum terlalu banyak membaca tulisan mereka. Tetapi kedua tokoh ini yang berhasil membuatku akhirnya mulai tertarik membaca pemikiran para tokoh sosialis seperti Tan Malaka. 

Entah sampai kapan penelusuran ini berakhir. Sampai detik ini masih sangat mungkin bagiku mendapat atau mengejar ilmu baru yang akan menguatkan pandanganku saat ini. Tetapi yang tak kalah probabilitasnya ialah aku akan mendapat ilmu baru yang akan merevisi pandangan masa laluku. Ini semua sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari pencarian kebenaran.

sumber gambar: www.presidenr.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar