Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 18)




Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

Cita-Cita Lembaga-Lembaga Syiah
Supaya dapat memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai sifat dasar dan identitas lembaga-lembaga Syiah, patut untuk memeriksa cita-cita tertulis yang membentuk basis filosofis dan program-program mereka meskipun hal ini mungkin tidak selalu sepenuhnya dipraktikkan. Dengan pengecualian pada IPABI (Ikatan Pemuda Ahlul Bait Indonesia), nama-nama yayasan tidak pernah memasukkan secara eksplisit istilah atau frase yang mengindikasikan kalau mereka adalah Syiah. 

Kita perlu melihatnya lebih dekat, nama-nama tersebut acapkali menampakkan keterhubungan dengan Syiah. Sebagai contoh lembaga-lembaga seperti Al-Jawad, Al-Muntazar, Al-Mahdi, Al-Mujtaba, Al-Hadi, dan Al-Kazim, semuanya merupakan nama-nama Imam Syiah. 

Selain itu, beberapa yayasan menggunakan nama-nama dari tokoh terkemuka Syiah, seperti Mulla Sadra atau Mutahhari, sedangkan yang lainnya mengunakan istilah yang berhubungan dekat dengann tradisi Syiah seperti Yayasan Babul Ilmi yang merupakan frase yang digunakan untuk merujuk pada sosok Ali bin Abi Thalib, Imam pertama Syiah. Betapapun, nama-nama lembaga seperti ICC Al-Huda Jakarta atau LSII (Lembaga Studi dan Informasi Islam) di Makassar tidak memberi petunjuk mengenai kesyiahan mereka.
Dalam hal ini, Yayasan Muthahhari merupakan satu institusi Syiah yang memberi kita alasan untuk menggunakan nama tertentu. Mengingat kenyataannya bahwa Muthahhari merupakan sebuah nama dari seorang cendekiawan Syiah Iran, membuat banyak orang mengindentifikasikan yayasan ini sebagai yayasan Syiah. 

Dalam brosur publikasinya, para pendiri lembaganya menjelaskan pemilihan nama tersebut memliki makna filosofis yang berhubungan dengan tujuan organisasi tersebut dan realitas sejarah saat ini di mana kaum muslim sedang menghadapi perlbagai persoalan. 

Mereka menjelaskan pendirian yayasan tersebut sebagai sebuah upaya untuk menunjuk salah satu persoalan paling fundamental yakni tiadanya ulama yang dapat memimpin dan menyatukan beragam golongan masyarakat muslim. Mereka melihat persoalan ini memiliki akarnya dari pendikotomian di dalam pemahaman ilmu agama dan ilmu sekuler di dunia muslim, termasuk Indonesia. 

Di satu sisi ada ulama tradisional yang menguasai beragam ilmu keislaman tetapi cukup lemah mengenai pengetahuan-pengetahuan kontemporer. Pendekatan mereka terhadap penyelesaian masalah akhirnya menjadi tak relevan. 

Sedangkan di sisi lain, ada cendekiawan muslim yang memilki spirit keislaman yang kuat dan memahami informasi kontemporer yang sayangnya mengabaikan ilmu keislaman. Penyelesaian masalah yang mereka lakukan akhirnya bersifat superfisial (dangkal). Keinginan untuk menjembatani keterbelahan ini merupakan alasan dibalik pendirian Yayasan Muthahhari.

Ayatullah Murtada Mutahhari adalah seorang ulama reformis Syiah dan profesor di Universitas Tehran yang setelah peristiwa revolusi Iran menjadi anggota dewan revolusionernya. Dia terbunuh pada tanggal 2 Mei 1979. Para pendiri Yayasan Muthahhari memandang Ayatullah ini sebagai seorang intelektual-ulama abad ke-20 yang juga merupakan role model bagi seluruh cendekiawan Islam. Di dalam dirinyalah terkumpul tiga buah paket kesempurnaan: cakap dalam ranah ilmu keislaman, paham dalam ilmu-ilmu umum, dan memiliki fokus dalam aktivitas kesosialan. 

Pemikirannya, yang terdapat di dalam lebih dari 50 buku yang semua aspeknya relevan terhadap kebutuhan umat muslim (eksistensi manusia individu, masyarakat, sejarah, alam, dan sejarah) dianggap merupakan rencana untuk mendirikan sebuah peradaban Islam dan memelihara cara pandang islami. 

Selanjutnya, di mata para pendiri yayasan, Mutahhari merupakan seorang ulama yang terbuka dan moderat yang mempromosikan kebebasan berpikir dan kepercayaan keagamaan yang bebas dari sekterianisme. Akhirnya, cendekiawan ini dikenal juga karena perilaku moralnya yang patut dicontoh. Jalaluddin Rakhmat menulis, “dari Mutahhari kami memperlajari tiga hal: pertemuan antara pengetahuan Islam tradisional dengan ilmu modern, keterbukaan, dan kombinasi antara intelektualisme dengan aktivisme.” Dari sini makna kompleks yang disimbolkan dari nama Muthahhari juga mengkarakteristikkan beragam peran dari lembaga tersebut, program-program dan aktivitas-aktivitasnya. 

Sebagai lembaga yang sah di Indonesia, yayasan-yayasan Syiah memiliki beragam cita-cita perihal tujuan, visi, dan misi. Basis filosofis mereka mendukung sifat dasar dan orientasi misinya (penyebaran agama/mazhab). Berikut perbandingan cita-cita dari empat buah yayasan terbesar di Indonesia: Yayasan Muthahhari dan Al-Jawad di Bandung, Yayasan Fatimah dan ICC Al-Huda di Jakarta. 

Al-Jawad didirikan “untuk mempraktikkan ajaran ahlul bait di dalam kehidupan sehari-hari baik secara individu maupun kolektif, juga untuk mengembangkan dan menyebarkan ajaran tersebut ke masyarakat luas.” Homepage dari website Yayasan Al-Jawad memiliki slogan “penyampai pesan suci Islam” dan mengenalkan bagaimana yayasan tersebut didirikan untuk mengorganisir kegiatan yang diarahkan pada pencapaian cita-citanya: pertama, kreasi keterampilan―intelektual, sosial, spiritual, dan profesional―di kalangan anggota dalam berdakwah mengenai ajaran-ajaran ahlul bait; kedua, membuat media untuk menyebarkan ajaran ahlul bait kepada komunitas luas, dan ketiga pengumpulan sumber ekonomi untuk menopang aktivitas dakwah. 

Yayasan Fatimah memliki tujuan esensial yang sama dengan Al-Jawad tetapi tujuan mereka diformulasikan dengan cara yang berbeda, “tujuan Yayasan Fatimah untuk menciptakan yayasan tersebut sebagai cara/alat bagi umatnya untuk mengembangkan ajaran ahlul bait.” Yayasan Fatimah mengadopsi slogan “menembus cakrawala beragama” dan memiliki misi untuk menjadi “seorang hamba [pelayan]” dari pengikut Nabi Muhammad dan ahlul bait. Fatimah melihat aktivitas dakwahnya sebagai sebuah kebutuhan agar umat muslim Indonesia dapat menerima ajaran (Syiah) dan mengikutinya dalam kehidupan sehari-hari. 

Yayasan Fatimah memformulasikan visinya pada lima macam tanggung jawab: tanggung jawab pada Allah, pada Nabi Muhammad dan ahlul baitnya, pada semua penganut Syiah dan pada semua anggota yayasan. Yang kelima dinyatakan, “kami bertanggung jawab untuk membuat yayasan ini kepada siapa saja yang sedang mencari kebenaran.” Kelimanya dengan jelas menunjukkan bahwa Yayasan Fatimah didirikan untuk menyebarkan Syiah di Indonesia. 

Cita-cita dari kedua yayasan tersebut terbatas, sebatas untuk menyebarkan ajaran-ajaran Syiah. Kata “Syiah” tidak hadir dalam pernyataan mereka karena alasan yang logis sebab istilah tersebut umumnya memiliki konotasi yang negatif di kalangan Sunni, khususnya Sunni Indonesia. Kata “ahlul bait” atau “keluarga nabi” lebih umum digunakan karena kata ini diterima di kedua mazhab ini (Sunni dan Syiah). 

Yayasan Al-Jawad dan Fatimah menekankan istilah “ajaran ahlul bait”, berbeda dengan cita-cita Yayasan Muthahhari dan ICC Al-Huda di mana kata tersebut sulit ditemukan. Mengenai hal ini ada dua poin penting yang dapat kita duga: pertama, cita-cita Yayasan Al-Jawad dan Fatimah diarahkan pada penyebaran Syiah ke masyarakat luas sedangkan cita-cita Muthahhari dan ICC Al-Huda tidak terbatas semata-mata pada Islam versi Syiah. Kedua, dua yayasan yang pertama mau menerapkan strategi keterbukaan dan tidak mempraktikkan taqiyyah, sedangkan dua yayasan yang lain, sebagaimana yang akan ditunjukkan di bawah, cenderung mempraktikkan taqiyyah. 

Yayasan Muthahhari, dengan slogannya “untuk pencerahan pemikiran Islam” didirikan untuk mengorganisir program-program dalam ranah dakwah, pendidikan, dan peradaban Islam untuk kepentingan masyarakat Indonesia secara luas. Sebagaimana yang tertera dalam brosurnya, tujuan umum yayasan ini adalah:

1.      Untuk menerima pengajaran bagi perkembangan dan penyebaran pemikiran Islam dari seorang intelektual terpelajar yang memiliki kualifikasi untuk merumuskan alternatif Islam dalam menyelesaikan permasalahan kontemporer
2.      Untuk menciptakan sebuah sarana pengembangan sikap-sikap ilmiah (pemahaman yang mendalam atas ilmu modern, berwawasan luas, moderat, dan toleran)
3.      Untuk berkontribusi merumuskan pandangan keislaman dan rencana sosial bagi masa depan peradaban Islam
4.      Untuk berpartisipasi menciptakan ulama intelektual dan intelektual ulama dengan menggunakan sistem pendidikan alternatif dalam ranah ilmu pengetahuan keislaman dan ilmu-ilmu relevan lainnya
5.      Untuk berkontribusi mendirikan persatuan dan persaudaraan umat muslim yang terbebas dari sikap sekterian. 

Bertujuan mengimplementasikan sebuah program dakwah dalam pengertian terluasnya, ICC Al-Huda telah merumuskan visi yang lebih umum “untuk menyadarkan masyarakat Islam dengan pencerahan spiritual dan intelektual berdasarkan pada integritas yang tinggi.” Cita-cita lengkapnya ialah:

1.      Untuk merekonstruksi dan mempromosikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat
2.      Untuk merekonstruksi budaya Islam dengan nilai-nilai spiritual
3.      Untuk mendeskripsikan dan merekonstruksi pemahaman keislaman menurut Alquran dan hadis
4.      Untuk memotivasi kecintaan pada Allah, rasul-Nya, keluarga nabi, dan seluruh umat manusia
5.      Untuk menanamkan benih akhlaqul karimah dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Cita-cita Muthahhari dan ICC Al-Huda menyebarkan konsep-konsep seperti promosi “nilai-nilai slam”, “peradaban Islam”, dan “budaya Islam”. Meskipun keduanya menggunakan istilah “Islam” dalam pengertian yang lebih luas dibanding penggunaan kata “Syiah”, penekanan mereka adalah berbeda. Sebagai contoh, ICC Al-Huda menekankan pentingnya persaudaraan dan persatuan umat muslim. Sebagaimana namanya, Al-Huda berfokus pada ranah kebudayaan sedangkan Muthahhari secara spesifik berkonsentrasi pada pendidikan dan memproduksi seorang intelektual. Dibandingkan dengan cita-cita Al-Jawad dan Fatima, Yayasan Muthahhari dan ICC Al-Huda lebih luas, meskipun keempatnya memiliki karakteristik dakwah dan penyadaran pada masyarakat muslim.

Poin penting mengenai cita-cita dari keempat yayasan Syiah ini ialah lemahnya ketertarikan mereka pada ranah politik. Ada sedikit aspek politik yang terdapat di poin keenam pada cita-cita dakwah ICC Al-Huda yang menekankan pada pentingnya [menegakkan] nilai-nilai moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Kenyataan sikap tujuan mereka menjadi lebih terlihat penting karena Syiah sendiri tidak membedakan antara agama dengan politik. [Tetapi] terlihat dari cita-citanya, yayasan-yayasan Syiah ini hanya berfokus pada agama, pendidikan, budaya, ranah-ranah yang dianggap tepat untuk menyebarkan ajaran-ajaran Syiah dan penyadaran masyarakat Islam Indonesia. Cita-cita yang tertulis tersebut terkesan bahwa mereka tidak akan terlibat dalam politik praktis, meskipun pada kenyataannya, pemimpin-pemimpin dan anggota mereka boleh terlibat dalam politik. Hal ini mengilustrasikan kenyataan bahwa cita-cita tersebut masih berupa cita-cita, dan apakah itu akan menjadi kenyataan atau tidak masihlah harus dilihat.  

sumber gambar: www.mmm-sebi.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar