Titipan Ramadan

Masjid-masjid sudah dijejali anak-anak yang memekik takbir melalui pengeras suara. Tidak ada aktivitas tarawih, dan subuh nanti kita sudah tak perlu berjibaku melawan kantuk untuk santap sahur. Satu syawal sudah ditetapkan, besok, bertepatan dengan hari mulia: Jumat. Artinya Ramadan sudah pergi, menitipkan sesuatu pada kita, untuk kita jadikan perbekalan mengarungi sebelas bulan setelahnya, hingga bertemu lagi dengan Ramadan di tahun berikutnya, semoga demikian.

Saya kurang sepakat jika bulan puasa ini disebut sebagai pelajaran bagi orang banyak agar merasakan lapar yang menjadi karib para kaum papa setiap hari. Jika puasa mengajarkan kita rasa laparnya orang faqir dan miskin, maka pelajaran apa yang didapatkan mereka yang sudah kelaparan di setiap hari nya? Bukan, saya kira itu bukan pengajaran inti dari puasa. Meskipun hal itu pun tidak sepenuhnya salah.

Puasa adalah ibadah yang kita bisa temui di banyak agama, tidak hanya di agama Islam dan tidak hanya di agama semit yang boleh memonopoli ritus tidak makan dan minum seharian ini, Hindu, Budha bahkan aliran kepercayaan yang dianut nenek moyang kita pun punya. Kata puasa sendiri sudah lebih dulu ada di negeri ini sebelum pedagang Gujarat datang membawa ajaran shaum dari Nabi Muhammad saw.. Kebetulan antara kata shaum dan puasa saling sepadu padan pengertiannya, maka kini lebih populer kita menyebut shaum ini dengan kata puasa, meski puasa bukan berasal dari kamus besar bahasa Arab.

Puasa saya cocoklogikan berasal dari kata kuasa, ia bertujuan mengajarkan kita penguasaan diri, bahwa kita adalah  pihak yang diberi kuasa dari Sang Maha Kuasa untuk mengelola tubuh yang kita miliki, bukan  makanan satu-satunya hal yang menguatkan kita  dalam kehidupan sehari-hari ternyata, karena dua belas jam lebih tanpa sedikitpun makanan masuk, hasilnya tak sedikitpun juga mengurangi produktifitas kaum muslimin, bahkan semakin produktif  dalam beberapa hal, karena aktifitasnya tidak terpotong waktu makan.

Tidak hanya itu, puasa menurut sebagian kalangan berasal dari bahasa Sansekerta, upuwasa yang kurang lebih sama dengan arti kata shaum dalam bahasa Arab yang berarti menahan-mengendalikan. Maka puasa mengajarkan pada kita agar mampu mengendalikan diri dari dorongan yang sifatnya psikis.

Kita tentu tidak ingin selama berpuasa ini hanya mendapat lapar dan hausnya saja dikarenakan amal ibadah kita gugur oleh dosa-dosa yang begitu ringan kita lakukan, sebut saja menggunjing, memfitnah, menatap lawan jenis dengan syahwat dan semacamnya. Kita  tidak hanya diajarkan menguasai diri kita, tapi juga menjadi pengendali pikiran kita.

Tidak berhenti  di penguasaan diri dan pengendalian pikiran saja, kita diajak presisi oleh Ramadan, sebagaimana kita menjadi begitu perhatian terhadap waktu azan terutama subuh dan magrib, padahal pada hari biasa, perkara azan bisa jadi sangat kita abaikan, jangankan  waktu menit-permenitnya, sudah berkumandang pun kita acapkali lalai. Dalam kata lain, Ramadan mengajarkan kita suatu bentuk kehati-hatian.

Sebagaimana kita tidak mau ibadah kita batal kanya karena terus makan sahur beberapa detik setelah azan subuh, bahkan kearifan lokal kita sampai membuat waktu khusus yang kini kita kenal imsak, hal ini bertujuan agar kita sudah bersiap menghentikan aktifitas makan dan minum sepuluh menit sebelum azan berkumandang.

Itulah saya kira hal-hal yang dititipkan Ramadan pada kita, agar kita menjadi penguasa bagi tubuh kita, kita yang mengendalikannya, bukan lagi sebaliknya dimana justru tubuh kita yang mengendalikan kita dengan berbagai dalih, lemas, mengantuk, dan lain sebagaianya saat kita harus nya melakukan ibadah atau aktifitas lain. Ramadan menitipkan pada kita bahwa kita mampu mengendalikan pikiran kita, jika pada hari biasa kita menganggap remeh dosa-dosa yang dihasilkan lisan dan pikiran, maka sebaiknya, setelah Ramadan kita lebih hati-hati dalam berucap, lebih jernih dalam berfikir karena semua hal baik mesti berasal dari pikiran yang baik pula.

Dan terakhir  kita dapat titipan sebuah kehati-hatan yang seyogyanya kita jaga hingga Ramadan berikutnya, kehati-hatian dalam praktik ibadah maupun kehati-hatian dalam interaksi kita kepada sesama mahluk, baik manusia maupun alam yang kita tinggali ini.

Id Mubarak. Taqobalallahu minna wa minkum, semoga apa yang kita jerih payahkan selama Ramadan diterima sebagai kebaikan di sisi-Nya. Dan semoga kita bertemu Ramadan berikutnya.

sumber gambar: www.bismif.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar