Perempuan Penyemai Damai

Sella Rachmawati
Sabtu lalu, penulis berkesempatan mengikuti workshop yang diadakan oleh Peace Generation, Perempuan Bicara Perdamaian dengan tema Literasi Media Digital untuk Perdamaian di daerah Buah Batu, Bandung. Setelah melakukan kegiatan tersebut, peserta diharapkan mampu berkontribusi secara aktif sebagai agen perdamaian.

Menurut survey Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia tahun 2017, 54% dari 262 Juta penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Hampir setengahnya adalah perempuan, yaitu sebesar 48,54 %. Perempuan lebih mementingkan perasaan daripada logikanya.
Terbayang jika perempuan pengguna internet khususnya dalam media digital seluruhnya menyampaikan pesan damai dan cinta kasih. Betapa indahnya dunia internet kita. Sayangnya, banyak di antara kita, khususnya perempuan, begitu mudah termakan oleh berita bernada negatif, menyebarkannya kembali, atau sampai kepada membuat konten negatif.

Menurut sumber yang sama, lebih dari 80% pengguna internet lebih sering mengakses sosial media mulai dari Facebook, Twitter, Instagram dan lain sebagainya, dan hanya sekitar 58% yang mengakses berita. Hal ini menandakan bahwa sosial media sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia di era digital ini, apalagi pengguna internet paling besar di Indonesia berada di rentang usia 19-34 tahun, tentu usia itu adalah usia produktif.

Sebagai perempuan, terkadang penulis juga merasakan greget bahkan terkadang ikut berkomentar kepada konten-konten yang bernada negatif. Tapi, setelah mengikuti workshop ini, penulis jadi berpikir jauh untuk memutuskan apakah konten tersebut layak di share kembali atau tidak.
Kebanyakan netizen bahkan dengan mudah untuk menggerakkan jempolnya untuk meng-klik reshare atau repost tanpa memikirkan kebenaran konten tersebut. Apakah kalian termasuk netizen yang demikian? Jika tidak, berarti anda adalah orang yang berpikir panjang. Jika ya, mari perhatikan hal-hal di bawah ini agar kita menjadi peace netizen.

Rumus pertama, adalah TULaLiT. T pertama adalah tahan informasi, maksudnya jangan langsung share informasi yang kita dapat, tahan informasi, tahan diri kita sendiri untuk –men-sharenya. U maksudnya adalah upayakan konfirmasi, cek kebenaran informasi yang kita terima dengan konfirmasi kepada si pembuat atau si pemberi berita.

La maksudnya adalah lakukan analisa cari informasi pembanding, kemudian lihat informasi yang dibagikan apakah bermanfaat atau tidak. Li maksudnya adalah lihat dampak, kita harus memperhitungkan dan memprediksi apa yang terjadi jika informasi tersebut disebarkan. T yang terakhir adalah tindakan apa yang akan kita ambil setelah mengetahui dampak dari informasi tersebut apakah layak atau tidak kita bagikan.

Rumus kedua, analisa berita dengan SABI. S, siapa yang membuat berita tersebut? A, Apa yang menjadi tujuan dibuatnya berita? Apakah ada kepentingan? B, bagaimana berita ini dibuat? Apakah meniru berita orang lain? Apakah ada sumber pastinya? I, Informasi apa yang disampaikan.

Setelah mengetahui jawaban dari rumus yang kedua. Setidaknya kalian akan tahu berita atau informasi tersebut layak atau tidak untuk di share kembali bukan?

Belum selesai di rumus kedua untuk menjadi peace netizen. Setelah mengetahui bahwa informasi/berita itu akurat, ternyata belum tentu bisa disebar begitu saja. Ada rumus ketiga, yaitu 3C. C  yang pertama adalah Content Risk, maksudnya risiko dari informasi yang kontennya berpotensi menyinggung atau menyakiti orang lain, termasuk konten kekerasan, pornografi, rasis atau ujaran kebencian.

C yang kedua adalah Contact Risk, maksudnya risiko dari informasi yang bisa memancing orang terlibat untuk mempermalukan, melecehkan, melakukan cyberbullying, mengintimidasi dan menyerang seseorang atau sekelompok orang.

C yang ketiga adalah Cunduct Risk yaitu resiko dari menyebarkan informasi bohong atau informasi yang bisa menyesatkan orang. Contohnya situs iklan yang mengarah pada perjudian online, hacking, situs pornografi, dll.

Setelah mengetahui ketiga rumus di atas, kita diharapkan mampu memilah-milah konten berita atau informasi yang baik dan tidak lagi dengan mudah me-repost atau reshare berita/informasi sembarangan.

Walaupun agak ribet dan membutuhkan waktu lama, tapi kita bisa menolong netizen-netizen lain untuk tidak termakan dengan berita/informsi yang tidak bermanfaat bukan? Apalagi sebagai perempuan, kita juga berpengaruh dalam pengguna internet. Menjadi perempuan itu takdir, menjadi perempuan agen perdamaian adalah pilihan. Mulai dengan menggunakan internet dengan bijak. Mari menjadi peace netizen, wisdom netizen. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar