Tahu Tidak Perbedaan dan Persamaan Kontras antara NU dan FPI?

 Hendrik Mulyana
 Beberapa waktu lalu banyak kalangan NU yang berselisih dengan FPI. Satu pihak tak jarang memberi label negatif kepada pihak lainnya. Bagi saya ini budaya yang kurang baik. Mengapa? Karena secara realita sosial, meski tidak semua, banyak warga NU kultural yang bergabung dengan FPI dan FPI pun secara akidah dan syariat (fikih) memiliki banyak kemiripan, kalau enggan berkata sama, dengan asas-asas yang dipegang NU. Oleh karenanya perlu ada upaya-upaya transformatif sehingga keduanya dapat lebih saling memahami satu sama lain. Dan artikel super sederhana ini mungkin dapat menjadi pengantarnya. 

Kita tahu bahwa FPI memiliki tiga semangat yang dijunjung tinggi; yang pertama adalah dakwah secara santun, kedua adalah amaf makruf nahi munkar, dan terakhir ialah jihad dengan keras. 

Sedangkan NU, dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni cangkang dan isinya. Yang pertama ditempat oleh kalangan NU modernis sedangkan yang kedua dihinggapi oleh NU tradisionalis. 

Apa perbedaan di antara mereka ini? NU modernis lebih terbuka pada gagasan atau ide-ide internasional/modern seperti kebebasan, persamaan, persaudaraan. Lalu dari cara menafsirkan Alquran pun ada yang terbuka dengan penafsiran hermeneutika atau kita lebih akrab menyebutnya dengan interpretasi alegori atau takwil, karena ada sebagian penulis yang menyatakan takwil dan hermeneutika itu ya itu-itu juga. 

Sebagai konsekuensinya, NU modernis ini sering menghasilkan sebuah produk tafsir yang reformis, maksudnya sebuah tafsir hasil pembaharuan dari tafsir klasik. Jika tafsir klasik kebanyakan hanya mengulang-ulang tafsir pendahulunya, tafsir reformis hendak menemukan makna terbaru dari Alquran. Inilah yang dipegang oleh kalangan NU modernis.  

Selain itu tafsir reformis ini memiliki sifat-sifat yang inklusif. Kita tahu kalau produk-produknya seperti pluralisme, sekulerisme, dan teman-temannya itu, sayangnya bertentangan dengan keyakinan FPI, ormas yang saya masukkan ke kategori NU tradisional (setidaknya secara kultural)  karena memang mereka menggunakan tafsir klasik. 

Sedangkan NU tradisionalnya sendiri saya melihatnya masih dipelihara oleh Emha Ainun Nadjib, atau yang biasa disapa Cak Nun (meski ia mengaku tidak berafiliasi dengan golongan mana pun). Di setiap aktivitas keagamaannya, akan selalu terlihat kental akan pemeliharaan muatan-muatan budaya lokal, khas kalangan NU tradisionalis. 

Beralih ke FPI, masyarakat kita saat ini memang memandang mereka sebagai ormas garis keras. Kalau ada diskusi yang dianggap “aneh” maka akan segera mereka bubarkan. Itu yang mengemuka di publik. Tetapi jangan salah, dan ini yang jarang terekspos, mereka juga melakukan aktivitas-aktivitas sosial tanpa memandang latar belakang. 

Mereka pernah memberi bantuan kepada para korban tsunami Aceh, membantu pemerintah membereskan-membungkus mayat-mayat yang tergeletak. Selain itu, mereka pun membangun pesantren-pesantren dan menyiapkan para dai agar lebih santun, tetapi juga keras dalam berjihad. Mereka juga memiliki program penanaman pohon, dan lain sebagainya. 

Kalau diibaratkan dengan pohon, NU dan FPI itu akarnya sudah menghujam ke tanah, pohonnya menjulang tinggi dan sudah berbuah pula yang manisnya bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Jadi tidak mungkin antara NU dan FPI ada keinginan untuk saling memberangus satu sama lain. 

NU bisa kita anggap sebagai pohon cemara atau kelapa, sedangkan FPI itu bagaikan pohon bambu. Keduanya memang harus tumbuh bukan untuk saling menebang.

Kita tahu bahwa FPI melakukan segala halnya berdasarkan keyakinan pada tafsirannya terhadap Alquran, begitu pun dengan NU, khususnya kalangan modernis. Bagaimana mereka akan bertengkar padahal sumbernya sama? Maka dari itu, keakraban interpretasi mutlak dianut oleh keduanya supaya tidak ada sikap untuk saling memberangus, alih-alih malah merangkul. 

Keakraban interpretasi itu harus segera dibangun di Indonesia secara luas dan masif dengan semangat “berlomba-lomba dalam kebaikan” yang dimplementasikan dalam praksis yang baik dan sportif.
Tak ada salahnya jika para elit NU dan FPI saling duduk satu meja, membahas hal-hal yang mereka perselisihkan. Itu lebih mendidik masyarakat kita. Daripada saling klaim dan menuduh. 

sumber gambar: www.portal-islam.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar