Ramadan Sudah Setengahnya. Sudah Melakukan Ini?

Seorang pria berjalan setengah berlari menghampiri Nabi yang sedang duduk, di kepalanya sudah sedia setumpuk pertanyaan yang hendak ia mintai fatwanya pada sang khatam-al-anbiya

Belum juga sempurna duduknya di hadapan Nabi, ia sudah dihentikan dengan pertanyaan yang mendahului. “Engkau datang hendak meminta fatwa?” Tanya Nabi. Iya, jawab pemuda itu. “Istafti qalbak! (minta lah fatwa pada hatimu)!” Ucapan itu seraya mengandaskan keinginan pemuda itu untuk bertanya. 

Sejatinya hati kita adalah barometer paling murni untuk mengetahui sesuatu itu salah atau tidak jika kita lakukan, baik atau tidak jika kita kerjakan, hati kita biasanya sudah memberi isyarat pada diri kita, karena hati tempat bersemayamnya rasa, bersumber dari kesejatian dari segala hidup. 

Hadis di atas biasanya dijelaskan dengan keterangan lain, bahwa ukuran sesuatu itu buruk atau tidak sejatinya bisa kita periksa pada diri sendiri. Ada tiga ciri perbuatan itu terindikasi dosa, pertama kita tidak ingin orang melihat kita melakukan hal tersebut; kedua, hati kita tidak tenang saat melakukannya; dan terakhir kita kerap teringat dan menyesal setelah melakukannya.

Maka di Bulan Ramadan yang sudah habis setengahnya ini, mari kita luangkan waktu untuk bertanya pada hati kita, sejenak kita tinggalkan dulu pencitraan kebaikan kita di mata orang lain, sebentar kita tunda dulu menyeramahi orang lain dengan berbagai dalih. Mungkin juga kita harus tutup sebentar buku-buku bacaan dan mengistirahatkan sesaat pekerjaan-pekerjaan. Barang setengah jam atau lebih sedikit, mari kita bicara dengan hati kita. Sudah dapat apa dari Ramadan yang tinggal setengahnya ini? berapa keburukan yang sudah hangus di bulan pembakaran amal buruk ini? Sudah kebaikan apa yang kita istoqomahi dan siap kita lakukan terus di bulan-bulan berikutnya setelah bulan penuh hidayah ini?

Atau kita hanya jadi pasukan pawai Ramadan yang hanya menghabiskan bulan spesial ini dengan euforia-euforianya saja. Sangat disayangkan, padahal di bulan ini seolah sangat sah jika seseorang ingin berubah jadi lebih baik, di bulan ini seperti memang disediakan kemudahan bagi orang yang hendak memulai langkah baru. Alangkah beratnya kita menyudahi kebiasaan buruk atau memulai kebaikan di bulan lain, meski tidak mustahil, tapi agaknya lebih ringan saja jika Ramadan yang kita jadikan momen revolusi tersebut. 

Maka sekali lagi, mari kita luangkan waktu, bertanya pada hati masing-masing, sudah dapat apa di bulan suci ini? Bukan perubahan yang selalu harus nampak di mata orang lain, karena bukan penilaian dari orang lain yang kita butuhkan, tapi kebaikan yang kita insafi, kita lakukan dan kita syukuri nikmat dari kebaikan tersebut. 

Sayang jika kita hanya dapat kesenangan buka bersama beserta timun suri bercampur sirup berpemanis buatan saja. Sedangkan di saat yang sama kita melewatkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengecap manisnya kebaikan. 

Begitulah tulisan ini tidak akan terlalu panjang apalagi mengabsen deretan kebaikan yang harus dilakukan di bulan Ramadan. Beginilah tulisan ini akan menggantung sampai sini karena sisanya silahkan baca apa yang tersirat dalam hati masing-masing!

sumber gambar: www.vecteezy.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar